Rabu, 16 Februari 2011

Ayo Semangat Kerja, Raih Pahala *

*By Oki Aryono

Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ’ada’
Iwan, sebut saja begitu, beberapa hari ini terlihat lesu. Pria berusia 35 tahun itu tampak tidak bersemangat menjalankan tugasnya sebagai operator mesin produksi di sebuah perusahaan baja. Dia tidak lagi bergairah dengan pekerjaannya itu. Sepertinya ia jenuh bergelut dengan mesin-mesin berat yang bising dan panas. Belum lagi tingginya target kerja yang harus dicapai semakin membuat bapak dua anak ini stres. Tak heran jika ia bekerja pun asal-asalan dengan disertai keluhan-keluhan. Tentu saja sang manajer jengah dengan sikap Iwan ini.
Barangkali kita sendiri pernah mengalami seperti yang dialami Iwan. Ketika semangat kerja melorot. Saat bekerja tidak lagi bergairah. Beban pekerjaan terasa berat. Target kerja tampak begitu sulit dicapai. Atau terkadang kita merasa minder dengan profesi yang kita sandang. Namun, bukankah Islam mengajarkan bahwa bekerja –asalkan halal- dikategorikan sebagai ibadah kepada Allah swt?
Kenapa orang yang bekerja itu bernilai ibadah dan mendapatkan pahala di sisi Allah swt? Jawabannya sederhana. Karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqih, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala. Sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa. Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah saw. bersabda, “Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya)” (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Bekerja Adalah Ibadah
Menurut Dr. Hidayat Nur Wahid MA, ibadah dan bekerja punya kaitan yang erat. Secara umum makna dasar ibadah adalah segala sesuatu yang kita lakukan dalam hati maupun tindakan nyata baik yang ditampakkan maupun disembunyikan selama itu merealisasikan ajaran Allah dengan mengharap ridha-Nya.
Sehingga, lanjutnya, apa saja yang kita lakukan -selain shalat, dzikir, membaca Al Quran, haji, dan ritual ibadah lainnya- asalkan mengharap ridha Allah swt. dan meneladani Rasulullah saw. bisa dihitung ibadah. ”Bisa jadi dengan beraktifitas di kantor, pasar, sekolah, perpustakaan, dan lain sebagainya, dianggap ibadah. Asalkan itu semua itu diniatkan untuk mengharap ridha Allah,” terang Ketua MPR-RI yang juga seorang ustadz ini.
Dengan catatan, tukasnya, aktifitas dan pekerjaan kita bukanlah suatu upaya menghadirkan kemaksiatan dan kemungkaran seperti korupsi, perjudian, narkoba, riba, dsb. Bahkan kalau bisa kita menekuni pekerjaan memakmurkan umat, memajukan bangsa, mengokohkan yang makruf, dan meminimalisir yang mungkar. ”Itu semua akan bernilai ibadah,” jelas doktor bidang akidah ini saat dihubungi di kantornya via telepon.
Atasi Turunnya Gairah Kerja
Terkadang, beban dan target kerja menyebabkan kita mengeluh. Padahal, menurut Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia (SDM) dari Institut Darma Mahardika, Jakarta, hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. ”Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel,” ujarnya seperti dikutip Kompas.com.
Sementara itu, Hidayat menyatakan di era yang serba kompetitif seperti ini diperlukan SDM yang tidak hanya bisa mengeluh. Tapi, SDM uang punya kemampuan mengubah kesulitan dan beban itu sebagai prestasi yang gemilang. Islam, lanjutnya, sangat mencela orang yang bisanya berkeluh kesah dengan beban tanggung jawab yang diembannya. ”Keluh kesah awal dari keputusasaan yang berdampak buruk pada hasil kerja,” tegasnya sambil mengutip surat Yusuf 87.
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen. Meski lumrah, imbuhnya, ’impotensi’ kerja harus diobati. Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai Delapan Etos Kerja Profesional. Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama, menurut Jansen, kerja adalah rahmat dari Tuhan.”Sungguh kelewatan jika kita merespons semua rahmat itu dengan bekerja ogah-ogahan,” tandasnya. Kedua, kerja adalah amanah. Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. ”Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya,” paparnya.
Bekerja Adalah Kehormatan
Ketiga, kerja adalah panggilan. Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya. Keempat, kerja adalah aktualisasi. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ’ada.’ ”Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekerjaan,” ujar Jansen.
Kelima, kerja itu ibadah. Semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata. Keenam, kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward V. Appleton, seorang fisikawan peraih Nobel. Appleton mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling bergengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya. ”Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” kata Jansen menirukan perkataan Appleton.
Ketujuh, kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, papar Jansen, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Kedelapan, kerja adalah pelayanan. “Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen. Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah rahmatan lilalamin (rahmat bagi seisi alam).{}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut