By Hernowo*
Mungkin saja kita sudah sering mendengar kata‑kata bertuah ini, "Apa yang ada di hadapan kita dan apa yang ada di belakang kita hanyalah hal-hal kecil apabila dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita." Kata-kata bertuah ini berasal dari orang sukses bernama Oliver Wendell Holmes. Apakah yang dikatakan Holmes ini kemudian dapat mengubah diri kita menjadi diri yang hebat?
Coba, sebelum membahas lebih jauh berkaitan dengan apa yang dikatakan Holmes, simak kata-kata sampaikan oleh seseorang yang berhasil membuat buku yang ditulisnya dapat menumbuhkan diri yang tinggi pembacanya, "Yang dibutuhkan untuk meraih segala angan Anda dalam hidup ini, ada di dalam diri Anda." Bagaimana pembaca? Apakah diri kita masih belum tergerak dengan kata-kata Barbara De Angelis ini?
Bagaimana dengan kata-kata yang satu ini? Mungkin ini lebih spesifik dan dapat, secara tiba-tiba, menyadarkan kita? "Semua sumber daya yang kita perlukan ada di dalam benak kita," ujar tokoh terkenal Theodore Roosevelt.
Semoga kata-kata Roosevelt ini memiliki gaung yang mengguncang kita ketika kita padukan dengan kata-kata Tony Buzan, penemu metode-hebat "peta pikiran", "Otak Anda bagaikan raksasa tidur"
Apa itu potensi? Di manakah potensi itu berada di dalam diri kita? Apakah kita dapat dengan mudah menemui banyak sekali potensi di dalam diri kita? Apakah benar potensi yang ada di dalam diri kita itu banyak sekali? Apa ciri-ciri yang dapat kita deteksi berkaitan dengan potensi diri? Apa itu sebenarnya potensi? Bagaimana memunculkan potensi agar diri kita dapat mendapatkan manfaat darinya?
Secara bahasa, potensi adalah "kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat dikembangkan". Potensi juga dapat dipadankan dengan kata kekuatan, kesanggupan, atau daya. Inilah modal manusia untuk tumbuh dan berkembang secara luar biasa. Setiap manusia pastilah memiliki potensi. Hanya, sekali lagi, yang perlu disadari oleh setiap diri yang berpotensi adalah bahwa kemampuan tersebut perlu diolah atau mungkin dideteksi lebih dahulu agar dapat dikembangkan atau diaktualisasikan dalam kehidupan yang nyata.
Menurut apa yang saya alami, potensi diri baru akan menyala secara hebat apabila diri saya meyakini bahwa saya memang memiliki potensi. Meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi tidaklah mudah. Ketidakmudahan meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi sama dengan ketika saya menentukan sesungguhnya potensi apa sih yang dapat saya kembangkan. Kadang, saking banyaknya potensi yang saya miliki, saya menjadi kebingungan untuk menetapkan satu saja potensi diri yang sangat menonjol.
Saya, misalnya, temyata memiliki potensi untuk menjadi pemain bulu tangkis yang hebat. Oleh almarhum ayah saya, setiap hari, ketika saya masih kecil, potensi bermain bulu tangkis saya itu diasah. Ini dibuktikan oleh ayah saya dengan membangun lapangan bulu tangkis persis berada di depan rumah saya di Magelang. Saya terus diajak bermain mengasah potensi saya tersebut. Hingga menginjak dewasa, setidaknya saya dapat menguasai pelbagai teknik memukul bola sehingga dapat mematikan lawan.
Saya juga memiliki potensi untuk merenungkan segala sesuatu secara intens. Saya menyadari sekali bahwa saya itu pemalu. Lebih spesifik lagi, saya adalah orang yang tergolong introvert. Saya suka menyendiri dan kurang suka ramai-ramai dengan orang lain. Ternyata potensi saya ini berkembang pesat setelah bekerja di sebuah penerbitan. Menjadi introvert tidak lantas mencirikan bahwa seseorang tidak dapat berkembang. Saya merasakan sekali apabila sikap introvert ini menemukan lingkungan yang tepat dan kondusif, tentulah sikap tersebut akan menguntungkan si pemilik sikap itu.
Akhirnya, saya dapat memunculkan potensi dalam konteks yang berbalik 180 derajat dengan sikap introvert, setelah saya mengasah potensi membaca dan menulis saya secara rutin. Saya kini suka bergaul dengan orang lain dan, bahkan, saya berani membagikan pengalaman saya secara bertatap muka. Saya jadi fasih berkata-kata dan secara lantang saya kemudian berani untuk " menggerakkan " orang lain untuk berubah.
*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing