Rabu, 16 Februari 2011

Manusia & Persoalan Makna

Menurut Frankl (Dalam Koeswara,1992), selain manusia tidak ada makhluk yang diharu-birukan oleh persoalan makna dan keberadaannya. Setiap manusia, tidak peduli siapapun dan sebagai apapun dia, pada satu titik pasti akan mempertanyakan apa arti dan makna dari hidup yang dijalaninya. Pencarian akan makna inilah yang menjadi pusat dari dinamika kepribadian manusia. Keinginan akan arti atau makna dalam hidup ini merupakan kekuatan motivasional yang mendasar dalam diri manusia.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai makna keberadaan manusia merupakan pertanyaan yang abadi dan aktual, karena selalu muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan diketemukan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda (Sastrapartedja, 1993). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut lahir dari kesenjangan antara kesadaran manusia akan keterbatasan dan temporalitas kehidupannya dengan harapan atau kebutuhannya akan pemenuhan akhir yang definitif dari keberadaan diri di dalam dunia.
Sejumlah penelitian di negara maju menunjukkan bahwa hasrat untuk hidup bermakna benar-benar ada dan dihayati setiap orang sebagai sesuatu yang dirasakan penting dalam kehidupan manusia (Bastaman, 1996). Sebagai contoh suatu hasil pengumpulan pendapat umum di Prancis menunjukkan 89 % responden percaya bahwa manusia membutuhkan ”sesuatu” demi hidupnya, sedangkan 61 % diantaranya merasa ada sesuatu yang untuknya mereka rela mati (Koeswara, 1992).
Pengertian Kebermaknaan Hidup
Kebermaknaan hidup adalah cara seseorang mengisi kehidupannya dan memberikan gambaran menyeluruh yang menunjukkan arah dan cara manusia berhubungan dengan dirinya sendiri, orang lain, dan alam sekitarnya atas dasar rasa kecintaan terhadap Sang Ilahi (Tasmara, 2001).
Eksistensi manusia adalah proses pemberian makna. Hal ini sesuai dengan hakikat kesadaran manusia itu sendiri sebagai intensionalitas. Intensionalitas berarti bahwa dunia manusia bukanlah dunia objektif, melainkan dunia hasil pemaknaan (kesadaran) manusia yang selalu mengarah ke luar dirinya (trasendensi). Manusia tidak bersifat imanen (terkurung dalam dirinya sendiri). Namun berkat trasendensinya itulah manusia menjadi manusia. Manusia tidak pernah puas dengan lingkungan yang sudah ada yang diberikan alam pada dirinya. Realitas yang semula objektif, lalu diberi makna subjektif sesuai dengan kebutuhannya. Realitas yang semula liar dan tak terkendali menjadi dunia yang bisa dijinakkan dan dikendalikan. Realitas yang semula mungkin menyakitkan dan tidak menyenangkan, diupayakan untuk menjadi dunia yang menyehatkan dan menyenangkan (Abidin, 2007).
Frankl (dalam Abidin, 2007) mengatakan meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Hal ini di ucapkan Frankl sebagai penegasannya mengenai arti kehidupan. Meskipun tidak mungkin untuk bekerja dan mengisi kehidupan, serta meskipun tidak mungkin dapat menikmati keindahan alam semesta, sesungguhnya masih tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia. Yaitu tugas untuk memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga diri . Hal ini diungkapkan Frankl berdasarkan pengalaman penderitaan yang dialaminya selama tiga tahun di kamp Tahanan. (dalam Abidin, 2007).
Penderitaan Frankl selama tiga tahun menjadi tawanan Yahudi di Auschwitz dan beberapa kamp konsentrasi Nazi lainnya adalah kehidupan yang mengerikan, karena setiap saat Frankl berhadapan dengan ancaman pembunuhan yang dilakukan secara kejam (dalam Abidin, 2007). Frankl menggabungkan wawasan agama-agama dan filsafat-filsafat lama yang dimilikinya selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan pribadinya selama tiga tahun yang kelam di kamp konsentrasi. Sampai pada akhirnya, Frankl mengungkapkannya dalam bahasa yang bisa dipahami manusia abad kedua puluh dan menulis berbagai buku tentang makna hidup, yang selanjutnya dikembangkan ke dalam aliran psikologi modern yang dinamakan Logoterapi.
Frankl mengungkapkan bahwa selama individu mempunyai makna hidup, maka setiap individu akan tetap merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang memuaskan. Dengan asumsi ini, Frankl berpendapat bahwa kekuatan yang paling utama untuk menggerakkan kepribadian manusia terletak dari sejauh mana keinginannya untuk memberi makna hidup (the will to meaning). (Dalam Tasmara, 2001)
Kebermaknaan hidup merupakan sebuah motivasi yang kuat dan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berguna, sedangkan hidup yang berguna adalah hidup yang terus menerus memberi makna baik pada diri sendiri maupun orang lain. Adanya harapan dan kemauan pada saat menghadapi penderitaan, serta perasaan puas dalam kehidupan karena merasa telah sampai pada akhir hayat, merasa telah cukup bekerja dan menderita serta telah menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Hal inilah merupakan suatu proses pencapaian makna hidup (dalam Koeswara, 1992).
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan hidup adalah sebagai hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan
nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila berhasil terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). “

Seiring dengan definisi tersebut Abidin (dalam Huda, 2008, http://ahudha.wordpress.com) mengungkapkan bahwa kebermaknaan hidup merupakan proses menjalani hidup yang dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu, sedang yang menjadi motivasi utama dari manusia itu sendiri adalah untuk menemukan tujuan hidup tersebut.

Zainurrofikoh dan Hadjam (2001) juga menyatakan bahwa kebermaknaan hidup adalah penghayatan individu terhadap hal-hal yang dianggap penting, dirasa berharga, diyakini kebenarannya dan memberikan nilai khusus serta dapat dijadikan tujuan dalam hidupnya, ditinjau dari sudut pandang diri sendiri.

Dari beberapa pendapat diatas, dalam memberikan pengertian tentang kebermaknaan hidup, penulis lebih bersandar pada teori Victor E. Frankl. Hal ini penulis lakukan dengan pertimbangan :
1. Sesuai realitas kehidupan manusia ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan sekalipun, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Ajaran Frankl ini mampu memberikan motivasi bahwa kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi.
2. Sejalan dengan dunia manusia abad ke-20 yang merupakan abad dimana manusia dihadapkan pada kecemasan-kecemasan eksistensial, yaitu masyarakat yang mengalami dehumanisasi, kebosanan, kekosongan, dan kehilangan arah. Ajaran Frankl mampu menjawab problematika masyarakat tersebut, mudah untuk dipahami dan implementatif dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi
,
dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah merupakan derajat kualitas penghayatan individu terhadap keberadaan dirinya, memuat hal-hal yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang benar dan dapat memberikan arti khusus yang menjadi tujuan hidup seseorang dan apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan hidup berarti dan berharga serta menimbulkan perasaan bahagia yang dapat diperoleh pada saat bahagia maupun menderita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut