Makna Hidup Dan Logoterapi*
Di Wina Austria, Victor Emil Frankl dilahirkan pada tanggal 26 Maret 1905 dari keluarga Yahudi yang sangat kuat memegang tradisi, nilai-nilai dan kepercayaan Yudiisme. Hal ini berpengaruh kuat atas diri Frankl yang ditunjukkan oleh minat yang besar pada persoalan spiritual, khususnya persoalan mengenai makna hidup. Di tengah suasana yang religius itulah Frankl menjalani sebagian besar hidupnya.
Frankl menulis berbagai buku tentang makna hidup, merintis dan mengembangkan aliran psikologi modern yang dinamakan Logoterapi.
”Logos” dalam bahasa Yunani berarti makna atau arti (meaning), tetapi dapat juga menunjukkan sesuatu yang bersifat ruhaniah, spritual. Logoterapi dimaksudkan sebagai corak psikologi yang dilandasi pengakuan mengenai manusia yang memiliki dimensi ruhani selain dimensi kejiwaan. Serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Eksistensi manusia adalah proses pemberian makna. Hal ini sesuai dengan hakikat kesadaran manusia itu sendiri sebagai intensionalitas. Intensionalitas berarti bahwa dunia manusia bukanlah dunia objektif, melainkan dunia hasil pemaknaan (kesadaran) manusia yang selalu mengarah ke luar dirinya (trasendensi). Manusia tidak bersifat imanen (terkurung dalam dirinya sendiri). Namun berkat trasendensinya itulah manusia menjadi manusia. Manusia tidak pernah puas dengan lingkungan yang sudah ada yang diberikan alam pada dirinya. Realitas yang semula objektif, lalu diberi makna subjektif sesuai dengan kebutuhannya. Realitas yang semula liar dan tak terkendali menjadi dunia yang bisa dijinakkan dan dikendalikan. Realitas yang semula mungkin menyakitkan dan tidak menyenangkan, diupayakan untuk menjadi dunia yang menyehatkan dan menyenangkan (Abidin, 2007).
Frankl (dalam Abidin, 2007) mengatakan meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Hal ini di ucapkan Frankl sebagai penegasannya mengenai arti kehidupan. Meskipun tidak mungkin untuk bekerja dan mengisi kehidupan, serta meskipun tidak mungkin dapat menikmati keindahan alam semesta, sesungguhnya masih tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia. Yaitu tugas untuk memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga diri . Hal ini diungkapkan Frankl berdasarkan pengalaman penderitaan yang dialaminya selama tiga tahun di kamp Tahanan. (dalam Abidin, 2007).
Penderitaan Frankl selama tiga tahun menjadi tawanan Yahudi di Auschwitz dan beberapa kamp konsentrasi Nazi lainnya adalah kehidupan yang mengerikan, karena setiap saat Frankl berhadapan dengan ancaman pembunuhan yang dilakukan secara kejam (dalam Abidin, 2007). Frankl menggabungkan wawasan agama-agama dan filsafat-filsafat lama yang dimilikinya selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan pribadinya selama tiga tahun yang kelam di kamp konsentrasi. Sampai pada akhirnya, Frankl mengungkapkannya dalam bahasa yang bisa dipahami manusia abad kedua puluh dan menulis berbagai buku tentang makna hidup, yang selanjutnya dikembangkan ke dalam aliran psikologi modern yang dinamakan Logoterapi.
Logoterapi mengajarkan suatu filsafat hidup secara unik yang memberikan interpretasi yang konsisten mengenai hidup, kematian, cinta, tanggung jawab dan berbagai aspek penting dalam kehidupan sejalan dengan dunia manusia abad ke-20. Abad ke-20 merupakan abad dimana manusia dihadapkan pada kecemasan-kecemasan eksistensial. Yang disebabkan oleh pengetahuan tentang kematian, ketidakpastian takdir, dan oleh kekurangan petunjuk dalam membuat pilihan tanpa keyakinan religius yang kuat. Dalam kondisi demikian masyarakat mengalami dehumanisasi, kebosanan, kekosongan, dan kehilangan arah. (dalam Abidin, 2007)
Rolloy May (1953) berpendapat bahwa masalah utama yang dihadapi individu dari masyarakat modern adalah kehampaan jiwa, tidak mengetahui apa yang diinginkannya dan tidak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan apa yang dialaminya.
Logoterapi mencoba melawan keputusasaan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagaimana yang dialami oleh masyarakat abad ke-20 tersebut. Dengan cara menegaskan setiap kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Kalaupun jika kehidupan harus dijalani individu dengan penderitaan, itupun adalah kehidupan yang bermakna, karena keberanian menanggung tragedi yang tak tertanggungkan merupakan pencapaian prestasi dan kadang merupakan suatu kemenangan. (dalam Abidin, 2007)
Ada tiga asas utama logoterapi (Frankl dalam Bastaman, 2007), yaitu :
a. Hidup itu tetap memiliki makna dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia selalu mendambakan hidupnya bermakna, dan selalu berusaha mencari dan menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini berarti, mereka yang berhasil menemukan dan mengembangkannya akan merasakan kebahagiaan sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari keputusasaan.
b. Setiap manusia memiliki kebebasan—yang hampir tak terbatas—untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya pada pekerjaan dan karya-bakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman dan cinta kasih. Selain itu, sikap tepat yang diambil atas penderitaan yang tidak dapat diubah lagi merupakan sumber makna hidup.
c. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk bersikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetap tak berhasil. Maksudnya jika tidak mungkin mengubah suatu keadaan (tragis), sebaiknya mengubah sikap atas keadaan itu agar tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu. Dengan jalan mengambil sikap tepat dan baik, yakni sikap yang menimbulkan kebajikan diri sendiri dan orang lain sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma-norma lingkungan yang berlaku.
Jadi, tepatnya logoterapi memiliki tiga konsep yang menjadi landasan filosofisnya yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup (Koeswara, 1992) :
1. Kebebasan Berkeinginan
Dalam pandangan Frankl, kebebasan termasuk kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari keberadaan pengalaman manusia (Koeswara, 1987). Frankl mengakui kebebasan manusia sebagai makhluk yang terbatas, adalah sebagai kebebasan didalam batas-batas. Manusia tidaklah bebas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiologis akan tetapi manusia berkebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut (Koeswara, 1992).
2. Keinginan Akan Makna
Frankl (dalam Koeswara, 1992) mengawali gagasannya mengenai keinginan akan makna dengan mengkritik prinsip kesenangan dari Freud dan keinginan pada kekuasaan (The Will to Power) dari Adler sebagai konsep yang terlalu menyederhanakan fenomena keberadaan dari tingkah laku manusia. Menurut Frankl, kesenangan dan kekuasaan bukanlah tujuan utama, melainkan efek yang dihasilkan oleh tingkah laku dalam rangka pemenuhan diri yang bersumber pada atau diarahkan oleh keinginan kepada makna. Kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasarat bagi pemenuhan makna menyebabkan arti yang setiap orang memerlukan tanggung jawab pribadi tidak ada orang atau sesuatu yang lain, bukan orang tua, partner atau bangsa dapat memberi kita pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan kita. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan didalamnya segera setelah ditemukan (Scultz, 1991)
Frankl menambahkan bahwa tegangan yang dialami manusia bukanlah semata-mata tegangan yang ditimbulkan oleh naluri-naluri melainkan tegangan antara keberadaan dan hakikat atau tegangan antara ada dan makna. Karena itulah orientasi atau keinginan yang utama tidak pernah padam pada menusia.
3. Makna hidup
Makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya (Bastaman, 1996) manusia bisa (berpeluang) menemukan makna hidup atau membuat hidupnya bermakna sampai nafasnya yang terakhir.
Pendapat yang senada dikemukakan oleh Langgulung (1986) yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya terdorong oleh keinginan yang kuat untuk mencapai arti bagi hidupnya. Manusia selalu terdorong oleh kemauan bebas untuk mengungkapkan dirinya dan mengaktualkan wujudnya, menikmati hidup sebagaimana dilihatnya dan sebagaimana dipilihnya, dan mewujudkan potensi-potensi sesuai dengan cara-cara yang diinginkan.
Sedangkan Crumbaugh dan Maholick (dalam Koeswara, 1992) mengartikan makna hidup sebagai bentuk kemampuan individu dalam menemukan pola-pola tujuan, dan nilai-nilai yang terintegrasi dalam hidup. Dalam kata lain intensitas kebermaknaan hidup seseorang berkaitan dengan ada tidaknya kemampuan individu untuk menyesuaikan diri secara efisien terhadap berbagai masalah hidup.
Sifat Kebermaknaan Hidup
Makna hidup seperti yang dikonsepkan Frankl (dalam Bastaman 1995) memiliki beberapa karakteristik, diantaranya :
- Makna hidup itu sifatnya unik dan personal, sehingga tidak dapat diberikan oleh siapapun melainkan harus ditemukan sendiri.
- Makna hidup itu spesifik dan kongkrit, hanya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari, serta tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan idealistis maupun renungan filosofis.
- Makna hidup memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
- Makna hidup diakui sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, sempurna dan paripurna.
Frankl percaya bahwa hakikat eksistensi manusia terdiri dari 3 faktor, pertama adalah spiritualitas, spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dijelaskan dan tidak dapat direduksi. Spiritualitas memang dapat dipengaruhi oleh dunia material tetapi tidak disebabkan oleh dunia material. Kedua, yakni kebebasan manusia tidak didikte oleh faktor-faktor non spiritual. Manusia bebas dari insting dan kondisi dari lingkungan untuk berperilaku sehat secara psikologis. Ketiga, yakni tanggung jawab, manusia yang sehat selalu akan memikul tanggung jawab dalam hidupnya. Mereka akan memaksimalkan potensi yang dimiliki dengan berkarya walaupun hidup ini singkat dan tidak kekal. Segala yang menjadi karyanya tidak sia-sia karena suatu kehidupan tidak ditentukan seberapa panjang usia seseorang tetapi lebih kepada kualitas hidupnya (Schultz, 1991).
Aspek-Aspek Makna Hidup
Makna hidup ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, keadaan bahagia dan penderitaan.(Frankl dalam Bastaman, 2007). Oleh karena itu individu dapat menemukan makna hidupnya dengan merealisasikan tiga nilai yang ada yaitu :
Nilai-nilai Daya Cipta atau Kreatif (Creative Values)
Nilai-nilai kreatif dalam wujud kongkritnya muncul berupa pelaksanaan aktivitas kerja menurut
Frankl (dalam Koeswara, 1992) setiap bentuk pekerjaan dapat mengantarkan individu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada keberadaan totalnya. Contohnya dalam kegiatan berkarya, bekerja mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Nilai kreatif yang direalisasikan dalam bentuk aktivitas kerja menghasilkan sumbangan bagi masyarakat. Komunitas atau masyarakat pada gilirannya mengantarkan individu pada penemuan makna.
Nilai-nilai Penghayatan ( Experiential Values)
Nilai-nilai penghayatan yaitu keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dan keagamaan, serta cinta kasih. Menghayati dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya (dalam Bastaman, 2007).
Nilai-Nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Frankl menyebut nilai ketiga ini sebagai nilai yang paling tinggi, dengan merealisasikan nilai bersikap ini berarti individu menunjukkan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaannya itu memiliki makna pada diri dirinya. Ketika menderita karena sesuatu, individu bergerak kedalam menjauhi sesuatu itu. Membentuk suatu jarak di antara kepribadiannya dan sesuatu itu. Selama individu menderita suatu keadaan yang tidak semestinya ada atau terjadi, individu akan berada di dalam tegangan antara apa yang sesungguhnya terjadi di satu pihak dan apa yang semestinya terjadi di lain pihak, sehingga individu tersebut akan dapat mempertahankan pandangannya kepada hal yang ideal. (dalam Koeswara, 1992). Jadi, penderitaan menurut Frankl memiliki makna ganda, membentuk karakter sekaligus membentuk kekuatan dan ketahanan diri. Menurut Frankl pula bahwa esensi suatu nilai bersikap terletak pada cara seseorang secara ikhlas dan tawakal menyerahkan dirinya pada suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya. Yaitu menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi.
Faktor Yang Mempengaruhi Makna Hidup
Faktor-faktor yang mempengaruhi penemuan makna hidup pada individu, menurut Frankl (dalam Koeswara, 1992) adalah sebagai berikut :
a. Kehidupan keagamaan dan filsafat sekuler.
Menurut Frankl, makna hidup sering ditemukan dalam kehidupan keagamaan akan tetapi makna juga bisa merupakan persoalan filsafat hidup yang bersifat ke duniawian.
b. Pekerjaan
Manusia dapat menemukan makna hidup dalam aktifitas kerja, yang penting bukanlah lingkup dan luasnya, melainkan bagaimana seseorang bekerja sehingga dapat memenuhi lingkaran aktifitasnya tersebut.
c. Keindahan
Individu dapat menemukan makna hidup melalui sikap menerima atau menyerahkan diri kepada kehidupan dan dapat dilakukan dengan jalan menyukai dan menghayati kehidupan.
d. Cinta pada sesama
Cinta juga dapat menjadikan orang yang mengalaminya mampu melihat nilai-nilai kehidupan. Kemampuan melihat nilai-nilai inilah yang membuat batin seseorang menjadi kaya. Memperkaya batin itu sendiri adalah salah satu unsur yang membentuk makna hidup.
e. Pengalaman
Dalam tahap psikospiritual, pengalaman memiliki makna yang cukup vital. Pengalaman bertindak menjaga manusia dari apatis atau memelihara psikis. Pengalaman juga dapat membuat seseorang matang, lebih kaya dan lebih kuat.
Artista Permatasari (2004) juga menambahkan bahwa pemenuhan kebutuhan sosial. Mencintai dan dicintai, kasih sayang, dan rasa memiliki-dimiliki merupakan salah satu nilai hidup yang menjadikan hidup ini bermakna. Sehingga pemenuhan kebutuhan sosial juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup seseorang (Permatasari, 2004, dalam http://etd.library.ums.ac.id).
Metode Dalam Menemukan Makna Hidup
Menurut Bastaman (2000) bahwa ada lima metode dalam menemukan makna hidup yaitu:
1. Pemahaman pribadi, yaitu membantu memperluas kelebihan dan kekurangan beberapa aspek pribadi dan corak kehidupan, baik yang masih potensial maupun yang sudah teraktualisasikan.
2. Bertindak positif, yaitu mencoba menerapkan hal-hal yang baik dalam perilaku dan tindakan nyata sehari-hari.
3. Pengakraban hubungan, yaitu membina hubungan yang akrab. Seseorang akan merasa diperlukan dan memerlukan orang lain, dicintai dan mencintai orang lain tanpa mementingkan diri sendiri.
4. Pendalaman nilai, yaitu usaha-usaha untuk memahami dan merealisasi ketiga sumber makna hidup yang telah disebutkan, yaitu nilai kreatif, nilai penghayatan dan nilai bersikap.
5. Ibadah, yaitu melaksanakan tata cara ibadah yang diajarkan agama. Ibadah yang dilaksanakan dengan khidmat sering menimbulkan perasaan tenang, tentram dan tabah serta merasa mendapatkan bimbingan dalam melakukan tindakan.
Karakteristik Individu Yang Memiliki Kebermaknaan Hidup
Mengenai karakteristik kehidupan individu yang memiliki kebermaknaan, Cumbraugh dan Maholick (dalam Palutzian, 1981) mengemukakan karakteristik individu yang memiliki kebermaknaan hidup berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Frankl adalah: memiliki perasaan yang bahagia, memiliki tujuan yang jelas, memiliki rasa tanggung jawab, mampu melihat alasan untuk tetap eksis, tidak merasa cemas akan kematian, memiliki kontrol diri.
Scultz (1987) juga memberikan gambaran mengenai karakteristik individu yang menjalani hidupnya dengan penuh makna yaitu : mampu merealisasikan nilai-nilai kreatif, nilai-nilai penghayatan, dan nilai-nilai bersikap, bertanggung jawab secara pribadi dalam mengarahkan hidupnya dan dalam mensikapi nasib dan takdir, memiliki kendali sadar terhadap hidupnya, memiliki kemampuan memberi dan menerima cinta, mampu melakukan self transcedence, berorientasi ke depan dan bersifat optimis, memiliki alasan untuk terus menjalani hidup, menggunakan waktu sebijaksana mungkin, agar kerja dan hidupnya pada tujuan dan tugas-tugas yang akan datang.
Menurut Poedjawijatna (dalam Puspowardjojo, 1977) menggambarkan karakteristik individu yang memiliki kebermaknaan hidup dengan mengambil nilai-nilai yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. Dikemukakan pula bahwa jika manusia hendak berlaku sebagai manusia yang berarti bagi diri sendiri dan bagi masyarakat, maka seseorang harus mengatur tingkah lakunya sendiri, menguasai nafsu (memiliki kontrol diri) dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya.
Ketidakpercayaan, keputusaasaan dan keinginan yang kuat untuk bunuh diri merupakan gejala-gejala dari seseorang yang merasa bahwa hidup tidak lagi memiliki makna bagi mereka. Situasi semacam ini oleh Frankl (Dalam Koeswara, 1992) disebut dengan kehampaan eksistensial, yaitu suatu situasi yang ditimbulkan oleh frustasi dalam memenuhi keinginan kepada makna atau sering disebut frustasi.
Menurut Rahmat (Setiyono 2004) seseorang dapat menemukan makna hidup melalui :
1. Makna ditemukan ketika seseorang menemukan dirinya (self discovery).
2. Makna muncul ketika seseorang menemukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang terjebak dalam suatu keadaan, ketika seseorang tidak dapat memilih.
3. Makna ditemukan ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tidak tergantikan oleh orang lain.
4. Makna ditemukan dalam tanggung jawab.
5. Makna mencuat dalam situasi transendensi gabungan dari keempat hal diatas. Ketika seseorang mentransendensikan dirinya maka yang terjadi keautentikan, membuat pilihan, merasa istimewa dan menegaskan tanggung jawab.
Jadi dapat disimpulkan bahwa makna hidup terdapat pada individu dengan kriteria : (1) mereka mempunyai konsep positif tentang hidup, (2) mereka mempunyai kerangka tentang tujuan hidupnya, (3) mereka selalu berupaya mengisi kerangka tujuan hidupnya dan (4) mengisi hidup dengan pengalaman dalam hidup adalah sesuatu yang penting bagi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. (2007). Analisis Eksistensial. Sebuah Pendekatan Alternatif Untuk Psikologi dan Psikiatri. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Ali, Iskandar. Pemulung Pekerjaan Yang Mulia. Diakses Tanggal 4 Okotober 2007 dari http://www.tempointeraktif.com
Ancok, D & Suroso, F.N. (1989). Psikologi Islam: Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi.Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Argo, Y Twikromo. (2005). Pemulung Jalanan Yogyakarta. Yogyakarta : Media Pressindo.
Ariwibowo, P . (2002). Menghadapi Kesulitan Hidup. Diakses Tanggal 4 Oktober 2007 dari http://www.sinarharapan.co.id
Azwar, Saifuddin.(1997). Reliabilitas Dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bahri, Efri,S., Jiwa-Jiwa Peduli. Diakses Tanggal 9 Oktober 2007 dari http://www.eramuslim.com
Bastaman, H., P. (1996). Meraih Hidup Bermakna : Kisah Pribadi Dengan Pengalaman Tragis. Jakarta : Penerbit Paradima.
Bastaman, H., P. (2007). Logoterapi. Psikologi Untuk Menemukan Makna Hidup Dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Dister, N.S (1982). Pengantar Psikologi Agama.Pengalaman Dan Motivasi Beragama. Jakarta : Leppenas.
Hadi, S. (1983). Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.
Hadi, S. (1989). Statistik Jilid 2. Yogyakarta : Andi Ofset
Hadi, S. (2000). Seri Program Statistik, Manual. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Hendropuspito, O.,C. (1988). Sosiologi Agama. Yogyakarta : Yayasan Kanisius
Huda, AA. (2008). Makna Hidup. Diakses Tanggal 6 Oktober 2008 dari http://ahudha.wordpress.com.
Koeswara, E. (1992). Logoterapi. Psikoterapi Viktor Frankl. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Langgulung, H. (1986). Teori-Teori Kesehatan Mental. Jakarta : Penerbit Pustaka Al Husna.
Meichati. (1983). Kesehatan Mental. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Moh Nazir. (1998). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta
Palutzion, R.F. 1981. Purpose in Life and Value Changes Following Conversion. Journal of Personality and Social Psychologi.41,(6). 1153-1160
Permatasari, Artista. (2004). Pengaruh Pemenuhan Kebutuhan Sosial Terhadap Kebermaknaan Hidup Penyandang Cacat Fisik. Diakses Tanggal 6 Oktober 2008 dari http://etd.library.ums.ac.id.
Puspowardjojo, Surjanto dan Bertens, K. (1977). Sekitar Manusia. Jakarta : Gramedia
Sastrapratedja, M. (1993). ”Apakah Filsafat Manusia Itu ?”, Manusia Dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan:Model-Model Kepribadian Sehat.Yogyakarta : Kanisius
Setiyono, F., A. (2004). Kebermaknaan Hidup Para Mediator. Skripsi. (Tidak Diterbitkan) Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Subandi. (1995). Perkembangan Kehidupan Beragama. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Sugiarto, Siagian, D., Sunariyanto., L., T. & Oetomo, D.S. (2001). Teknik Sampling. Jakarta : Gramedia Pustaka Istana
Singarimbun, M & Effendi, S. (1989). Metode Penelitian Survei.(ed.rev) Jakarta : LP3ES.
Syaffrudin. 4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2007 dari http://hdmessa.wordpress.com.
Tasmara, Toto. (2001). Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence) Membentuk Kepribadian yang Bertanggung Jawab, Profesional, dan Berakhlak. Jakarta: Gema Insani Press.
Thouless, R.H. (1992). Pengantar Psikologi Agama Terj. Husein.M. Jakarta : Rajawali Press.
Wikipedia Indonesia. Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia. Diakses Tanggal 4 Oktober 2007. Dari http:// www.wikipedia.com.
Yuliana. (2002). Pengaruh Dukungan Sosial Dan Tingkat Religiusitas Terhadap Kecenderungan Depresi Pada Penderita Diabebetes Melitus. Skripsi. (Tidak Diterbitkan) Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Hubungan Antara Tingkat Religiusitas dan Kebermaknaan Hidup Seseorang
Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan masalah. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang Sosiolog Ulrich Beck menamai masyarakat zaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Lantas, hidup di dunia modern saat ini yang tak jarang banyak kita temui hal-hal yang cukup ironis sekali di luar batas kemanusiaan seorang manusia sekalipun, apakah suatu nilai kebermaknaan hidup masih diinginkan ?
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS & KEBERMAKNAAN HIDUP SESEORANG
Hubungan Antara Tingkat Religiusitas dan Kebermaknaan Hidup Seseorang
Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan masalah. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang Sosiolog Ulrich Beck menamai masyarakat zaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Lantas, hidup di dunia modern saat ini yang tak jarang banyak kita temui hal-hal yang cukup ironis sekali di luar batas kemanusiaan seorang manusia sekalipun, apakah suatu nilai kebermaknaan hidup masih diinginkan ?
Lantas
ada suatu pertanyaan apakah nilai kebermaknaan hidup seseorang ada
hubungannya dengan tingkat religiusitas seseorang pula?
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS & KEBERMAKNAAN HIDUP SESEORANG
Spranger
(dalam Dister, 1982) menyatakan bahwa individu yang memiliki nilai
religius menempatkan kemanunggalan atau kesatuan sebagai nilai tertinggi
dalam hidupnya. Mereka memahami dan mengalami dunia sebagai suatu
kesatuan yang terpadu dan utuh. Individu-individu semacam ini hidupnya
dikuasai oleh keseluruhan nilai yang memuncak dalam nilai tertinggi,
yaitu nilai Ilahi. Nilai-nilai religius mampu memberikan suatu kerangka
yang menjadi acuan bagi individu dalam berpikir, memandang diri dan
kehidupannya.
Dari
sudut pandang sosiologi, religiusitas adalah kualitas motivasi individu
untuk menjadi religius dan konsekuensi-konsekuensi religiusitasnya
dalam aspek-aspek kehidupannya. Kata religius yang dimaksud dalam hal
ini adalah suatu sistem kepercayaan yang terbentuk dari relasi antara
manusia dan kekuatan supra empiris, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allport
dalam Hendropuspito, 1988).
Konsep
religiusitas menurut Glock dan Stark (dalam Ancok dan Suroso, 1994)
meliputi beberapa hal berkaitan dengan keterlibatan individu dalam
perwujudan konsep ini. Glock dan Stark melihat konsep religiusitas
sebagai komitmen religius individu yang dapat dilihat melalui aktivitas
atau perilaku individu yang bersangkutan terhadap agama atau kepercayaan
yang dianutnya.
Konsep ini mengemukakan keterlibatan individu dalam hal:
Satu, Ideological involvement (keterlibatan ideologi) : Yaitu
tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatis dalam agama
mereka masing-masing. Misalnya, kepercayaan terhadap hari akhir, surga
dan neraka.
Dua, Ritual involvement (keterlibatan ritual) : Yaitu sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya.
Tiga, Experential Involment (keterlibatan
pengalaman) : Yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman
spektakuler yang merupakan keajaiban Tuhan. Dimensi ini bergerak dalam 4
tingkatan, yaitu : (1) Konfirmatif : merasakan kehadiran Tuhan atau apa saja yang diamatinya sebagai ciptaan Tuhan (2) Responsif : merasa bahwa Tuhan bisa menjawab kehendak dan keluhannya. (3) Eskatik : merasakan hubungan yang akrab dan penuh cinta dengan Tuhan.(4) Partisipatif : merasa menjadi kawan setia, kekasih atau wali Tuhan
Empat, Knowledge involvement
( keterlibatan ilmu) : Yaitu tingkatan sejauh mana seseorang
mengetahui ajaran agamanya dan aktivitasnya dalam menambah pengetahuan
agama. Misalnya mengikuti pengajian,membaca buku agama.
Lima, Consequential involvement (keterlibatan
secara konsekuensi) : Yaitu dimensi yang mengatur sejauh mana perilaku
seorang dimotivasi oleh ajaran agamanya atau sesuai dengan ajaran
agamanya. Misalnya, etos kerja, hubungan interpersonal, kepedulian
kepada penderitaan orang lain. Apakah seseorang setuju atau tidak
terhadap perbuatan yang dilarang agama dan apakah seseorang mengerjakan
atau tidak pekerjaan terebut.
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan
hidup adalah sebagai hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga
serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan
tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila berhasil terpenuhi
akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada
akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). “
Lantas, bagaimana hubungan antara nilai religiusitas dengan kebermaknaan hidup?
Menurut
Meichati (1983), kehidupan beragama dapat memberikan kekuatan jiwa bagi
seseorang untuk menghadapi tantangan hidup. Agama dapat pula memberikan
bantuan moril dalam menghadapi krisis yang dihadapinya. Keyakinan
beragama dapat meningkatkan kehidupan itu sendiri ke dalam suatu nilai
spiritual. Hal tersebut menjadikan hidup seseorang bermakna dalam
berbagai kondisi, memperoleh ketenangan dalam hidup, merasakan dan
meyakini adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan sehingga akan
memberikan kemantapan batin, bahagia, dan terlindungi.
Frankl
(dalam Bastaman, 2007) dalam Logoterapi juga menjelaskan bahwa adanya
dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan.
Individu dapat menemukan makna dengan menemui kebenaran melalui
realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama (Frankl dalam Bastaman,
2007). Oleh karena itu dalam menemukan makna hidup dapat diperoleh
melalui keterlibatan individu dalam aktivitas religius. Melaksanakan
tata cara ibadah yang diajarkan agama, dilaksanakan dengan khidmat akan
menimbulkan perasaan tenang, tentram, tabah serta merasakan mendapat
bimbingan dalam melakukan tindakan ( Bastaman, 2000)
Toto
Tasmara (2001) juga menyebutkan bahwa salah satu indikasi potensi
kecerdasan ruhaniah atau religiusitas seseorang adalah cara seseorang
memberikan makna terhadap hidup yang dijalaninya. Memberi makna hidup
merupakan sebuah proses pembentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan
hidup merupakan arah, rujukan, dasar pijakan, dan sekaligus hasil yang
diraih. Seseorang merasakan kebahagiaan (happiness) apabila
dengan sengaja atau benar-benar diusahakan untuk mencapai sesuatu yang
diinginkannya. Hal ini berarti apa yang dilakukan individu merupakan
panggilan hati nurani yang mendorong semangat untuk menghadapi tantangan
perjuangan. Hal yang dirasakan merupakan hasil yang diperoleh dengan
penuh makna. Bahkan sebelum dapat mencapai tujuan hidup sekalipun,
individu sudah dapat merasakan nikmatnya hidup yang mempunyai arah
tujuan (Tasmara, 2001).
Toto
Tasmara (2001) memaparkan bahwa religiusitas berkaitan erat dengan
semangat untuk melakukan perubahan nurani (sesuatu yang bersifat
cahaya). Jadi Religiusitas merupakan kemampuan seseorang untuk menjalani
hidup dengan berpadukan kepada cahaya Ilahi yang menerangi qalbu (hati)
seseorang Bagi setiap orang yang beragama diwajibkan memenuhi kebutuhan
batin (inner fulfillment) disamping kebutuhan ragawi. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan cara merealisasikan nilai, keyakinan,
dan prinsip beragama yang mengisi batin setiap individu. Hal ini
merupakan upaya manusia untuk memperoleh makna hidup yang sebenarnya.
Semangat untuk memberi makna hidup merupakan fondasi yang menjadikan
manusia siap menghadapi beban dan segala tantangan hidup. Penderitaan
yang dihadapi tidak membuat seseorang menyerah pada nilai-nilai
eksternal tetapi diisi melalui nilai-nilai perjuangan yang siap
menghadapi segala resiko yang harus dihadapi dengan keyakinan yang
mendalam terhadap Sang Ilahi. Pada akhirnya keyakinan tersebut
mengantarkan individu tersebut menjadi manusia yang optimis, independen
dan tangguh untuk mengubah dirinya sendiri (Tasmara, 2001).
Rolloy
May (dalam Tasmara, 2001) menambahkan bahwa kemampuan menempatkan diri
dalam dimensi waktu dan dunia batin, memberi cinta dan kepekaan untuk
menangkap sinyal-sinyal moral, melihat kebenaran, keindahan, dan
memotivasi diri ke arah yang ideal.
Oleh
karena itu Toto Tasmara (2001) menyatakan bahwa makna hidup adalah
sesuatu yang dinamis, yang harus secara konsisten ditingkatkan
kualitasnya dari waktu ke waktu melalui perbuatan terpuji, sikap dan
perilaku berdisiplin yang akan menumbuhkan tanggung jawab moral yang
tinggi. Jadi cara seseorang memberikan makna tentang hidup adalah
seseorang yang seluruh gerak hidupnya merupakan keyakinan-keyakinan
seseorang kepada Tuhannya yang dibuktikan dalam seluruh rangkaian
amal-amal prestatif, yang merupakan faktor keyakinan (iman) untuk
mendayagunakan kenyataan yang dihadapinya dengan adanya ruang, waktu dan
gerak. yang dirumuskan Toto Tasmara (2001:145) sebagai berikut :
MH = f K (R,W,G)
Makna Hidup = f Keyakinan Ilahiah (Ruang, Waktu, Gerak)
Makna Hidup = f Keyakinan Ilahiah (Ruang, Waktu, Gerak)
Keyakinan
terhadap ruang merupakan keyakinan bahwa bumi, langit dan hamparan
isinya adalah ciptaan Tuhan untuk manusia yang harus diolah dan
dipelihara dengan sebaik-baiknya. Keyakinan terhadap waktu merupakan
keyakinan bahwa hidup akan bermakna selama memberikan makna terhadap
waktu, memahami nilai dan esensi waktu serta tidak menyia-nyiakan waktu
dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sedangkan keyakinan
terhadap gerak merupakan bentuk yang sangat fundamental dalam upaya
seseorang mengisi makna hidupnya yang mencakup gerak batiniah (niat),
gerak amaliah (aktivitas bertujuan) dan gerak kesalehan ( mempunyai
nilai moral dan manfaat).
Jadi,
bertambah sadar penghayatan individu terhadap makna kehadiran dan
kesaksian Sang Ilahi terhadap dirinya, maka bertambah pula kualitas diri
seseorang untuk mengisi hidup yang lebih bermakna (Tasmara, 2001).
Manusia Dan Persoalan Makna
Menurut Frankl (Dalam Koeswara,1992), selain manusia tidak ada makhluk yang diharu-birukan oleh persoalan makna dan keberadaannya. Setiap manusia, tidak peduli siapapun dan sebagai apapun dia, pada satu titik pasti akan mempertanyakan apa arti dan makna dari hidup yang dijalaninya. Pencarian akan makna inilah yang menjadi pusat dari dinamika kepribadian manusia. Keinginan akan arti atau makna dalam hidup ini merupakan kekuatan motivasional yang mendasar dalam diri manusia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah merupakan derajat kualitas penghayatan individu terhadap keberadaan dirinya, memuat hal-hal yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang benar dan dapat memberikan arti khusus yang menjadi tujuan hidup seseorang dan apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan hidup berarti dan berharga serta menimbulkan perasaan bahagia yang dapat diperoleh pada saat bahagia maupun menderita.
Manusia Dan Persoalan Makna
Menurut Frankl (Dalam Koeswara,1992), selain manusia tidak ada makhluk yang diharu-birukan oleh persoalan makna dan keberadaannya. Setiap manusia, tidak peduli siapapun dan sebagai apapun dia, pada satu titik pasti akan mempertanyakan apa arti dan makna dari hidup yang dijalaninya. Pencarian akan makna inilah yang menjadi pusat dari dinamika kepribadian manusia. Keinginan akan arti atau makna dalam hidup ini merupakan kekuatan motivasional yang mendasar dalam diri manusia.
Pertanyaan-pertanyaan
mengenai makna keberadaan manusia merupakan pertanyaan yang abadi dan
aktual, karena selalu muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan
diketemukan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk dan cara yang
berbeda-beda (Sastrapartedja, 1993). Munculnya pertanyaan-pertanyaan
tersebut lahir dari kesenjangan antara kesadaran manusia akan
keterbatasan dan temporalitas kehidupannya dengan harapan atau
kebutuhannya akan pemenuhan akhir yang definitif dari keberadaan diri di
dalam dunia.
Sejumlah
penelitian di negara maju menunjukkan bahwa hasrat untuk hidup
bermakna benar-benar ada dan dihayati setiap orang sebagai sesuatu yang
dirasakan penting dalam kehidupan manusia (Bastaman, 1996). Sebagai
contoh suatu hasil pengumpulan pendapat umum di Prancis menunjukkan 89 %
responden percaya bahwa manusia membutuhkan ”sesuatu” demi hidupnya,
sedangkan 61 % diantaranya merasa ada sesuatu yang untuknya mereka
rela mati (Koeswara, 1992).
Pengertian Kebermaknaan Hidup
Kebermaknaan
hidup adalah cara seseorang mengisi kehidupannya dan memberikan
gambaran menyeluruh yang menunjukkan arah dan cara manusia berhubungan
dengan dirinya sendiri, orang lain, dan alam sekitarnya atas dasar rasa
kecintaan terhadap Sang Ilahi (Tasmara, 2001).
Eksistensi
manusia adalah proses pemberian makna. Hal ini sesuai dengan hakikat
kesadaran manusia itu sendiri sebagai intensionalitas. Intensionalitas berarti
bahwa dunia manusia bukanlah dunia objektif, melainkan dunia hasil
pemaknaan (kesadaran) manusia yang selalu mengarah ke luar dirinya
(trasendensi). Manusia tidak bersifat imanen (terkurung dalam dirinya
sendiri). Namun berkat trasendensinya itulah manusia menjadi manusia.
Manusia tidak pernah puas dengan lingkungan yang sudah ada yang
diberikan alam pada dirinya. Realitas yang semula objektif, lalu diberi
makna subjektif sesuai dengan kebutuhannya. Realitas yang semula liar
dan tak terkendali menjadi dunia yang bisa dijinakkan dan
dikendalikan. Realitas yang semula mungkin menyakitkan dan tidak
menyenangkan, diupayakan untuk menjadi dunia yang menyehatkan dan
menyenangkan (Abidin, 2007).
Frankl
(dalam Abidin, 2007) mengatakan meskipun hidup dalam situasi tanpa
pengharapan, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Hal ini di ucapkan
Frankl sebagai penegasannya mengenai arti kehidupan. Meskipun tidak
mungkin untuk bekerja dan mengisi kehidupan, serta meskipun tidak
mungkin dapat menikmati keindahan alam semesta, sesungguhnya masih
tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia. Yaitu
tugas untuk memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga
diri . Hal ini diungkapkan Frankl berdasarkan pengalaman penderitaan
yang dialaminya selama tiga tahun di kamp Tahanan. (dalam Abidin,
2007).
Penderitaan
Frankl selama tiga tahun menjadi tawanan Yahudi di Auschwitz dan
beberapa kamp konsentrasi Nazi lainnya adalah kehidupan yang mengerikan,
karena setiap saat Frankl berhadapan dengan ancaman pembunuhan yang
dilakukan secara kejam (dalam Abidin, 2007). Frankl menggabungkan
wawasan agama-agama dan filsafat-filsafat lama yang dimilikinya
selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan pribadinya selama tiga
tahun yang kelam di kamp konsentrasi. Sampai pada akhirnya, Frankl
mengungkapkannya dalam bahasa yang bisa dipahami manusia abad kedua
puluh dan menulis berbagai buku tentang makna hidup, yang selanjutnya
dikembangkan ke dalam aliran psikologi modern yang dinamakan Logoterapi.
Frankl
mengungkapkan bahwa selama individu mempunyai makna hidup, maka
setiap individu akan tetap merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang
memuaskan. Dengan asumsi ini, Frankl berpendapat bahwa kekuatan yang
paling utama untuk menggerakkan kepribadian manusia terletak dari
sejauh mana keinginannya untuk memberi makna hidup (the will to meaning). (Dalam Tasmara, 2001)
Kebermaknaan
hidup merupakan sebuah motivasi yang kuat dan mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berguna, sedangkan hidup yang
berguna adalah hidup yang terus menerus memberi makna baik pada diri
sendiri maupun orang lain. Adanya harapan dan kemauan pada saat
menghadapi penderitaan, serta perasaan puas dalam kehidupan karena
merasa telah sampai pada akhir hayat, merasa telah cukup bekerja dan
menderita serta telah menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Hal
inilah merupakan suatu proses pencapaian makna hidup (dalam Koeswara,
1992).
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan hidup adalah sebagai hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan
nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life).
Bila berhasil terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan
kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan
bahagia (happiness). “
Seiring
dengan definisi tersebut Abidin (dalam Huda, 2008,
http://ahudha.wordpress.com) mengungkapkan bahwa kebermaknaan hidup
merupakan proses menjalani hidup yang dimaksudkan untuk suatu tujuan
tertentu, sedang yang menjadi motivasi utama dari manusia itu sendiri
adalah untuk menemukan tujuan hidup tersebut.
Zainurrofikoh
dan Hadjam (2001) juga menyatakan bahwa kebermaknaan hidup adalah
penghayatan individu terhadap hal-hal yang dianggap penting, dirasa
berharga, diyakini kebenarannya dan memberikan nilai khusus serta dapat
dijadikan tujuan dalam hidupnya, ditinjau dari sudut pandang diri
sendiri.
Dari
beberapa pendapat diatas, dalam memberikan pengertian tentang
kebermaknaan hidup, penulis lebih bersandar pada teori Victor E. Frankl.
Hal ini penulis lakukan dengan pertimbangan :
1. Sesuai
realitas kehidupan manusia ada yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan, meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan sekalipun,
eksistensi manusia tetap amat bermakna. Ajaran Frankl ini mampu
memberikan motivasi bahwa kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan
dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi.
2. Sejalan
dengan dunia manusia abad ke-20 yang merupakan abad dimana manusia
dihadapkan pada kecemasan-kecemasan eksistensial, yaitu masyarakat yang
mengalami dehumanisasi, kebosanan, kekosongan, dan kehilangan arah.
Ajaran Frankl mampu menjawab problematika masyarakat tersebut, mudah
untuk dipahami dan implementatif dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah merupakan derajat kualitas penghayatan individu terhadap keberadaan dirinya, memuat hal-hal yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang benar dan dapat memberikan arti khusus yang menjadi tujuan hidup seseorang dan apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan hidup berarti dan berharga serta menimbulkan perasaan bahagia yang dapat diperoleh pada saat bahagia maupun menderita.