Tak ada satupun anak manusia yang sempurna. Terkadang orangtua yang paling baik sekalipun bisa bertindak keliru dalam bersikap terhadap anak. Berikut ini adalah beberapa contoh-contoh tips ringan untuk menghindari pola-pola penerapan disiplin yang salah.
Adalah salah, memperlakukan anak seperti orang dewasa
Kita melihat fenomena belakangan ini banyaknya tayangan TV berbau mistis / misteri atau permainan games yang mengajarkan kekerasan (PS, Counter Strike, dll. ). Anak kita banyak yang kecanduan oleh karenanya. Kebanyakan anak-anak masih belum mampu mencerna apa makna di balik tayangan tersebut. Ternyata ada banyak bukti, dengan pelarangan (baca:disiplin) yang bersifat drastis ataupun terlalu "longgar" / demokratis justru semakin membuat anak jauh dari target disiplin yang diharapkan. Pelarangan atau pembatasan, justru makin membuat anak berani mencari kesempatan untuk melampiaskannya dengan nonton sembunyi-sembunyi atau mencuri kesempatan main games bersama temannya di tempat rental komputer / games.
Langkah bijak yang bisa kita lakukan :
Ajak anak berdiskusi dan jelaskan dengan alasan yang bisa diterima oleh bahasa nalar anak. Beri anak kesempatan untuk ber-argumen, namun jangan banyak membatasi ucapan pembelaan mereka. Terima saja masukan-masukannya, berikan umpan-balik kritis untuknya. Namun pastikan, keputusan final tetap berada di tangan Ortu.
Adalah salah, terlalu banyak atau terlalu sedikit memuji
"Wah, hebat ya anak ayah, matematikanya dapat nilai 8 ! Tapi, harusnya bisa leblh hebat lagi sih., kalau kamu bisa mengalahkan nilai teman-temanmu satu sekolah". Soalnya ayah ini jelek-jelek dulu juara matematika se-sekolahan Iho..!?" Dengan dalih tujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, orangtua kadang menjadikan anak sebagai "kantong" pujian. Padahal, kebanyakan anak -yan-g.-terlalu sering diberi pujian cenderung tidak mampu berusaha keras agar tujuan tindakannya bisa memenuhi target kepuasan dirinya namun justru untuk memenuhi kepuasan si orang yang sering memujinya. Dengan hal-hal yang dilakukannya secara sederhana, anak selalu berharap mendapat pujian secara berlebihan. Namun dalam bentuk yang lain, dengan tanpa pernah dipuji justru sering menjadikan anak tak pemah mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik.
Solusi tepat yang bisa Anda lakukan adalah secara proporsional & rasional berikan pujian dalam kemasan "komentar datar" ( intonasi bemada penuh perhatian dan tatap-wajah ) dengan bahasa kedekatan yang wajar.
Tidak perlu Anda menambah-nambahi dengan ucapan yang bemada "masih ada 'sisa' beban-tugas-tambahan" bagi anak. Lebih mendalam lagi kesannya apabila anda berucap sambil menyentuh pundaknya, menepuk bahunya, mengelus rambutnya dsb. Selain itu, sambil berinteraksi, usahakan selalu bisa kontak mata & wajah dengan anak, sebagai tanda jalinan mengalimya energi kasih yang tulus.
Adalah salah, cepat kehilangan kesabaran
Banyak orangtua dalam merespon kejadian tertentu yang menimpa anak dengan mengekspresikan gerakan, sikap, wajah, dan suara yang sangat menakutkan dan membuat anak traumatik. Dampak ekstrim yang ditimbulkan dari bimbingan orangtua bertipe "berdarah panas" ini seringkali terbawa terus dan turun-temurun sampai ke generasi berikutnya. Ambillah nafas panjang sejenak, minta kepada pasangan Anda untuk menangani anak-anak sebentar, masuklah ke kamar mandi. Ambillah air lalu usapkan ke wajah anda atau sekaligus ke wajah atau kepala anak anda. Begitu amarah emosi Anda mulai tenang, Duduklah dan berbicaralah dengan tegas namun tidak disertai sikap yang kasar. Kita tak dapat menegakkan peraturan dengan intonasi berbicara yang terlalu keras atau terlalu lembut. Lebih baik, simpanlah energi teriakan keras Anda untuk kasus-kasus yang lebih gawat, misalnya memperingatkan anak menjauhi nyala api kompor yang meledak. menghindari setrum, dsb.
Adalah salah, menerapkan cara-cara pengasuhan secara kukuh dan kaku
Jangan kukuh-kaku untuk terus menggunakan cara yang sama, apabila anak Anda ternyata tidak mempan dihukum dengan sanksi hukuman tertentu selama beberapa waktu. Apa yang berhasil diterapkan pada suatu kondisi, bisa jadi tidak berfungsi pada keadaan yang lain. Cobalah variasikan pola penerapan disiplin Anda, misalnya dengan :
1. lakukan time-out ( istirahat sejenak ). Tenangkan anak yang mengamuk secara emosional dengan enyuruhnya duduk. Misalnya untuk anak berusia 6 tahun, suruh duduk tenang selama 6 menit.
2. menqatur jadwal batas waktu hak-hak khusus anak. Dengan memperhatikan usia dan jenis kepribadian anak, buatlah batasan-batasan jadwal nonton televisi, bertelepon, main games, dsb.
3. acuhkan sikap-sikap anak yang menjengkelkan. Merajuk, merengek, selalu minta dibantu, bertengkar, dsb. akan berhenti dengan sendirinya bila Anda secara taktis mengacuhkannya.
4. Beranikan dia untuk bereksperimen dengan aturan-aturan disiplin Anda, namun tetap tekankan peraturan disiplin yang mendasar dengan jelas. Baju jenis apa yang pantas dan boleh dipakai anak perempuan berusia 11 tahun adalah masalah yang bisa dirundingkan. Namun membolos sekolah dan membohongi orangtua adalah dilarang. Apabila anak menyadari kelonggaran dengan adanya beberapa aturan yang masih dapat dirundingkan, maka peraturan lain yang bersifat larangan kemungkinan dapat lebih diterima.
Adalah salah, memperlakukan anak-anak secara sama tau seragam
Untuk menegakkan displin, pada hakikatnya tidak ada satupun cara yang sangat ideal. Hal-hal yang bisa diterapkan pada anak Anda yang berperangai tenang, belum tentu bisa diterima oleh anak Anda, yang lain dengan tipe kepribadian yang berbeda. Semua hal yang mendasari keberhasilan penerapan disiplin di rumah, bergantung juga pada tipe kepribadian akan anak Anda,
Adalah salah, membiarkan anak bebas dari hukuman
Seorang anak yang tidak menghiraukan konsekuensi atau efek dari perbuatannya yang buruk, Ia akan lebih lambat belajar mengenai kesalahannya. Jadi sebaiknya tetap berikan hukuman, bagaimanapun anak Anda, asalkan Anda menerapkan sanksi tersebut tetap dalam catatan : beri hukuman bemilai AJARAN, penuh KESABARAN dan tetap dalam KESADARAN NALAR. Ada yang menyarankan untuk menerapkan bentuk konsekuensi => sanksi berbalas -seimbang. Misalnya gara-gara anak terlambat bangun pagi, menyebabkan Anda terjebak macet dan terlambat masuk ke kantor. Maka, mintalah ia untuk menggantikannya dengan melakukan tugas sebagai kompensasi misalnya membantu untuk mencucikan motor ayah, atau membantu memungut pakaian di tempat jemuran, atau membantu membersihkan mainan yang berserakan, dsb. {}


