SEKOLAHISME&LINIERISME
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS)
Mungkin, kita sangat hafal hadits Nabi saw: “Thalabul ‘ilmi faridhatun
‘ala kulli muslimin!” Maknanya: mencari ilmu itu wajib bagi setiap
Muslim. Karena kita muslim, maka kita terkena kewajiban itu; berdosalah
orang muslim yang tidak mencari ilmu.
Sampai di sini jelas? Ternyata belum. Coba tanyakan lagi: Ilmu apa yang
wajib dicari? Apakah semua ilmu harus dipelajari? Sampai dimana batas
suatu ilmu wajib dicari? Apakah kita bersekolah, lalu kuliah, rajin baca
koran, majalah, atau internet sudah memenuhi kewajiban mencari ilmu?
Juga, yang tidak mudah dijawab: “Apa yang disebut sebagai ilmu? dan
“Apakah kita sudah menjalankan perintah Nabi untuk mencari ilmu itu?”
Biasanya, kita pun sangat paham, bahwa orang-orang yang berilmu akan
ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. (QS Al-Mujadilah:11) .
Rasulullah saw juga bersabda: ”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya
dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR
Muslim). ”Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang
yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan.” (HR Ahmad,
Ibn Hibban, dan Hakim).
Imam Syafii, dalam salah satu syairnya menyatakan: ”Wa man lam yadzuq
murrat-ta’allumi saa’atan; tajarra’a dzullal jahli thuula hayaatihi”
(Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu –
walaupun sesaat – maka ia akan terjerumus dalam kebodohan yang hina
sepanjang hayat.).
****
Kita, kaum Muslim, juga sangat tidak asing dengan hadits Nabi saw, bahwa
mencari ilmu itu sepanjang hayat, minal mahdi ilal-lahdi. Tapi, kini
patut kita cermati beredarnya penyakit kronis bernama “sekolahisme” dan
“linierisme”. “Sekolahisme” memandang bersekolah sama dengan mencari
ilmu; tidak bersekolah berarti tidak cari ilmu; selesai sekolah atau
kuliah, selesai pula upaya cari ilmu.
Mungkin tidak sedikit pula yang berpikir, setelah jadi sarjana dan
bekerja, maka selesai pula kewajiban mencari ilmu. Yang wajib hanya cari
uang. Pulang kerja baca berita, cari hiburan, dan sesekali nonton
berita. Tak terpikir olehnya untuk mengerahkan segenap energinya,
berpikir untuk belajar ilmu aqidah lebih mendalam, memahami tafsir
al-Quran, mencari ilmu-ilmu yang diperlukan untuk bisa mengenal
Tuhannya; memahami aturan-aturan-Nya, dan memiliki ilmu untuk meraih
hidup bahagia (sa’adah/happiness) dengan cara mensucikan jiwa
(tazkiyyatun nafs).
Allah SWT berfirman: “Qad aflaha man zakkaahaa, wa qad khaaba man
dassaaha.” Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh
celaka orang yang mengotori jiwanya. Jadi, tiap muslim harusnya punya
ilmu “jiwa”, bagaimana cara mensucikannya, dan apa saja yang mengotori
jiwanya! Jika tidak punya ilmu tentang itu, berdosalah dia. Mungkin
sarjana psikologi modern pun tak paham tentang “jiwa” (nafs), sehingga
terkena penyakit “jiwa” seperti “gila dunia”, “gila kuasa”, “gila
harta”, “iri hati”, “takabbur”, “riya’” dan sebagainya.
Patutlah waspada pada penyakit “sekolahisme” ini. Sekolah itu baik.
Tapi, menganggap cari ilmu hanya dengan sekolah formal, itu keliru.
Kadang, dalam suatu seminar, disodorkanlah lembaran CV tentang riwayat
pendidikan: mulai SD, SMP, SMA, S-1 sampai S-3. Seolah-olah, kita
menjalani pendidikan hanya sampai di situ saja. Apakah setelah S-3 kita
tidak dididik lagi? Apakah sampai di situ saja usaha mencari ilmu?
Bukankah Nabi memerintahkan kita cari ilmu sampai mati? Itulah penyakit
sekolahisme!
Penyakit “linierisme” menyebabkan seseorang berpikir, bahwa ia hanya
perlu cari ilmu di bidangnya saja. Sarjana fisika tidak mau belajar ilmu
al-Quran, Ilmu Fiqih, Ilmu Akhirat, atau sejarah Islam. Sebab,
pikirnya, itu bukan bidang dia. Pakar Fisika hanya mau berkutat seumur
hidupnya dengan soal fisika. Tak terpikir olehnya untuk mendalami
ilmu-ilmu tentang aliran dan pemikiran-pemikiran sesat di era modern.
Sebab, ia sangka, ilmu itu bidangnya ustad atau kyai, bukan kewajiban
setiap Muslim untuk memahaminya (fardhu ‘ain).
Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan sebuah pesan penting: “Manusia
itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik
diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di
masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.” (Muttafaq 'alaih). Juga,
sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka
Allah menjadikannya pandai mengenai agama (yufaqqih-hu fid-din) dan ia
diilhami PetunjukNYa.”(Muttafaq 'alaih).
Jadi, kata Rasulullah saw, manusia itu laksana barang tambang, seperti
emas dan perak. Allah memang menciptakan manusia dengan kualitas dasar
dan potensi yang sama. Ada yang dikaruniai kecerdasan super tinggi
seperti Imam Syafii, al-Ghazai, Ibn Rusyd, Ibn Sina, BJ Habibie, dan
sebagainya. Ada juga yang diberi potensi kecerdasan sedang-sedang saja.
Ada juga yang diberi amanah ringan, berupa tingkat kecerdasan yang
sangat rendah. Dengan perbedaan potensi itulah roda kehidupan manusia
bisa berjalan.
Karena itulah, orang yang dikaruniai potensi kecerdasan tinggi memiliki
tanggung jawab keilmuan yang lebih tinggi dari orang lain dengan potensi
kecerdasan di bawahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, bahwa
manusia adalah laksana barang tambang. Manusia yang kualitasnya emas,
di masa jahiliyah, akan menjadi emas juga di masa Islam. Dengan syarat,
dia faham agama (mutafaqih fid-din). Sebab, orang yang faham agama
adalah salah satu ciri tanda kebaikan yang dimilikinya.
Maka, sepatutnya – sesuai konsep keilmuan Islam yang integratif dan
tauhidik -- dalam diri seorang “Habibie” dan manusia-manusia super
cerdas lain, terkumpul keahlian dalam bidang sains dan teknologi
sekaligus pakar dalam Tafsir al-Quran, Hukum Islam, Pemikiran Islam,
Sejarah Islam, dan sebagainya.
Sejarah telah membuktikannya! Wallahu a’lam bish-shawab. (***)
...blogcue..be inspired every day...
Dalam tiap kita,.. Ada mata hati yang sederhana dan denyutnya tak dapat dibohongi.. Ialah segala penglihatan kita yang dengan telanjang dapat membedakan yang benar dan yang salah, dalam tiap kita ada matahari yang tegar dan peduli menyinari dan menebarkan kehangatan, dalam tiap kita juga ada jiwa, jiwa yang bersih yang akan mencerminkan raga dan hati yang mulia.
Selasa, 23 September 2014
Selasa, 26 Agustus 2014
"Cerita, "Keberuntungan atau kemalangan?"
"Cerita, "Keberuntungan atau kemalangan?"
Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak Tani, sungguh malang nasibmu!”.
Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.
Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”
(sumber : arifperdana.wordpress.com)
~~~
Sahabat, kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai “kesialan”, barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju “keberuntungan” . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk “menghakimi” kejadian dengan label-label “beruntung”, “sial”, dan sebagainya.
Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu “kesialan”, manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.
Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan “kesialan” , “musibah ” dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu.
“Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja.”
Hal semacam ini juga sering terjadi pada diri kita jika kita mau memperhatikannya. Pertanyaannya, Apakah Anda sekarang mengalami Keberuntungan Atau Kemalangan ?
Trimakasih telah membaca...
Salam Motivasi !"
Copas-** mempublikasikan ulang, semoga makin memberi inspirasi untuk semuanya.
Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak Tani, sungguh malang nasibmu!”.
Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.
Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.
Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”
(sumber : arifperdana.wordpress.com)
~~~
Sahabat, kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai “kesialan”, barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju “keberuntungan” . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk “menghakimi” kejadian dengan label-label “beruntung”, “sial”, dan sebagainya.
Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu “kesialan”, manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.
Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan “kesialan” , “musibah ” dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu.
“Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja.”
Hal semacam ini juga sering terjadi pada diri kita jika kita mau memperhatikannya. Pertanyaannya, Apakah Anda sekarang mengalami Keberuntungan Atau Kemalangan ?
Trimakasih telah membaca...
Salam Motivasi !"
Copas-** mempublikasikan ulang, semoga makin memberi inspirasi untuk semuanya.
Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali
Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali
Diposkan oleh Abu Nida
“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.
Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.
“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.
Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”
Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.
Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.
Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”
Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.
Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.
”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”
Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.
Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)
Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.
”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”
Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.
Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.
Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.
Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.
”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”
Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”
Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.
Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.
Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.
Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.
“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.
“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”
Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”
Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.
“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”
Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.
Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”
Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”
“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”
“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.
Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.
[Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]
SUMBER : http://www.bersamadakwah.com/2013/04/kisah-keajaiban-6-amalan-hutang-lunas.html?m=
Diposkan oleh Abu Nida
“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.
Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.
“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.
Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”
Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.
Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.
Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”
Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.
Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.
”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”
Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.
Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)
Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.
”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”
Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.
Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.
Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.
Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.
”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”
Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”
Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.
Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.
Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.
Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.
“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.
“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”
Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”
Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.
“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”
Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.
Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”
Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”
“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”
“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.
Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu.
[Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]
SUMBER : http://www.bersamadakwah.com/2013/04/kisah-keajaiban-6-amalan-hutang-lunas.html?m=
Jumat, 25 Maret 2011
Diri yang Memiliki Banyak Sekali Potensi
By Hernowo*
Mungkin saja kita sudah sering mendengar kata‑kata bertuah ini, "Apa yang ada di hadapan kita dan apa yang ada di belakang kita hanyalah hal-hal kecil apabila dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita." Kata-kata bertuah ini berasal dari orang sukses bernama Oliver Wendell Holmes. Apakah yang dikatakan Holmes ini kemudian dapat mengubah diri kita menjadi diri yang hebat?
Coba, sebelum membahas lebih jauh berkaitan dengan apa yang dikatakan Holmes, simak kata-kata sampaikan oleh seseorang yang berhasil membuat buku yang ditulisnya dapat menumbuhkan diri yang tinggi pembacanya, "Yang dibutuhkan untuk meraih segala angan Anda dalam hidup ini, ada di dalam diri Anda." Bagaimana pembaca? Apakah diri kita masih belum tergerak dengan kata-kata Barbara De Angelis ini?
Bagaimana dengan kata-kata yang satu ini? Mungkin ini lebih spesifik dan dapat, secara tiba-tiba, menyadarkan kita? "Semua sumber daya yang kita perlukan ada di dalam benak kita," ujar tokoh terkenal Theodore Roosevelt.
Semoga kata-kata Roosevelt ini memiliki gaung yang mengguncang kita ketika kita padukan dengan kata-kata Tony Buzan, penemu metode-hebat "peta pikiran", "Otak Anda bagaikan raksasa tidur"
Apa itu potensi? Di manakah potensi itu berada di dalam diri kita? Apakah kita dapat dengan mudah menemui banyak sekali potensi di dalam diri kita? Apakah benar potensi yang ada di dalam diri kita itu banyak sekali? Apa ciri-ciri yang dapat kita deteksi berkaitan dengan potensi diri? Apa itu sebenarnya potensi? Bagaimana memunculkan potensi agar diri kita dapat mendapatkan manfaat darinya?
Secara bahasa, potensi adalah "kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat dikembangkan". Potensi juga dapat dipadankan dengan kata kekuatan, kesanggupan, atau daya. Inilah modal manusia untuk tumbuh dan berkembang secara luar biasa. Setiap manusia pastilah memiliki potensi. Hanya, sekali lagi, yang perlu disadari oleh setiap diri yang berpotensi adalah bahwa kemampuan tersebut perlu diolah atau mungkin dideteksi lebih dahulu agar dapat dikembangkan atau diaktualisasikan dalam kehidupan yang nyata.
Menurut apa yang saya alami, potensi diri baru akan menyala secara hebat apabila diri saya meyakini bahwa saya memang memiliki potensi. Meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi tidaklah mudah. Ketidakmudahan meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi sama dengan ketika saya menentukan sesungguhnya potensi apa sih yang dapat saya kembangkan. Kadang, saking banyaknya potensi yang saya miliki, saya menjadi kebingungan untuk menetapkan satu saja potensi diri yang sangat menonjol.
Saya, misalnya, temyata memiliki potensi untuk menjadi pemain bulu tangkis yang hebat. Oleh almarhum ayah saya, setiap hari, ketika saya masih kecil, potensi bermain bulu tangkis saya itu diasah. Ini dibuktikan oleh ayah saya dengan membangun lapangan bulu tangkis persis berada di depan rumah saya di Magelang. Saya terus diajak bermain mengasah potensi saya tersebut. Hingga menginjak dewasa, setidaknya saya dapat menguasai pelbagai teknik memukul bola sehingga dapat mematikan lawan.
Saya juga memiliki potensi untuk merenungkan segala sesuatu secara intens. Saya menyadari sekali bahwa saya itu pemalu. Lebih spesifik lagi, saya adalah orang yang tergolong introvert. Saya suka menyendiri dan kurang suka ramai-ramai dengan orang lain. Ternyata potensi saya ini berkembang pesat setelah bekerja di sebuah penerbitan. Menjadi introvert tidak lantas mencirikan bahwa seseorang tidak dapat berkembang. Saya merasakan sekali apabila sikap introvert ini menemukan lingkungan yang tepat dan kondusif, tentulah sikap tersebut akan menguntungkan si pemilik sikap itu.
Akhirnya, saya dapat memunculkan potensi dalam konteks yang berbalik 180 derajat dengan sikap introvert, setelah saya mengasah potensi membaca dan menulis saya secara rutin. Saya kini suka bergaul dengan orang lain dan, bahkan, saya berani membagikan pengalaman saya secara bertatap muka. Saya jadi fasih berkata-kata dan secara lantang saya kemudian berani untuk " menggerakkan " orang lain untuk berubah.
*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing
Kamis, 24 Maret 2011
Pembelajaran adalah Perubahan
By Hernowo*
Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa terjadi semacam "dialog batin" di dalam diri kita? Bagaimana kita dapat merasakan bahwa ada dua macam "wajah" di dalam diri kita yang saling pandang dan mengungkapkan pandangannya? Bagaimana pengalaman terbentuk? Apakah pengalaman yang membuat diri seseorang naik dari satu lapisan ke satu lapisan derajat yang lebih tinggi dikarenakan oleh "dialog batin" yang instens itu?
Apa sesungguhnya "dialog batin" itu? Apakah semua orang mengalaminya? Apakah jika "dialog batin" itu benar-benar terjadi pada setiap orang, lantas berlangsungnya itu setiap hari, setiap menit, atau bahkan setiap detik? Bagaimana cara mendeteksi semua ini ? Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa "dialog batin"-nya senantiasa berlangsung hebat dan bermanfaat bagi pertumbuhan dirinya?
Ada sebuah rumusan yang bagus dari Dave Meier berkaitan dengan soal-soal yang tidak gampang kita sepakati ini. Meskipun rumusan Meier ini tidak langsung menuju sasarannya, namun, saya rasa, pandangan Meier ini dapat memberikan semacam pijakan untuk mendeteksi lebih jauh tentang "dialog batin". Lewat rumusan Meier, yang sebentar lagi akan kita baca, tampak bahwa hampir semua yang sedang kita bicarakan ini—dan juga apa yang disinggung oleh pernyataan Ignas Kleden : berpusat pada satu kata: pembelajaran (learning).
"Penelitian mengenai otak dan kaitannya dengan pembelajaran telah mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan. Jika sesuatu dipelajari dengan sungguh-sungguh, struktur internal sistem saraf kimiawi (atau elektris) seseorang pun berubah. Sesuatu yang baru tercipta di dalam diri seseorang—jaringan saraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru, dan hubungan baru," tulis Meier.
Nah, rumusan Meier tak hanya berhenti di situ. Meier kemudian memberikan kata-kata kunci yang layak kita perhatikan secara saksama, "Dalam proses pembelajaran,
para pembelajar harus diberi waktu agar hal-hal baru ini betul-betul terjadi dikedalaman dirinya. Jika tidak, tentu saja takkan ada yang melekat. Juga tak ada yang menyatu dan tak ada yang benar-benar dipelajari. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tak ada waktu untuk berubah, berarti tak ada pembelajaran yang sejati.
“Dialog batin“ atau dialog-internal yang mungkin dijalani oleh seseorang, dalam tempo yang lama dan panjang, adalah sebuah pembelajaran. Hingga disini, dapat dikatakan bahwa diri yang berilmu adalah diri yang terus melakukan koreksi, instropeksi, dan perubahan diri. Tentu, perubahan diri yang terjadi adalah perubahan diri yang menarik. Bisa jadi, diri yang berubah, diri yang berilmu itu, mengalami dialog internal yang naik-turun. Namun, proses naik turun (up and down) itu berada pada area yang menanjak.
Secara fisik, ada kemungkinan kita dapat mengetahui diri kita berubah. Sakit dan sehat adalah bukti adanya perubahan diri dalam konteks fisik. Pada suatu saat diri kita mengalami kesegaran luar biasa. Namun, pada lain saat, diri kita mengalami kelelahan luar biasa. Kesegaran di satu pihak dan kelelahan di lain pihak inilah yang menunjukkan adanya dialog-internal di dalam diri kita yang terus berubah. Lewat proses sakit-sehat, sehat-sakit, dan seterusnya, tentulah diri kita yang bersifat fisik ini akan mengalami perubahan.
Nah, berkaitan dengan diri yang berilmu, ingin saya memakai sakit-sehat itu dalam konteks tahu dan tidak tahu atau memahami dan tidak memahami. Lebih tegas lagi, jika soal tahu dan tidak tahu dikaitkan dengan apakah sebuah dialog-internal kemudian melahirkan sebuah hasil yang nyata dalam bentuk sebuah diri yang berkembang, maka kits perlu mengganti konsep memahami dan tidak memahami dengan "menguasai dan tidak menguasai".{}
*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing
Interaksi adalah Inti Mencari Ilmu
By Hernowo*
Seseorang yang sedang belajar atau mencari ilmu, pada hakikatnya, dia sedang menempuh dua jalur belajar. Jalur-belajar yang pertama bisa disebut sebagai jalur individual, sementara jalur lainnya bisa disebut jalu sosial. Proses pencarian ilmu mustahil sukses apabila si pencari ilmu tidak melakukan interaksi. Interaksi, saya kira adalah salah satu tahap penting dalam proses belajar yang efektif.
Apakah mungkin pengonstruksian ilmu berlangsung lancar tanpa si pencari ilmu terlibat aktif dengan diri sendiri atau orang lain ? Baik interaksi individual maupun interaksi sosial sangat perlu dilalui oleh seorang pencari ilmu. Interaksi individual yang sangat intens akan mendorong seseorang untuk merenungkan cocok-tidaknya ilmu yang dipelajarinya dengan karakter dirinya.
Lebih jauh, interaksi individual ini bagaikan semacam dialog internal, dialog batin, yang dialami setiap saat. Informasi yang masuk ke dalam dirinya tentu harus diolah dan di pilih. Apabila seorang pencari ilmu mampu menyadari soal ini, dan kemudian merasakan manfaat besar interaksi individual. Proses menolak dan setuju akan mengaitkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang dengan pengalaman konkret yang ada di dalam dirinya. Perlahan-lahan proses dialog itu akan memunculkan sesuatu yang baru yang cocok dengan dirinya dan tidak menyimpang dari hakikat ilmu yang sedang dipelajarinya. Intinya, interaksi individual membuat seseorang untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar dapat menjadi miliknya.
Sementara itu, interaksi sosial membuka cakrawala bahwa apa yang dipilih ataupun diputuskan dari proses menjalani interaksi individual perlu dirumuskan dan dibenturkan dengan yang terjadi diluar dirinya. Ada kemungkinan, interaksi sosial (dalam bentuk pengalaman bergaul dengan orang lain baik itu dengan seorang guru atau dengan rekannya) ini tak pernah berakhir dan mendorongnya untuk mengaktifkan interaksi individual.
Inilah, lagi-lagi, proses pembelajaran yang sangat menarik dan mengasyikkan. Kedua jenis interaksi ini menunjukkan bahwa manusia itu terus berubah dan tak pernah berakhir menjadi makhluk yang final, selesai. Belajar membuatnya terus memperbaiki dirinya. Dari proses belajarlah seseorang terus berkembang. Orang yang sedang belajar, secara terus-menerus diminta membaca batinnya dan juga dunia luar yang kasat mata (yaitu perilaku manusia dan makhluk lain disekitarnya).
Sampai disini, saya kemudian teringat akan salah satu istilah dalam psikologi yang diciptakan oleh Carl Gustav Jung. Jung dikenal sebagai orang yang melontarkan tentang apa itu self. Dalam konteks pembahasan saya ini, Jung memiliki istilah yang sangat menarik yang disebut "individuasi". Saya tidak dapat membahasakan istilah ini lebih baik kecuali harus mengutip rumusan yang diciptakan oleh Armahedi Mazhar. Dalam rumusannya, "individuasi" –nya Jung itu dijabarkan lewat kata-kata yang sangat indah. Apa itu ? itulah sebuah proses yang harus dialami oleh setiap manusia dalam bentuk "meruntuhnya kepribadian lama dan mengutuhnya kepribadian baru". Saya menganggap bahwa hakikat hidup kita ya seperti itu. Kita baru dapat merasakan bahwa pengalaman itu sangat penting apabila kita mau, secara serius , belajar dari pengalaman kita. Merujuk ke Ignas Kleden : Kemajuan bukanlah jumlah pengalaman, melainkan refleksi atas pengalaman, yaitu kemampuan untuk mempelajari sesuatu dari pengalaman. Pengalaman memang susuatu yang berlalu, tetapi yang tetap tinggal adalah maknanya, yang baru muncul apabila seseorang sanggup melakukan sintesis berbagai peristiwa dan menerjemahkan menjadi suatu idea, pengertian atau gagasan yang senantiasa dapat dipegangnya. {}
*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing
Rabu, 23 Maret 2011
Anak Sempurna Atau Anak Bahagia?*
By Basilia Subiyanti W.
Anak adalah anugrah berharga dan juga amanah yang diberikan Allah swt. tempat kita meneruskan cita-cita, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi masa depan yang beriman, cerdas, sehat, berakhlaq mulia, dan bermartabat. Kita memiliki tanggung jawab yang luar biasa ‘besar’ untuk memberikan yang terbaik dan membekali anak-anak kita dengan segala hal yang diperlukan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses dan berhasil. ”Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim).
Dilema orang tua modern
“ Teman anda bercerita bahwa putrinya sedang dalam daftar tunggu di bimbingan tes untuk ujian SPMB. Anak tersebut baru kelas 3 SLTP. Anak Anda juga. Ujian SPMB masih tiga tahun lagi. Anda menjadi khawatir. Apakah sebaiknya putri anda akan didaftarkan juga?”
Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua modern zaman sekarang, mengingat di tengah zaman yang super kompetitif ini, anak-anak juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi yang super juga. Media massa, khususnya televisi telah banyak mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri dan keluarga termasuk cara mendidik anak. Para orang tua modern kian banyak yang terobsesi dengan citra ideal di tayangan-tanyangan televisi (red:sinetron). Orang tua sangat berharap kelak anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sukses dengan gaya hidup ideal. Dan disebabkan anak-anak masih belum tau apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka, sangat penting bagi orang tua untuk mempersiapkan anak-anak menjadi sebaik dan setepat mungkin. Peran orang tua teramat penting disini, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak menuju masa depan. Alhasil, disebabkan mereka takut dan di hinggapi rasa khawatir yang berlebihan jika tidak ada usaha yang terus menerus dalam memacu prestasi anak-anak, ketika dewasa nanti anak-anak tidak dapat berkompentesi dan akhirnya gagal. Hal inilah menjadikan tuntutan orang tua kian meluas. Anak harus menuruti semua perintah dan tuntutan orang tua. Mereka menuntut anak-anak agar mengikuti apa yang menjadi kemauan para orang tua, dengan keyakinan tuntutan tersebut adalah yang mereka anggap paling baik bagi anak-anak.
Harga Kesempurnaan
Harapan orang tua agar masa depan anaknya kelak bahagia, anak harus menjadi sukses dalam segala hal. Ironisnya, sukses dalam segala hal hanya dipandang dari segi materi. Kebahagaiaan dan kesuksesan hanya jika kelak anak-anak kita sudah menjadi seorang yang berkecukupan, rumah bagus, mobil mewah, menduduki jabatan strategis di suatu perusahaan atau instansi.
Jalan menuju kebahagiaan sebenarnya sederhana, namun seringkali orang tua “terjebak” dalam peta yang keliru tentang kebahagiaan. Orang tua ingin anaknya bahagia, namun kebanyakan orang tua menyamakan ukuran kebahagiaan identik dengan hasil yang diperoleh bukan bagaimana proses menuju kesuksesan tersebut. Ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang “sempurna” melahirkan begitu banyak tingginya tuntutan bagi anak-anak. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anaknya dapat dikategorikan anak yang sukses dan berprestasi. Bukan hanya prestasi akademik dan olahraga bahkan penampilan fisik pun nyaris harus dinilai, bukan diterima apa adanya. Tak heran jika sebut saja Ria (red:bukan nama sebenarnya) seorang gadis berusia empat belas tahun mendapat hadiah ulang tahun dari ibunya berupa operasi plastik pada hidungnya, awalnya Ria kurang menyetujuinya, tapi karena ingin menyenangkan hati ibunya pada akhirnya Ria pun menyetujuinya.
“Push Parenting”
Sebagian besar misi orang tua adalah melepaskan anak ke dunia, siap dengan persenjataan lengkap agar dia selamat dan juga sukses. Anak-anak dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nantinya mereka berhasil dan dapat bersaing dengan yang lain. Masalah baru yang timbul, yakni jika orang tua menggunakan petunjuk yang berasal dari budaya pengasuhan yang dilakukan orang tua saat ini dan bukan dari pemahaman anak-anaknya. Bagi banyak orang tua, persaingan menuju perguruan tinggi negeri ternama, di mulai sangat dini dan menjadi motivator di balik berbagai keputusan yang di buat orang tua. Orang tua terlalu mendominasi seluruh kegiatan anak-anaknya, anak-anak seolah tak memiliki ruang & waktu bagi dirinya sendiri, dan semuanya berubah menjadi penuh tekanan. Pola pengasuhan demikian adalah pola pengasuhan yang terlalu menuntut (Push Parenting) mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, menuntut prestasi tinggi di sekolah dan berbagai bidang lain dengan segala cara (emosional, psikologis dan fisik). Orang tua tidak dapat membedakan antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka. Menjadikan anak sebagai pusat jagat raya, lupa sama sekali jika anak itu tetaplah hanyalah seorang anak-anak, yang perlu diberi ruang, bimbingan dan batasan. Anak-anak sibuk dengan jadwal yang ditetapkan orang tua, ia merasa menjadi pihak yang tertekan bahkan hubungannya menjadi renggang dengan anggota keluarga karena padatnya jadwal yang harus diikutinya.
Ketidakinginan memisahkan diri dari anak kita dan ketidakmampuan untuk memikul peran sebagai orang tua menghasilkan dua model pengasuhan anak dan dua jenis anak : “Anak yang menjadi “pusat dunia” dan “miniatur diriku”. Anak-anak ini tumbuh menjadi dewasa dengan menyesuaikan kebutuhan orang tua. Orang tua memonitor seluruh kegiatan anaknya. Pagi hingga sore hari harus bersekolah (full day school), tiba dirumah harus pergi lagi untuk mengikuti segala macam kursus-kursus yang dipilihkan orang tua, karena dianggap apa yang diinginkan orang tua adalah yang terbaik bagi anak, suka atau tidak. Minat anak pun harus diabaikan. Saat anak-anak lebih berminat kursus di bidang musik atau olah-raga, harus dilarang oleh orang tua dan di paksa mengikuti kursus matematika atau komputer karena matematika atau komputer dianggap lebih baik dan lebih populer ketimbang olah raga. Orang tua harus mencampuri persahabatan anaknya, mengawasi hubungan anak dengan guru dan pelatihnya juga hubungan dengan teman-temannya. Ada juga selain anak-anak harus diantar kesana kemari, les itu les ini, anak-anak sudah harus mulai bersekolah ketika baru beberapa bulan terlahir di dunia. Batita digiring setiap hari mengikuti kelompok bermain. Mereka juga harus masuk TK favorit, SD favorit, SMP favorit, kemudian SMU unggulan, dan akhirnya sukses masuk perguruan tinggi ternama, agar berhasil di dunia kerja. Semua fasilitas lengkap tersedia : buku, komputer, mainan canggih yang memberikan stimulasi pada otak, guru privat di rumah, bimbingan belajar, dan segala macam kursus.
Anak Sempurna atau Anak Bahagia
Tren pengasuhan anak dengan “push parenting” seolah-olah mendapat pembenaran karena tujuannya sangat baik yakni demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Tanpa disadari, tuntutan yang mereka berikan menjadi berlebihan dan akibatnya sebenarnya justru berdampak yang buruk bagi anak. Jika sang anak cukup mampu mengikutinya bukan menjadi problem bagi kita, namun jika orang tua mengabaikan bahwa sebenarnya sang anak merasa terbebani dengan hal ini, apalagi secara kemampuan intelektual tidak mendukung, maka hal inilah yang sebenarnya akan merugikan bagi sang anak sendiri. Dampak buruk bagi anak akibat “push parenting” antara lain :
Pertama, hal ini akan menciptakan anak rawan terhadap stress dan depresi.
Prestasi dini hasil rangsangan orang dewasa pada anak-anak yang masih muda akan menghasilkan pembelajar yang pencemas. Disamping kecemasan, anak yang dipacu dapat menderita hambatan berperilaku (inhibition). Sama halnya seperti diri kita, terkadang saat kita dihadapkan pada kondisi sulit, saat menghadapi ujian atau memberikan presentasi, ketika kita dilanda rasa gugup akibat perasaan tertekan atau takut (red: cemas) akan berpengaruh terhadap kinerja meski sudah dipersiapkan dengan matang dan sebaik mungkin, kita tidak dapat melanjutkan presentasi karena kehilangan rasa percaya diri dan keyakinan terhadap kemampuan kita untuk melakukannya.
Kedua, pendidikan yang mementingkan prestasi umumnya mengabaikan kepribadian.
Terlalu sibuk memacu prestasi akhirnya melupakan tanggung jawab akan pembentukan kepribadian anak. Sebagaimana kasus ini : Sebut saja Tedi (red: bukan nama sebenarnya) adalah contoh khas anak yang dipacu. Di Sekolah Dasar (SD) dia berhasil karena perhatian orang tuanya yang terpusat dan penghargaan dari orang tuanya, tetapi orang tua Tedi tidak pernah mengembangkan imajinasi atau perasaan bahwa dia mampu. Motivasi untuk mencapai kesuksesan bukan dari dalam dirinya sendiri. Pada masa-masa awal semuanya dapat berjalan lancar, namun apa yang terjadi jika anak yang dipacu mencapai masa remaja? Seperti “menabrak kipas angin!”. Orang tua yang telah sukses merekayasa berbagai aspek kehidupan sosial, atletik, dan kependidikan anak, mereka menemukan bahwa begitu anak melewati masa pubertas, anak yang tadinya penurut tiba-tiba seperti menekan rem dan berhenti. Anak seperti Tedi yang dipacu di luar batas dengan keterbatasan kemampuannya, pada masa pubertas, masa dimana yang paling sulit untuk pertama kali dalam hidupnya harus melewatinya tanpa ketangguhan diri yang tidak dimilikinya. Apa yang terjadi ? Anak-anak lain, yang mungkin memang berbakat dan pandai, mulai mempertanyakan setiap aspek kehidupan, hubungan mereka dengan orang tuanya, apa yang menjadi keinginan dan cita-cita dirinya yang sebenarnya, dan memutuskan tidak lagi bersedia mengikuti cita-cita orang lain. Sedang, anak yang dipacu secara khas, mereka akan menjadi remaja pembangkang, bingung, mudah berputus asa dan akan sulit mengahadapi berbagai masalah-masalah remaja yang dilaluinya. Jika orang tua terhadap anaknya lebih filosofis, tidak hanya memacu prestasi namun juga menanamkan nilai-nilai luhur sebagai pembentukan karakter kepribadiannya misalnya menjadi anak yang jujur, disiplin, produktif, kreatif dan berinovasi. Anak-anak akan cenderung bereksperimen dan mencoba hal-hal menarik minat mereka dan pada akhirnya pelan-pelan akan memiliki cita-cita pribadi. Mereka juga akan membiasakan diri mengatasi kegagalan dan melihat dunia sebagai tempat dimana mereka masih punya kendali atas hasil dari suatu situasi. Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka, menikmati kesuksesan mereka dan belajar dari kesalahan mereka sendiri.
Ketiga, kehilangan kebersamaan yang bermakna dalam keluarga.
Konsekuensi “push parenting” adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam berbagai bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama pembimbing, guru les mereka dan lebih sedikit waktu bersama orang tua. Karena sebagian orang tua merasa aman jika anak belajar dengan mendapat bantuan tenaga professional, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Padahal, menjadi hal yang terpenting bagi anak saat kebersamaannya dengan orang tuanya. Bagi orang tua, membicarakan bagaimana prestasi sang anak lebih penting dan mengecam setiap kegagalannya, daripada bincang-bincang santai di meja makan, di depan televisi atau berkelakar di depan tempat tidur. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua melalui percakapan dari hati ke hati yang bermutu akan membawa “chemistri“ dan energi positif untuk saling membangun keintiman, menolong anak untuk menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak.
Hidup kita, seperti kebanyakan yang lain, telah diubah oleh anugrah berharga yang ditawarkan anak-anak setiap hari, andai saja kita mau melihat, mendengarkan, dan belajar dari pelajaran yang anak kita berikan. Ternyata anak-anak yang lebih banyak memberi pada kita. Seperti Rainsford dalam kutipannya : “Mencintai anak bukan berarti mempermudah hidup mereka, melainkan membantu mereka melampui rasa sakit “. Doa kita, semoga kelak anak kita menjadi anak anak-anak yang sukses, yang bahagia bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain serta menjadi anak yang shaleh, rahmatan lil ‘alamin bagi alam semesta. Amin. {BSW}
Langganan:
Komentar (Atom)
Wikipedia
Hasil penelusuran