Kamis, 24 Februari 2011

Hasil Penelitian Ilmuwan Kanada Sedekah, Kunci Bahagia


“Meskipun banyak penelitian telah mengkaji dampak penghasilan terhadap kebahagiaan, kami memperkirakan bahwa cara bagaimana orang membelanjakan uangnya mungkin setidaknya sama pentingnya dengan berapa besar uang yang mereka peroleh. Secara khusus, kami menduga bahwa membelanjakan uang untuk orang lain mungkin berpengaruh baik pada kebahagiaan daripada membelanjakan uang untuk diri sendiri.”

Demikian tulis Elizabeth W. Dunn dkk. di bagian awal karya ilmiah mereka yang diterbitkan baru-baru ini oleh jurnal ilmiah kondang di dunia, Science, volume 319, tanggal 21 Maret 2008, halaman 1687-1688. Temuan yang menjungkirbalikkan teori ilmu ekonomi itu terbit dengan judul Spending Money on Others Promotes Happiness (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Dunn, ilmuwan di jurusan Psikologi, University of British Columbia, Vancouver, Kanada menemukan kebenaran atas dugaannya itu setelah melakukan serangkaian percobaan. Bersama kelompok penelitinya, 109 mahasiswa universitasnya dilibatkan dalam penelitian. Tidak heran, sebagian besar mengatakan mereka lebih bahagia jika memiliki uang 20 dolar daripada 5 dolar. Para mahasiswa yang diteliti itu juga memilih menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi ketimbang untuk orang lain.

Selain itu, percobaan lain dilakukan Dunn dan timnya. Ia memberi 46 mahasiswa lain amplop berisi uang 5 dolar atau 20 dolar. Namun, cara membelanjakan uang ini tidak diserahkan begitu saja kepada ke-46 mahasiswa ini secara bebas. Mereka diperintahkan membelanjakan uang itu untuk hal-hal tertentu.

Hasilnya sungguh penting disimak. Mahasiswa yang membelanjakan uang untuk bersedekah atau untuk dibelikan hadiah untuk orang lain ternyata lebih membahagiakan dibandingkan mereka yang menggunakannya untuk keperluan diri sendiri, seperti melunasi rekening atau untuk kesenangan pribadi.

Selain mahasiswa, Dunn juga meneliti apakah hal tersebut berlaku untuk kelompok masyarakat lain. Untuk itu, jajak pendapat dilakukan pada 16 karyawan perusahaan di Boston pra dan pascapemberian bonus yang besarnya berbeda-beda. Sebagai tambahan, informasi tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seluruh Amerika Serikat pun dikumpulkan dan dikaji.

Hasilnya Di Luar Dugaan
Hasil penelitian itu sungguh menarik: kebahagiaan sungguh berkaitan dengan besarnya uang yang dibelanjakan untuk orang lain daripada jumlah pendapatan mutlak yang didapatkan dari bonus atau gaji. Dunn mengatakan bahwa temuan ini di luar dugaan, tingkat kebenarannya lebih kuat dari apa yang ia perkirakan.

Pola orang dalam bersedekah ini juga menarik untuk disimak. Dunn memaparkan, sekali saja memberi mungkin menjadikan orang bahagia dalam rentang waktu sehari, tapi ketika memberi ini sudah menjadi jalan hidup, maka pengaruhnya yang berupa kebahagiaan itu bisa langgeng.

Di akhir tulisan ilmiahnya itu, Dunn membuat anjuran menarik kepada para pembuat kebijakan. Agar ada campur tangan kebijakan yang menganjurkan warga untuk membelanjakan uangnya demi kemaslahatan orang lain, agar kekayaan yang semakin meningkat yang dimiliki warga negara dapat mewujud menjadi kebahagiaan yang semakin meningkat pula.

Tak heran, Allah swt. melalui kitabnya Al Quran dan lisan nabi-Nya menganjurkan membelanjakan uang untuk kebaikan orang lain dan kemaslahatan masyarakat. Ternyata anjuran ini punya rahasia hikmah: sedekah menambah kebahagiaan.{} (ah, koresponden Al Falah di Eropa)

Teori Evolusi Darwin Mulai Kehilangan Pengaruh Di Eropa


Di sekolah -sekolah Eropa, penciptaan, perancangan cerdas dan kritik terhadap evolusi mulai diajarkan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Darwin, dan manusia berasal dari monyet. Itu barangkali yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar istilah Teori Evolusi. Sebenarnya ada yang lebih mendasar tentang Teori Evolusi yang belum banyak diketahui luas. Teori Evolusi adalah teori yang berusaha menjelaskan kemunculan makhluk hidup dari benda tak hidup, secara acak dan kebetulan, tanpa disengaja, tanpa perencanaan, tanpa perancangan, tanpa penciptaan. Dengan kata lain teori ini adalah peniadaan Tuhan dan kekuatan di luar kekuatan alam biasa dalam menjelaskan proses kemunculan makhluk hidup.

Teori ini didasarkan pada pengetahuan terbelakang di masa Darwin dimana mikroskop elektron dan peralatan canggih lainnya belum ditemukan. Sel, bagian terkecil pembentuk makhluk hidup, terlihat melalui mikroskop kuno sebagai bentuk gumpalan sederhana. Namun keberadaan peralatan canggih dan modern saat ini membuktikan bahwa di dalam sel terdapat perangkat-perangkat yang bahkan jauh lebih canggih dibandingkan kota paling modern di dunia sekalipun. Ini berarti tidaklah mungkin sel bisa muncul dengan sendirinya tanpa disengaja, secara kebetulan sebagaimana yang dinyatakan Teori Evolusi.
Sel adalah hasil perancangan mahacerdas dari sang perancangnya, yakni sang Pencipta.

Selain itu, Teori Evolusi mempercayai bahwa keanekaragaman makhluk hidup bukanlah hasil penciptaan masing-masing makhluk hidup tersebut secara khusus, terpisah dan sempurna, melainkan berasal dari satu nenek moyang bersama yang mengalami perubahan sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang sangat lama, jutaan tahun.

Namun, semakin lama pernyataan ini pun semakin kandas. Sebab jika evolusi makhluk hidup benar adanya, tentu fosil-fosil mata rantai yang memiliki bentuk pertengahan -seperti misalnya separuh dinosaurus separuh burung- pernah ditemukan. Bentuk-bentuk fosil makhluk hidup tidak sempurna ini haruslah berjumlah berlimpah dan mudah ditemukan. Tapi 150 tahun setelah masa Darwin, tak satu pun fosil mata rantai ini yang berhasil ditemukan. Yang ada hanyalah bentuk sempurna fosil makhluk hidup itu. Artinya makhluk hidup itu tidak pernah berada dalam wujud pertengahan, artinya mereka semua telah diciptakan dalam bentuk dan jenisnya masing-masing secara terpisah.

Dua hal inilah yang kemudian memunculkan fenomena menarik di abad ke-21 di Eropa: semakin banyak ilmuwan yang tidak lagi meyakini Teori Evolusi dan mulai diajarkannya penciptaan dan kritik teori evolusi di sekolah.

Perkembangan di Eropa
Dalam jajak pendapat di Universitas Dortmund, Jerman, 5,5% mahasiswa calon guru biologi meragukan Teori Evolusi. Bahkan 9% menolak manusia berkerabat dengan simpanse dan memiliki satu nenek moyang yang sama, demikian ungkap majalah Unispiegel 26 April 2007.

Di Perancis lain lagi ceritanya. Kemunculan buku L'ATLAS DE LA CREATION (Atlas Penciptaan) karya Harun Yahya yang berjumlah ribuan negeri menara Eifful itu menimbulkan guncangan hebat. Sedemikian hebatnya sampai menteri pendidikan Prancis khawatir dan mewanti-wanti para direktur sekolah dan universitas bahwa buku tersebut tidak sejalan dengan kurikulum dan tidak perlu dipedulikan, tulis AFP edisi 2 Februari 2007.

Perkembangan menarik juga terjadi di Inggris. Sebagaimana diliput majalah ilmiah Nature, 23 November 2006 silam, murid-murid Inggris juga semakin kritis mengenai Teori Evolusi. “Saya telah berceramah tentang evolusi di depan lebih dari 100.000 murid Inggris selama 20 tahun terakhir. Di sebagian besar masa itu saya tidak pernah ditanya tentang penciptaan,” kata Steve Jones, pakar genetika Universitas College, London.
“Namun di beberapa tahun belakangan, kemana pun saya pergi saya ditanya tentang hal tersebut.”

Kecenderungan serupa terjadi pula di Rusia, Radio Free Europe bulan Maret tahun lalu mengutip hasil jajak pendapat yang dikeluarkan Yuri Levada Center bulan September 2005 tentang Teori Evolusi. Hasilnya, dari mereka yang ditanya, 26% mendukung Teori Evolusi, sedangkan 49% percaya bahwa manusia diciptakan Tuhan.

Di Belanda, Italia, dan Eropa Timur lain lagi kisahnya. Di Italia, pada tahun 2004 menteri pendidikan kala itu, Letizia Moratti, sempat menghapus Teori Evolusi dari kurikulum pendidikan sekolah menengah Italia meskipun belum berhasil sepenuhnya seperti ditulis Nature, 23 November 2006. Koran Glas Javnosti mengutip perkataan menteri pendidikan Serbia kala itu, Ljiljana Colic, bahwa di masa mendatang teori Darwin akan diajarkan bersama dengan penciptaan, demikian diberitakan BBC, 7 Sept. 2004. Di Belanda, sebagaimana diliput majalah Science 3 Juni 2005, menteri pendidikan kala itu Maria van der Hoeven melontarkan wacana debat evolusi melawan perancangan cerdas. Berbeda dengan penciptaan, perancangan cerdas tidak mengaitkan agama, kitab suci dan Tuhan secara jelas. Meskipun demikian keduanya mengkritik evolusi dengan penjelasan ilmiah. Bagaimana dengan di Indonesia? {}

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut