Rabu, 16 Februari 2011

Karena Iman Mempunyai Bukti

By Oki Aryono


”Iman itu bukan sekadar angan-angan atau hiasan, tetapi iman itu adalah sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan” (Al-Hasan Al-Bashri, riwayat Ibnu Abi Syaibah).
Atsar (ungkapan) indah yang dilontarkan salah satu tokoh dari kalangan tabi’in (para pengikut sahabat Nabi saw.) menyadarkan kita akan satu hal: bukti keimanan. Iman akan meninggalkan jejak yaitu sikap & perbuatan. Sangat banyak bukti-bukti iman yang dalam bahasa hadits disebut cabang iman. Nabi saw. bersabda, ”Iman itu terdiri dari 70 cabang lebih (riwayat lain: 60 cabang lebih). Cabang yang paling tinggi adalah membaca la ilaha illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di tengah jalan, dan malu termasuk cabang dari iman” (muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah ra dalam Riyadush Shalihin no. 125). Berikut ini sedikit dari berpuluh cabang iman berdasar Al Quran & sunnah Rasulullah saw: 

1. Membaca kalimat tauhid 
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali Imran 18).
Saking agungnya, kalimat la ilaha illallah lebih berat dari seluruh benda langit dan bumi serta isinya. Abu Said Al Khudri ra meriwayatkan hadits Nabi saw, ”Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku akan berzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman, ‘Wahai Musa ucapkanlah laa ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya 7 tingkat langit dan apa yang ada di dalamnya serta 7 lapis bumi,  selain Aku, diletakkan di suatu timbangan dan laa ilaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan lebih berat timbangan laa ilaha illallah (HR. Ibnu Hibban, Hakim, dishahihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/28).
Nabi saw. bersabda, “Siapa saja bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah haramkan neraka baginya" (HR. Muslim). 

2.      Rasa malu
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau sudah tidak punya rasa malu lagi, maka perbuatlah apa yang engkau suka” (HR. Bukhari). Malu merupakan salah satu tema yang telah diajarkan oleh para nabi sejak dulu kala dan tidak terhapus hingga kini. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun. Iapun misalnya jadi tidak lagi malu berbuat dosa dan maksiat.
Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Malu berbuat maksiat, malu mengambil hak rakyat dengan zalim, malu berpakaian ketat dan terbuka auratnya di luar rumah, malu kepada keluarga, guru, masyarakat, dan terutama malu kepada Allah swt.
Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya. Namun dalam hal menuntut ilmu dan mengajarkan kebenaran kita tidak boleh malu. Ada pepatah populer berbunyi malu bertanya sesat di jalan. Agaknya pepatah ini selaras dengan firman-Nya, “…dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar…” (QS. Al Ahzab 53).   

3.      Menjaga kebersihan
Di banyak lokasi di tepi jalan atau di tempat umum selalu ada imbauan menjaga kebersihan yang dilengkapi penggalan ungkapan yang dinisbatkan secara tidak shahih kepada Nabi saw artinya kebersihan sebagian dari iman. Sabda Nabi saw. yang shahih berbunyi (artinya), “Bersuci sebagian dari iman, alhamdulillah dapat memenuhi timbangan (timbangan kebaikan seorang hamba pada hari kiamat, Red.), subhanallah dan alhamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya (dikatakan cahaya karena shalat dapat menunjukkan seseorang kepada perbuatan yang baik, Red.), shadaqah adalah bukti (Bukti akan kebenaran keimanannya, Red.), Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu. Semua manusia berangkat menjual dirinya (Menjual dirinya, baik kepada Allah ta’ala dengan menta’ati-Nya atau kepada setan dengan membangkang), ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang menghancurkan dirinya” (HR. Muslim).
Karena itu, tingkat kebersihan diri dan lingkungan sekitar kita merupakan bukti nyata kadar keimanan kita. Apakah kita termasuk yang tanpa rasa bersalah membuang tisu ke jalan saat berkendara, membuang bangkai tikus di jalan, membuang sampah di got, dll? Ataukah kita termasuk bersabar untuk sementara menyimpan tisu kotor di saku kita sampai ketemu tempat sampah?
Di setiap kitab fiqih, para ulama selalu mendahulukan bab Thaharah (bersuci). Jadi, kebersihan itu  termasuk qodhoya imaniyah (masalah keimanan) dan qodhoya islamiyah (masalah keislaman). Dan minimal 5 kali kita berdoa agar Allah swt. menjadikan kita orang yang suka bersuci. Setelah berwudhu kita dianjurkan membaca Allohummaj ‘alnii minattawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriin ’ Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci.” Karena Allah swt. senang dengan orang yang suka bersuci, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al Baqarah 222). 
Orang yang rindu akan surga Allah pasti akan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sebab Nabi saw. bersabda Al islamu nadhifun. Fatanadhdhafu. Fainnahu la yadkhulul jannata illa nadhifun ’Islam itu bersih. Maka, cintailah kebersihan. Sebab, tidaklah masuk surga kecuali orang yang bersih.’ 

4.      Bertutur kata yang baik 
Abad 21 ini bisa disebut era informasi dan komunikasi. Makin banyaknya perangkat komunikasi ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi itu sendiri. Ada telepon, SMS, MMS, teleconference (3 G), chatting, email, via Facebook, Tweetter, dll. Karenanya, akhlak bertutur kata menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah komunikasi. Tak sedikit kasus pencemaran nama baik terjadi di internet. Karena kata-kata di dunia maya mewakili lisan pelakunya. Hingga muncul istilah mulutmu harimaumu.
Islam memandang masalah tutur kata sebagai cerminan tingkat keimanan seseorang. Nabi saw. bersabda, ”Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berbicara baik atau diam” (HR. Al Bukhari 6089 dan Muslim no. 46 dari Abu Hurairah ra). 
Tutur kata juga bisa mengantarkan seseorang ke surga atau malah ke neraka. Haniy bin Yazid ra bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga?” Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya hal-hal yang dapat mengundang ampunan (Allah) adalah mengucapkan salam dan perkataan yang baik” (HR. Thabrani). Demikianlah, perkataan baik mampu mengantarkan orang ke surga dengan izin Allah. Begitu sebaliknya, ucapan buruk (gunjingan, fitnah, hasutan, dll.) bisa menimbulkan kerusakan dan siksa-Nya. 

5. Tidak menyakiti tetangga 
Tetangga ibarat saudara ‘terdekat’ kita. Merekalah yang paling dahulu mengulurkan tangan jika kita butuh bantuan. Seolah-olah mereka telah menjadi saudara kita meski terkadang tidak ada hubungan darah. Etika bertetangga menjadi sangat penting ketika kehidupan modern saat ini cenderung materialistik dan individualistik.
Bertetangga menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Dalam suatu kesempatan, Nabi saw. bersabda, “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya” (Muttafaq alaihi). Di lain redaksi, Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari).(dari berbagai sumber).{}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut