Rabu, 16 Februari 2011

Agar Target Kerja Tidak Jadi Momok

Memompa Motivasi, Mendongkrak Prestasi
* By Oki Aryono

”Sesuai keputusan direksi, tahun 2007 ini perusahaan kita harus memenuhi target penjualan Rp 100 miliar.” Begitu ucap seorang Chief Excecutive Officer (CEO) dalam sebuah pertemuan koordinasi dengan seluruh jajaran manajer dan kepala bagian. Pertemuan yang diadakan beberapa hari menjelang pergantian tahun itu membuat beberapa manajer gusar. Pasalnya, mereka merasa terbebani dengan target yang begitu berat.

Mengapa target begitu penting untuk dicanangkan? Menurut BS. Wibowo, Direktur Lembaga Manajemen Terapan Trustco Jakarta, setiap pekerjaan harus selalu ada perencanaan (planning) yang di dalamnya mengandung target dan capaian. Perencanaan itu lahir dari keinginan dan motivasi. ”Jarak antara motivasi dan kerja adalah perencanaan,” papar pimpinan lembaga pelatihan SDM ini.

Hanya saja, masih kata Wibowo, motivasi tiap-tiap orang berbeda-beda dalam menggapai suatu tujuan atau target. Motivasi atau tekad yang dimiliki seseorang dalam suatu tim kerja akan berbeda satu sama lain. Jika seorang pimpinan punya tekad yang kuat, maka belum tentu semua anggota timnya punya tekad yang sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama. “Sehingga ada anggota tim yang menganggap target sebuah momok yang menakutkan,” jelas trainer spesialis Character Building ini yang juga dosen jurusan Radiologi tersebut.

Lantas bagaimana mengatasi perbedaan motivasi di antara anggota tim ini? Wibowo menjelaskan resepnya. Dalam sebuah tim, jelasnya, pemimpin punya dua tugas penting. Pertama, bagaimana ia menyusun visi dan strategi. Dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, sang pemimpin menuliskan imajinasi dan impiannya. Kedua, memotivasi dan mengorganisasikan anggota tim kepada sasaran yang hendak dituju. “Di sinilah kemudian muncul gap motivasi antara antara pemimpin dan anggota,” tukas doktor Radiologi lulusan North Texas, AS ini.

Sering kali, lanjut Wibowo, para pemimpin gagal dalam memotivasi dan mengorganisasi anggota timnya. Sehingga, anggota tim menganggap target yang dicanangkan seolah beban yang sangat berat. Di sinilah, paparnya, para pemimpin memerlukan soft skill. “Soft skill ini diartikan kemampuan seseorang memotivasi dan mendorong anggota tim agar berprestasi,” beber dosen Radiologi UI dan Politeknik Kesehatan Jakarta.

Kebutuhan akan soft skill ini mutlak diperlukan agar tim tidak kehabisan bahan bakar ’motivasi’ di tengah jalan. ”Apalagi jika tujuan akhir pekerjaan kita mengharap ridha Allah dan kebaikan umat,” tandas konsultan manajemen SDM ini.

Seandainya target itu tidak dapat terpenuhi, imbuh masih Wibowo, kita dianjurkan untuk ber-tawakkal kepada yang Allah yang Mahakuasa. ”Kita tidak diperintah untuk sukses. tapi disuruh untuk beramal dan bekerja. Amal yang baik akan berbuah ampunan dan surga. Sedang, kesuksesan itu adalah kemauan manusia,” bebernya.

Wibowo menyarankan agar kita senantiasa mencintai pekerjaan kita. ”Hendaknya kita selalu mencintai pekerjaan dan meyakini itu baik. Sebab, selalu ada tujuan jangka panjang yaitu sukses akhirat,” jelasnya. Caranya, tambah bapak 4 anak ini, dengan sering-sering memperbarui niat dan selalu menambah ilmu. ”Tidak ada ibadah yang enak kecuali disertai cinta. Kemudian berdoalah,” tuturnya menyarankan.{}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut