Kamis, 24 Maret 2011

Pembelajaran adalah Perubahan



By Hernowo*

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa terjadi semacam "dialog batin" di dalam diri kita? Bagai­mana kita dapat merasakan bahwa ada dua macam "wajah" di dalam diri kita yang saling pandang dan mengungkapkan pandangannya? Bagaimana peng­alaman terbentuk? Apakah pengalaman yang membuat diri seseorang naik dari satu lapisan ke satu lapisan dera­jat yang lebih tinggi dikarenakan oleh "dialog batin" yang instens itu?
Apa sesungguhnya "dialog batin" itu? Apakah semua orang mengalami­nya? Apakah jika "dialog batin" itu benar-benar terjadi pada setiap orang, lantas berlangsungnya itu setiap hari, setiap menit, atau bah­kan setiap detik? Bagaimana cara mendeteksi semua ini ? Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa "dialog batin"-nya senantiasa berlangsung hebat dan bermanfaat bagi pertumbuhan dirinya?
Ada sebuah rumusan yang bagus dari Dave Meier berkaitan dengan soal-soal yang tidak gampang kita sepakati ini. Meskipun rumusan Meier ini tidak langsung menuju sasarannya, namun, saya rasa, pandangan Meier ini dapat memberikan semacam pijakan untuk mende­teksi lebih jauh tentang "dialog batin". Lewat rumusan Meier, yang sebentar lagi akan kita baca, tampak bahwa hampir semua yang sedang kita bicarakan ini—dan juga apa yang disinggung oleh pernyataan Ignas Kleden : berpusat pada satu kata: pembelajaran (learning).
"Penelitian mengenai otak dan kaitannya dengan pembelajaran telah mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan. Jika sesuatu dipelajari dengan sungguh­-sungguh, struktur internal sistem saraf kimiawi (atau elektris) seseorang pun berubah. Sesuatu yang baru ter­cipta di dalam diri seseorang—jaringan saraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru, dan hubungan baru," tulis Meier.
Nah, rumusan Meier tak hanya berhenti di situ. Meier kemudian memberikan kata-kata kunci yang layak kita perhatikan secara saksama, "Dalam proses pembelajaran,
para pembelajar harus diberi waktu agar hal-hal baru ini betul-betul terjadi dikedalaman dirinya. Jika tidak, tentu saja takkan ada yang melekat. Juga tak ada yang menyatu dan tak ada yang benar-benar dipelajari. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tak ada waktu untuk berubah, berarti tak ada pembelajaran yang sejati.
Dialog batin“ atau dialog-internal yang mungkin dijalani oleh seseorang, dalam tempo yang lama dan panjang, adalah sebuah pembelajaran. Hingga disini, dapat dikatakan bahwa diri yang berilmu adalah diri yang terus melakukan koreksi, instropeksi, dan perubahan diri. Tentu, perubahan diri yang terjadi adalah perubahan diri yang menarik. Bisa jadi, diri yang berubah, diri yang berilmu itu, mengalami dialog internal yang naik-turun. Namun, proses naik turun (up and down) itu berada pada area yang menanjak.
Secara fisik, ada kemungkinan kita dapat mengetahui diri kita berubah. Sakit dan sehat adalah bukti adanya perubahan diri dalam konteks fisik. Pada suatu saat diri kita mengalami kesegaran luar biasa. Namun, pada lain saat, diri kita mengalami kelelahan luar biasa. Kesegaran di satu pihak dan kelelahan di lain pihak inilah yang menunjukkan adanya dialog-internal di dalam diri kita yang terus berubah. Lewat proses sakit-sehat, sehat-sakit, dan seterusnya, tentulah diri kita yang bersifat fisik ini akan mengalami perubahan.
Nah, berkaitan dengan diri yang berilmu, ingin saya memakai sakit-sehat itu dalam konteks tahu dan tidak tahu atau memahami dan tidak memahami. Lebih tegas lagi, jika soal tahu dan tidak tahu dikaitkan dengan apa­kah sebuah dialog-internal kemudian melahirkan sebuah hasil yang nyata dalam bentuk sebuah diri yang berkem­bang, maka kits perlu mengganti konsep memahami dan tidak memahami dengan "menguasai dan tidak me­nguasai".{}

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Interaksi adalah Inti Mencari Ilmu


By Hernowo*

Seseorang yang sedang belajar atau mencari ilmu, pada hakikatnya, dia sedang menempuh dua jalur belajar. Jalur-belajar yang pertama bisa disebut sebagai jalur individual, sementara jalur lainnya bisa disebut jalu sosial. Proses pencarian ilmu mustahil sukses apabila si pencari ilmu tidak melakukan interaksi. Interaksi, saya kira adalah salah satu tahap penting dalam proses belajar yang efektif.
Apakah mungkin pengonstruksian ilmu berlangsung lancar tanpa si pencari ilmu terlibat aktif dengan diri sendiri atau orang lain ? Baik interaksi individual maupun interaksi sosial sangat perlu dilalui oleh seorang pencari ilmu. Interaksi individual yang sangat intens akan mendorong seseorang untuk merenungkan cocok-tidaknya ilmu yang dipelajarinya dengan karakter dirinya.
Lebih jauh, interaksi individual ini bagaikan semacam dialog internal, dialog batin, yang dialami setiap saat. Informasi yang masuk ke dalam dirinya tentu harus diolah dan di pilih. Apabila seorang pencari ilmu mampu menyadari soal ini, dan kemudian merasakan manfaat besar interaksi individual. Proses menolak dan setuju akan mengaitkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang dengan pengalaman konkret yang ada di dalam dirinya. Perlahan-lahan proses dialog itu akan memunculkan sesuatu yang baru yang cocok dengan dirinya dan tidak menyimpang dari hakikat ilmu yang  sedang dipelajarinya. Intinya, interaksi individual membuat seseorang untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar dapat menjadi miliknya.
Sementara itu, interaksi sosial membuka cakrawala bahwa apa yang dipilih ataupun diputuskan dari proses menjalani interaksi individual perlu dirumuskan dan dibenturkan dengan yang terjadi diluar dirinya. Ada kemungkinan, interaksi sosial (dalam bentuk pengalaman bergaul dengan orang lain baik itu dengan seorang guru atau dengan rekannya) ini tak pernah berakhir dan mendorongnya untuk mengaktifkan interaksi individual.
Inilah, lagi-lagi, proses pembelajaran yang sangat menarik dan mengasyikkan. Kedua jenis interaksi ini menunjukkan bahwa manusia itu terus berubah dan tak pernah berakhir menjadi makhluk yang final, selesai. Belajar membuatnya terus memperbaiki dirinya. Dari proses belajarlah seseorang terus berkembang. Orang yang sedang belajar, secara terus-menerus diminta membaca batinnya dan juga dunia luar yang kasat mata (yaitu perilaku manusia dan makhluk lain disekitarnya).
Sampai disini, saya kemudian teringat akan salah satu istilah dalam psikologi yang diciptakan oleh Carl Gustav Jung. Jung dikenal sebagai orang yang melontarkan tentang apa itu self. Dalam konteks pembahasan saya ini, Jung memiliki istilah yang sangat menarik yang disebut "individuasi". Saya tidak dapat membahasakan istilah ini lebih baik kecuali harus mengutip rumusan yang diciptakan oleh Armahedi Mazhar. Dalam rumusannya, "individuasi" –nya Jung itu dijabarkan lewat kata-kata yang sangat indah. Apa itu ? itulah sebuah proses yang harus dialami oleh setiap manusia dalam bentuk "meruntuhnya kepribadian lama dan mengutuhnya kepribadian baru". Saya menganggap bahwa hakikat hidup kita ya seperti itu. Kita baru dapat merasakan bahwa pengalaman itu sangat penting apabila kita mau, secara serius , belajar dari pengalaman kita. Merujuk ke Ignas Kleden : Kemajuan bukanlah jumlah pengalaman, melainkan refleksi atas pengalaman, yaitu kemampuan untuk mempelajari sesuatu dari pengalaman. Pengalaman memang susuatu yang berlalu, tetapi yang tetap tinggal adalah maknanya, yang baru muncul apabila seseorang sanggup melakukan sintesis berbagai peristiwa dan menerjemahkan menjadi suatu idea, pengertian atau gagasan yang senantiasa dapat dipegangnya. {}

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut