Oleh Miftahul Jinan*
Jika ada tamu di rumah kita. Lalu kita menyuguhkan segelas teh. Tetapi tiba-tiba teh itu tumpah ke lantai karena tersenggol tangan sang tamu, apa reaksi kita? Pasti kita mengatakan nggak apa-apa Pak sambil mengambil kain pel untuk membersihkannya. Tidak terlontar sedikit pun kata menyalahkan tamu apalagi menyesalinya.
Jika kejadian seperti di atas menimpa anak kita, misalnya ia menumpahkan nasi dari piringnya atau susu dari gelasnya, apa reaksi kita juga sama? Bersyukurlah jika sama. Tetapi harus kita akui ternyata sering kali reaksi kita berbeda. Kadang kita menghukumnya bahkan menyalahkannya atau paling tidak menyesalkannya karena tidak berhati-hati.
Piring/Gelas Pecah=Anak Sengaja?
Mengapa sering terjadi perbedaan reaksi atas peristiwa yang sama dengan subjek yang berbeda? Jika kita mereaksi tamu dengan lembut dan sabar karena rasa hormat kita kepadanya dan keyakinan kita bahwa peristiwa tersebut bukanlah sebuah kesengajaan. Lalu apakah kita tidak bisa mereaksi anak kita karena juga rasa hormat kita kepadanya dan keyakinan bahwa ia melakukannya tanpa sengaja?
Seringnya orang tua bergaul dengan anak -apalagi sikap anak yang sering merepotkan- terbangun keyakinan pada orang tua bahwa perilaku anak adalah sebuah kesengajaan. Toh sering kali orang tua telah memberi peringatan untuk tidak main-main dengan piring atau gelas. Padahal di antara sekian banyak perilaku anak (bawah 6 tahun) yang menjengkelkan orang tua tak lebih dari 20 persen saja yang disengaja. Sisanya karena wujud rasa ingin tahu terhadap sesuatu atau energi eksplorasi mereka yang besar atau mereka memang tidak sengaja.
Jika kita ’memvonis’ semua tingkah anak sebagai perilaku sengaja untuk menumpahkan atau memecahkan barang, maka sebenarnya hanya 20 persen saja tingkat kebenaran ’vonis’ tersebut. Sisanya, kita telah bersikap kurang bijaksana bahkan melukai jiwa anak. Rasulullah saw. telah bersabda, “Janganlah kamu memukul anak karena memecahkan wadah. Sesungguhnya wadah itu memiliki batas akhir (ajal) seperti halnya ajalmu.”
Mungkin masih ada ganjalan di dalam hati kita untuk menghormatinya. Karena belum layak bagi anak kita mendapatkan penghormatan layaknya tamu. Apalagi ia masih dalam otoritas kita. Sebenarnya dengan tetap kita memberi penghormatan kepada anak layaknya tamu, minimal kita telah memberi contoh bagaimana cara menghormati. Dari manakah mereka harus belajar tentang kewajiban menghormati jika bukan dari orang tuanya? Dan dorongan apakah yang menjadi alasan mereka untuk menghormati orang tua jika orang tua sendiri enggan menghormati mereka?
Saya bertemu seorang ibu dari Banjarmasin yang mengeluhkan perilaku anaknya yang suka membantah dan tidak menuruti kata-katanya. Saya memintanya untuk mengulang perkataan yang tidak dituruti oleh putranya itu. Ia memberi contoh, ”Fanny, kenapa sih kamu ini tidak mempunyai inisiatif untuk belajar seperti teman-temanmu?”
Saya memintanya untuk membayangkan apa reaksi orang jika kata-kata tersebut disampaikan kepada atasan atau stafnya di kantor. Ia menjawab, “Tidak mungkin saya mengatakannya kepada atasan atau staf saya kalimat seperti di itu.” Saya bertanya lagi, “Mengapa tidak mungkin?” Ia pun menjawab lagi, “Karena kalimat tersebut terlalu kasar dan tidak menghormati mereka.” Akhirnya saya tegaskan, “Mengapa Ibu sangat mempertimbangkan setiap kata yang akan Ibu sampaikan kepada atasan dan staf Ibu, sementara terhadap anak sendiri Ibu tidak melakukan pertimbangan tersebut?”
Menghormat=Dua Arah
Anak juga manusia yang mempunyai hati dan rasa. Ia akan senang melakukan apa yang diminta jika kita memintanya dengan penuh penghormatan dan lemah lembut. Sebaliknya, mereka akan membantah bahkan mengacuhkannya jika kita memintanya dengan kasar tanpa menghargai mereka sebagai pribadi yang mandiri.
Perkataan ibu di atas dengan jelas membuktikan rasa tidak hormatnya kepada putrinya. Ia telah menghukumi kepribadian sang anak sebagai sosok yang tidak punya inisiatif, ditambah dengan sikapnya yang membandingkan dengan temannya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang senang dibandingkan. Karena setiap orang adalah sosok yang unik dan pribadi yang berbeda.
Kata kuncinya adalah setiap kata yang akan kita sampaikan telah dipertimbangkan dengan matang. Seperti kalimat kita yang akan kita sampaikan kepada atasan atau tamu. Menghormati bukanlah proses satu arah. Tidak hanya yang muda menghormati orang yang lebih tua. Ini merupakan proses dua arah. Ketika seseorang biasa menghormati orang lain, maka ia akan menerima penghormatan dari orang lain pula.{}
*Penulis Buku Alhamdulillah Anakku Nakal