Selasa, 22 Maret 2011

Mengkorelasikan Teori Leadership dengan Sifat Kenabian


Hampir semua teori kepemimpinan ada pada Nabi Muhammad saw. Bukannya mau berapologi. Tetapi memang demikianlah adanya. Berbagai teori-teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh para guru leadership di abad ke-20 M, dalam banyak hal ditemukan pada pribadi dan kepemimpinan Rasulullah saw.
Salah satu teori dikemukakan oleh Kets de Vries (dalam Muhammad saw., The Super Leader Super Manager, Syafii Antonio, hlm. 19) yang menyimpulkan dari penelitian klinisnya terhadap para pemimpin bahwa sebanyak persentase tertentu dari para pemimpin itu mengembangkan kepemimpinan mereka karena dipengaruhi oleh trauma pada masa kecil mereka.
Nabi saw. mengalami masa-masa sulit di waktu kecilnya. Di usia dini, beliau sudah menjadi yatim piatu. Pada kanak-kanak itu pula beliau harus menggembala ternak penduduk Makkah. Di awal usia remaja, beliau sudah mulai belajar berdagang dengan mengikuti pamannya Abu Thalib di kawasan Jazirah Arab.
Beberapa teori kepemimpinan lainnya juga dapat ditemukan pada diri Nabi saw. Misalnya, empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling).


Tabel The 4 Roles of Leadership Stephen R. Covey
No
Role/Fungsi
Sifat dasar Pemimpin
Sebagian contoh dari Rasulullah saw.
1
Perintis (pathfinding)


Memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, rumusan visi, misi, & nilai yang dianut serta strategi agar sampai pada tujuan
Merintis suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan, rule of law, dsb.
2
Penyelaras (aligning)
Menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi agar mampu bekerja dan saling sinergis
Ketika para sahabat menolak perjanjian Hudaibiyah, beliau tetap bersikukuh. Terbukti pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik menguntungkan kaum Muslim.
3
Pemberdayaan (empowering)
Memahami sifat tugas yang diemban & mendelegasikan tanggung jawab. Siapa mengerjakan apa; apa alasannya; bagaimana caranya; sumber daya apa saja yang diperlukan dan bagaimana akuntabilitasnya.

Dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri. Beliau mengangkat pejabat/hakim berdasarkan kompetensi dan good track record
4
Panutan (modeling)
Pemimpin dapat menjadi panutan dan bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya.

Beliau sangat dermawan sebelum mengatakan,”Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.”
Sumber: Muhammad saw., The Super Leader Super Manager, Syafii Antonio, hlm. 20

Di luar itu, masih banyak bukti-bukti kepemimpinan yang baik -sebagaimana yang dikemukakan oleh para guru kepemimpinan dan manajemen modern lainnya- terdapat pada diri Muhammad saw. Tentu saja kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. tidak harus menunggu pembenaran dari teori-teori kepemimpinan dan manajemen modern. Karena apa yang beliau contohkan telah terbukti berhasil.(oq)

ANAK KITA ADALAH WADAH

By Masruri


      Ada seorang teman lulusan sarjana pertanian Universitas Brawijaya malang.  Saat dia mendapat ijazah dia segera menyerahkan kepada orang tuanya. Dan dia mengatakan bahwa tugasnya untuk sekolah di pertanian sudah selesai. Diapun kemudian bekerja dengan profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan bidang pertanian. Dia juga tidak pernah menggunakan ijazah sarjana pertaniannya itu untuk bekerja. Rupanya teman saya ini kuliah hingga menjadi sarjana pertanian bukan karena keinginan dan cita-citanya. Tapi atas keinginan dan paksaan dari orang tuanya. Sebagai anak yang baik diapun menuruti keinginan orang tuanya walaupun dengan berat hati.
     Kejadian lain yang serupa sering kita jumpai saat anak SMA harus memilih jurusan IPA atau IPS. Banyak orang tua beranggapan bahwa kalau anaknya masuk ke jurusan IPS berarti anaknya bodoh dan masa depanya kurang cerah. Padahal dalam kehidupan sehari -  hari  banyak dijumpai sarjana dari bidang sosial yang sukses dalam karirnya. Dan tidak sedikit sarjana dari bidang eksakta yang gagal dalam karirnya.
     Fenomena di atas menunjukkan bahwa banyak orang tua yang tidak memahami tentang anak-anak mereka. Pemahaman bahwa sesungguhnya anak-anak kita ibarat sebuah wadah. Wadah yang berbeda volume dan  bentuknya. Volume dari wadah,  menggambarkan kapasitas dan potensinya. Bentuk dari wadah, merupakan gambaran kecenderungan dan bakatnya. Walaupun  mereka dilahirkan dari bapak ibu yang sama.  Masing-masing mereka adalah uniq. Uniq dari sisi kapasitas maupun kecenderungannya. Saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang memiliki 3 anak. Anak yang pertama menjadi dokter spesialis. Anak yang kedua menjadi seniman dan yang terakhir menjadi wiraswasta.  Dan ada keluarga lain yang mempunyai 2 anak Yang pertama selalu juara kelas. Sementara adiknya masuk kelas remidial di sekolahnya.
     Kita tidak bisa memungkiri bahwa anak ibarat wadah yang berbeda volume dan bentuknya adalah sebuah realita. Yang terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah begaimana menyikapinya. Ada dua hal yang harus diingat agar sikap kita benar ketika menjumpai  realita ini.  Pertama: ingat bahwa keadaan anak kita bukanlah pilihan mereka. Jika anak kita boleh memilih antara memiliki IQ tinggi atau rendah tentu mereka akan memilih IQ tinggi. Kedua: ingat bahwa anak kita adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang maha Rahman. Sebagai anugerah, wajib bagi kita mensyukurinya apapun keadaan  mereka. Sebagai amanah maka wajib bagi kita menunaikan amanah itu sebaik-baiknya. 

Tutupnya adalah Doa
     Banyak orang tua yang kurang bisa menerima realita  wadah anak-anak mereka. Sehingga anak yang menjadi korban dari cita-cita orang tuanya yang tidak tercapai. Atau menjadi korban obsesi yang terlalu berlebihan dari orang tuanya. Padahal kapasitas anaknya tidak cukup dan kecenderungannya tidak sesuai. Jika anda melakukan ini maka anda akan menjumpai anak-anak yang tidak bahagia menjalani pekerjaannya walau kedudukan atau pangkatnya seolah terhormat.  Atau anak anda akan kehilangan waktu dan tenaga selama bertahun-tahun demi menyenangkan hati anda seperti cerita di awal tulisan ini.
     Jika kita memahami bahwa anak-anak kita adalah wadah-wadah yang berbeda. Akankah terucap dari mulut kita : ”Kamu ini kok gak pintar seperti kakakmu yang selalu juara kelas ”.  Atau akankah kita memaksa anak kita dengan mengatakan: ”Pokoknya kamu harus kuliah di kedokteran kalau tidak mama gak mau membiayai kuliahmu ”.
Kewajiban kita sebagai orang tua adalah mengisi wadah-wadah yang berbeda besar dan bentuknya itu hingga penuh kemudian menutupnya  dengan doa-doa kita dan nilai-nilai kesalehan agar kelak anak kita menjadi orang yang berbahagia. Bahagia bukan hanya untuk dirinya  tapi juga untuk orang lain.{}

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut