Lantas ada suatu pertanyaan apakah nilai kebermaknaan hidup seseorang ada hubungannya dengan tingkat religiusitas seseorang pula?
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS & KEBERMAKNAAN HIDUP SESEORANG
Spranger (dalam Dister, 1982) menyatakan bahwa individu yang memiliki nilai religius menempatkan kemanunggalan atau kesatuan sebagai nilai tertinggi dalam hidupnya. Mereka memahami dan mengalami dunia sebagai suatu kesatuan yang terpadu dan utuh. Individu-individu semacam ini hidupnya dikuasai oleh keseluruhan nilai yang memuncak dalam nilai tertinggi, yaitu nilai Ilahi. Nilai-nilai religius mampu memberikan suatu kerangka yang menjadi acuan bagi individu dalam berpikir, memandang diri dan kehidupannya.
Dari sudut pandang sosiologi, religiusitas adalah kualitas motivasi individu untuk menjadi religius dan konsekuensi-konsekuensi religiusitasnya dalam aspek-aspek kehidupannya. Kata religius yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu sistem kepercayaan yang terbentuk dari relasi antara manusia dan kekuatan supra empiris, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allport dalam Hendropuspito, 1988).
Konsep religiusitas menurut Glock dan Stark (dalam Ancok dan Suroso, 1994) meliputi beberapa hal berkaitan dengan keterlibatan individu dalam perwujudan konsep ini. Glock dan Stark melihat konsep religiusitas sebagai komitmen religius individu yang dapat dilihat melalui aktivitas atau perilaku individu yang bersangkutan terhadap agama atau kepercayaan yang dianutnya.
Konsep ini mengemukakan keterlibatan individu dalam hal:
Satu, Ideological involvement (keterlibatan ideologi) : Yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatis dalam agama mereka masing-masing. Misalnya, kepercayaan terhadap hari akhir, surga dan neraka.
Dua, Ritual involvement (keterlibatan ritual) : Yaitu sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya.
Tiga, Experential Involment (keterlibatan pengalaman) : Yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman spektakuler yang merupakan keajaiban Tuhan. Dimensi ini bergerak dalam 4 tingkatan, yaitu : (1) Konfirmatif : merasakan kehadiran Tuhan atau apa saja yang diamatinya sebagai ciptaan Tuhan (2) Responsif : merasa bahwa Tuhan bisa menjawab kehendak dan keluhannya. (3) Eskatik : merasakan hubungan yang akrab dan penuh cinta dengan Tuhan.(4) Partisipatif : merasa menjadi kawan setia, kekasih atau wali Tuhan
Empat, Knowledge involvement ( keterlibatan ilmu) : Yaitu tingkatan sejauh mana seseorang mengetahui ajaran agamanya dan aktivitasnya dalam menambah pengetahuan agama. Misalnya mengikuti pengajian,membaca buku agama.
Lima, Consequential involvement (keterlibatan secara konsekuensi) : Yaitu dimensi yang mengatur sejauh mana perilaku seorang dimotivasi oleh ajaran agamanya atau sesuai dengan ajaran agamanya. Misalnya, etos kerja, hubungan interpersonal, kepedulian kepada penderitaan orang lain. Apakah seseorang setuju atau tidak terhadap perbuatan yang dilarang agama dan apakah seseorang mengerjakan atau tidak pekerjaan terebut.
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan hidup adalah sebagai hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila berhasil terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). “
Lantas, bagaimana hubungan antara nilai religiusitas dengan kebermaknaan hidup?
Menurut Meichati (1983), kehidupan beragama dapat memberikan kekuatan jiwa bagi seseorang untuk menghadapi tantangan hidup. Agama dapat pula memberikan bantuan moril dalam menghadapi krisis yang dihadapinya. Keyakinan beragama dapat meningkatkan kehidupan itu sendiri ke dalam suatu nilai spiritual. Hal tersebut menjadikan hidup seseorang bermakna dalam berbagai kondisi, memperoleh ketenangan dalam hidup, merasakan dan meyakini adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan sehingga akan memberikan kemantapan batin, bahagia, dan terlindungi.
Frankl (dalam Bastaman, 2007) dalam Logoterapi juga menjelaskan bahwa adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan. Individu dapat menemukan makna dengan menemui kebenaran melalui realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama (Frankl dalam Bastaman, 2007). Oleh karena itu dalam menemukan makna hidup dapat diperoleh melalui keterlibatan individu dalam aktivitas religius. Melaksanakan tata cara ibadah yang diajarkan agama, dilaksanakan dengan khidmat akan menimbulkan perasaan tenang, tentram, tabah serta merasakan mendapat bimbingan dalam melakukan tindakan ( Bastaman, 2000)
Toto Tasmara (2001) juga menyebutkan bahwa salah satu indikasi potensi kecerdasan ruhaniah atau religiusitas seseorang adalah cara seseorang memberikan makna terhadap hidup yang dijalaninya. Memberi makna hidup merupakan sebuah proses pembentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan hidup merupakan arah, rujukan, dasar pijakan, dan sekaligus hasil yang diraih. Seseorang merasakan kebahagiaan (happiness) apabila dengan sengaja atau benar-benar diusahakan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Hal ini berarti apa yang dilakukan individu merupakan panggilan hati nurani yang mendorong semangat untuk menghadapi tantangan perjuangan. Hal yang dirasakan merupakan hasil yang diperoleh dengan penuh makna. Bahkan sebelum dapat mencapai tujuan hidup sekalipun, individu sudah dapat merasakan nikmatnya hidup yang mempunyai arah tujuan (Tasmara, 2001).
Toto Tasmara (2001) memaparkan bahwa religiusitas berkaitan erat dengan semangat untuk melakukan perubahan nurani (sesuatu yang bersifat cahaya). Jadi Religiusitas merupakan kemampuan seseorang untuk menjalani hidup dengan berpadukan kepada cahaya Ilahi yang menerangi qalbu (hati) seseorang Bagi setiap orang yang beragama diwajibkan memenuhi kebutuhan batin (inner fulfillment) disamping kebutuhan ragawi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara merealisasikan nilai, keyakinan, dan prinsip beragama yang mengisi batin setiap individu. Hal ini merupakan upaya manusia untuk memperoleh makna hidup yang sebenarnya. Semangat untuk memberi makna hidup merupakan fondasi yang menjadikan manusia siap menghadapi beban dan segala tantangan hidup. Penderitaan yang dihadapi tidak membuat seseorang menyerah pada nilai-nilai eksternal tetapi diisi melalui nilai-nilai perjuangan yang siap menghadapi segala resiko yang harus dihadapi dengan keyakinan yang mendalam terhadap Sang Ilahi. Pada akhirnya keyakinan tersebut mengantarkan individu tersebut menjadi manusia yang optimis, independen dan tangguh untuk mengubah dirinya sendiri (Tasmara, 2001).
Rolloy May (dalam Tasmara, 2001) menambahkan bahwa kemampuan menempatkan diri dalam dimensi waktu dan dunia batin, memberi cinta dan kepekaan untuk menangkap sinyal-sinyal moral, melihat kebenaran, keindahan, dan memotivasi diri ke arah yang ideal.
Oleh karena itu Toto Tasmara (2001) menyatakan bahwa makna hidup adalah sesuatu yang dinamis, yang harus secara konsisten ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu melalui perbuatan terpuji, sikap dan perilaku berdisiplin yang akan menumbuhkan tanggung jawab moral yang tinggi. Jadi cara seseorang memberikan makna tentang hidup adalah seseorang yang seluruh gerak hidupnya merupakan keyakinan-keyakinan seseorang kepada Tuhannya yang dibuktikan dalam seluruh rangkaian amal-amal prestatif, yang merupakan faktor keyakinan (iman) untuk mendayagunakan kenyataan yang dihadapinya dengan adanya ruang, waktu dan gerak. yang dirumuskan Toto Tasmara (2001:145) sebagai berikut :
Makna Hidup = f Keyakinan Ilahiah (Ruang, Waktu, Gerak)
Keyakinan terhadap ruang merupakan keyakinan bahwa bumi, langit dan hamparan isinya adalah ciptaan Tuhan untuk manusia yang harus diolah dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Keyakinan terhadap waktu merupakan keyakinan bahwa hidup akan bermakna selama memberikan makna terhadap waktu, memahami nilai dan esensi waktu serta tidak menyia-nyiakan waktu dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sedangkan keyakinan terhadap gerak merupakan bentuk yang sangat fundamental dalam upaya seseorang mengisi makna hidupnya yang mencakup gerak batiniah (niat), gerak amaliah (aktivitas bertujuan) dan gerak kesalehan ( mempunyai nilai moral dan manfaat).
Jadi, bertambah sadar penghayatan individu terhadap makna kehadiran dan kesaksian Sang Ilahi terhadap dirinya, maka bertambah pula kualitas diri seseorang untuk mengisi hidup yang lebih bermakna (Tasmara, 2001).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar