Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2014

"Cerita, "Keberuntungan atau kemalangan?"

"Cerita, "Keberuntungan atau kemalangan?"

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak Tani, sungguh malang nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …” Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.

Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …”

(sumber : arifperdana.wordpress.com)
~~~

Sahabat, kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai “kesialan”, barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju “keberuntungan” . Maka orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk “menghakimi” kejadian dengan label-label “beruntung”, “sial”, dan sebagainya.

Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu “kesialan”, manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.

Maka berhentilah menghakimi apa –apa yang terjadi hari ini, kejadian –kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun namanya . . . .yang selama ini kita sebut dengan “kesialan” , “musibah ” dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu.

“Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja.”

Hal semacam ini juga sering terjadi pada diri kita jika kita mau memperhatikannya. Pertanyaannya, Apakah Anda sekarang mengalami Keberuntungan Atau Kemalangan ?

Trimakasih telah membaca...

Salam Motivasi !"

Copas-** mempublikasikan ulang, semoga makin memberi inspirasi untuk semuanya.

Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

Diposkan oleh Abu Nida 

“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”
Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26. 

”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3. 

”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3. 

”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” 

Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”

Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya. 

“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat. 
“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”
Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”
Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.
“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”
“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”
“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya. 

Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu. 

[Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]

SUMBER : http://www.bersamadakwah.com/2013/04/kisah-keajaiban-6-amalan-hutang-lunas.html?m=

Rabu, 16 Februari 2011

Karena Iman Mempunyai Bukti

By Oki Aryono


”Iman itu bukan sekadar angan-angan atau hiasan, tetapi iman itu adalah sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan” (Al-Hasan Al-Bashri, riwayat Ibnu Abi Syaibah).
Atsar (ungkapan) indah yang dilontarkan salah satu tokoh dari kalangan tabi’in (para pengikut sahabat Nabi saw.) menyadarkan kita akan satu hal: bukti keimanan. Iman akan meninggalkan jejak yaitu sikap & perbuatan. Sangat banyak bukti-bukti iman yang dalam bahasa hadits disebut cabang iman. Nabi saw. bersabda, ”Iman itu terdiri dari 70 cabang lebih (riwayat lain: 60 cabang lebih). Cabang yang paling tinggi adalah membaca la ilaha illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di tengah jalan, dan malu termasuk cabang dari iman” (muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah ra dalam Riyadush Shalihin no. 125). Berikut ini sedikit dari berpuluh cabang iman berdasar Al Quran & sunnah Rasulullah saw: 

1. Membaca kalimat tauhid 
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak diibadahi), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali Imran 18).
Saking agungnya, kalimat la ilaha illallah lebih berat dari seluruh benda langit dan bumi serta isinya. Abu Said Al Khudri ra meriwayatkan hadits Nabi saw, ”Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku akan berzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman, ‘Wahai Musa ucapkanlah laa ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya 7 tingkat langit dan apa yang ada di dalamnya serta 7 lapis bumi,  selain Aku, diletakkan di suatu timbangan dan laa ilaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan lebih berat timbangan laa ilaha illallah (HR. Ibnu Hibban, Hakim, dishahihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/28).
Nabi saw. bersabda, “Siapa saja bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah haramkan neraka baginya" (HR. Muslim). 

2.      Rasa malu
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau sudah tidak punya rasa malu lagi, maka perbuatlah apa yang engkau suka” (HR. Bukhari). Malu merupakan salah satu tema yang telah diajarkan oleh para nabi sejak dulu kala dan tidak terhapus hingga kini. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun. Iapun misalnya jadi tidak lagi malu berbuat dosa dan maksiat.
Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Malu berbuat maksiat, malu mengambil hak rakyat dengan zalim, malu berpakaian ketat dan terbuka auratnya di luar rumah, malu kepada keluarga, guru, masyarakat, dan terutama malu kepada Allah swt.
Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya. Namun dalam hal menuntut ilmu dan mengajarkan kebenaran kita tidak boleh malu. Ada pepatah populer berbunyi malu bertanya sesat di jalan. Agaknya pepatah ini selaras dengan firman-Nya, “…dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar…” (QS. Al Ahzab 53).   

3.      Menjaga kebersihan
Di banyak lokasi di tepi jalan atau di tempat umum selalu ada imbauan menjaga kebersihan yang dilengkapi penggalan ungkapan yang dinisbatkan secara tidak shahih kepada Nabi saw artinya kebersihan sebagian dari iman. Sabda Nabi saw. yang shahih berbunyi (artinya), “Bersuci sebagian dari iman, alhamdulillah dapat memenuhi timbangan (timbangan kebaikan seorang hamba pada hari kiamat, Red.), subhanallah dan alhamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya (dikatakan cahaya karena shalat dapat menunjukkan seseorang kepada perbuatan yang baik, Red.), shadaqah adalah bukti (Bukti akan kebenaran keimanannya, Red.), Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu. Semua manusia berangkat menjual dirinya (Menjual dirinya, baik kepada Allah ta’ala dengan menta’ati-Nya atau kepada setan dengan membangkang), ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang menghancurkan dirinya” (HR. Muslim).
Karena itu, tingkat kebersihan diri dan lingkungan sekitar kita merupakan bukti nyata kadar keimanan kita. Apakah kita termasuk yang tanpa rasa bersalah membuang tisu ke jalan saat berkendara, membuang bangkai tikus di jalan, membuang sampah di got, dll? Ataukah kita termasuk bersabar untuk sementara menyimpan tisu kotor di saku kita sampai ketemu tempat sampah?
Di setiap kitab fiqih, para ulama selalu mendahulukan bab Thaharah (bersuci). Jadi, kebersihan itu  termasuk qodhoya imaniyah (masalah keimanan) dan qodhoya islamiyah (masalah keislaman). Dan minimal 5 kali kita berdoa agar Allah swt. menjadikan kita orang yang suka bersuci. Setelah berwudhu kita dianjurkan membaca Allohummaj ‘alnii minattawwaabiina waj’alnii minal mutathohhiriin ’ Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci.” Karena Allah swt. senang dengan orang yang suka bersuci, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al Baqarah 222). 
Orang yang rindu akan surga Allah pasti akan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sebab Nabi saw. bersabda Al islamu nadhifun. Fatanadhdhafu. Fainnahu la yadkhulul jannata illa nadhifun ’Islam itu bersih. Maka, cintailah kebersihan. Sebab, tidaklah masuk surga kecuali orang yang bersih.’ 

4.      Bertutur kata yang baik 
Abad 21 ini bisa disebut era informasi dan komunikasi. Makin banyaknya perangkat komunikasi ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi itu sendiri. Ada telepon, SMS, MMS, teleconference (3 G), chatting, email, via Facebook, Tweetter, dll. Karenanya, akhlak bertutur kata menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah komunikasi. Tak sedikit kasus pencemaran nama baik terjadi di internet. Karena kata-kata di dunia maya mewakili lisan pelakunya. Hingga muncul istilah mulutmu harimaumu.
Islam memandang masalah tutur kata sebagai cerminan tingkat keimanan seseorang. Nabi saw. bersabda, ”Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berbicara baik atau diam” (HR. Al Bukhari 6089 dan Muslim no. 46 dari Abu Hurairah ra). 
Tutur kata juga bisa mengantarkan seseorang ke surga atau malah ke neraka. Haniy bin Yazid ra bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga?” Nabi saw. menjawab, “Sesungguhnya hal-hal yang dapat mengundang ampunan (Allah) adalah mengucapkan salam dan perkataan yang baik” (HR. Thabrani). Demikianlah, perkataan baik mampu mengantarkan orang ke surga dengan izin Allah. Begitu sebaliknya, ucapan buruk (gunjingan, fitnah, hasutan, dll.) bisa menimbulkan kerusakan dan siksa-Nya. 

5. Tidak menyakiti tetangga 
Tetangga ibarat saudara ‘terdekat’ kita. Merekalah yang paling dahulu mengulurkan tangan jika kita butuh bantuan. Seolah-olah mereka telah menjadi saudara kita meski terkadang tidak ada hubungan darah. Etika bertetangga menjadi sangat penting ketika kehidupan modern saat ini cenderung materialistik dan individualistik.
Bertetangga menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Dalam suatu kesempatan, Nabi saw. bersabda, “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya” (Muttafaq alaihi). Di lain redaksi, Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari).(dari berbagai sumber).{}

8 Hal Penting Yang Harus Kita Perhatikan


8 masalah pokok yang disampaikan Syeikh Hatim Al-Asham kepada gurunya sebagai hikmah atas ilmu yang ia dapatkan dari sang guru :
ü    Beliau berkata pada gurunya “ wahai guru, selama ini aku telah menguraikan pikiran, ternyata setiap orang yang hidup didunia mestilah ada sesuatu yang dicintai. Boleh jadi hal itu berupa materi ataupun anak istri dan dan lain-lain. Aku mencermati pula, ketika mereka itu mati, maka apapun yang dicintai pasti ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang bisa bersamanya di dalam kubur. Aku segera membuat siasat baru, perkara apa yang kiranya bisa bersamaku ketika aku telah dikuburkan. Maka aku segera menemukan. Tiada lain adalah amal-amal kebajikan, itulah yang bisa bersamaku didalam kubur. Dengan demikian amal-amal itu aku perbanyak untuk bekal yang akan menyertaiku nanti ketika aku telah mati” begitu tutur Syeikh Hatim.
ü   Yang kedua, beliau mengatakan “ aku telah menyadari, bahwa apa yang dikatakan Allah seratus persen benar, konsekuensinya, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengekang hawa nafsu, kemudian aku arahkan kepada berbagai ibadah dan ketaatan lain, terbukti nafsu itu menurutkan apa yang menjadi kehendakku”
ü   Yang, ketiga, “setiap orang yang mempunyai kekayaan akan berusaha sekuat tenaga, untuk membela dan melindungi kekayaannya itu, namun setelah aku memikirkan firman Allah: Apa yang disisimu akan lenyap (habis) dan apa yang disisi Allah adalah kekal (QS 16:96). Dengan demikian jika saja ada harta atau kekayaan yang jatuh dalam tanganku, maka segera aku arahkan kepada kepentingan Allah agar menjadi kekal, terjaga pila disisi-Nya
ü   Keempat, Syeikh Hatim Al-Asham mengatakan “ selama ini aku telah meneliti dan mengamati bahwa seluruh kemuliaan yang dibanggakan manusia itu berpangkal pada harta, keturunan, pangkat dan ras masing-masing. Setelah aku pikirkan masak-masak, ternyata semua itu hanyalah bayangan maya, sangat relatif. Namun ketika aku membuka kitabullah yang menjadi tutunan manusia, disana aku temukan. sesungguhnya orang yang paling mulia dari kamu sekalian adalah mereka yang paling takwa. Qs.49:13) Sejak itu aku berusaha keras untuk meraih martabat takwa yang setinggi-tingginya dengan harapan akan menjadi orang yang paling mulia disisi Allah”
ü   Yang kelima, “ telah begitu lama aku mencermati pada kehidupan ini, dimana perjalanan hidup manusia selalu diwarnai dengan saling memperolok, saling mengumpat dan saling menjatuhkan antara orang yang satu dengan yang lain. Penyebab semua itu tiada lain ada kedengkian serta menghindar dari mereka yang bersikap dengki, sebab nasib dan bagian setiap orang didunia ini telah ditentukan oleh-Nya. Dengan demikian tidak ada manfaat jika aku harus mendengki atau memusuhi orang lain”
ü   Yang keenam, “aku mencermati dan pula bahwa dalam hidup ini ternyata sebagian besar manusia masih memahami hukum rimba, dimana yang kuat dialah yang menang, oleh karena setiap kelompok selalu merasa yang terlihat dan yang paling berkuasa, maka terjadilah apa yang terjadi. Mereka saling bunuh antar kelompok dan antar sesama, saling menfitnah dan saling hujat. Maka langkah selanjutnya, aku jadikan dia sebagai musuh satu-satunya dengan mengenyampingkan makhluk-makhluk lain, disamping selalu berjaga-jaga diri agar tidak diserobot tipu dayanya. Sikapku yang seperti ini tiada lain telah didorong oleh kebijaksaan. Allah mempersaksikan bahwa dia adalah musuh yang nyata”
ü   Ketujuh, aku lihat seluruh manusia telah berlomba-lomba untuk mencari sesuap makanan untuk mengganjal perut mereka. Hal ini telah menjerumuskan mereka pada saling menghinakan dan sering pula terperosok pada makanan yang tak halal bagi mereka disamping banyak pula yang berlebihan mengurus perut. Kemudian aku sadari bahwa diriku ini termasuk sesuatu yang merangkak. Dengan demikian rizkiku juga telah ditanggung Allah. Selanjutnya aku tinggal mengerjakan apa yang diwajibkan Allah kepadaku, tidak mengurus lagi apa yang menjadi tanggung jawab Allah”
ü  Kedelapan, “telah aku cermati dan aku teliti pula, ternyata kebanyakan manusia itu selalu menyandarkan kehidupannya pada makhluk atau pada tuan-tuan yang dianggap memberi rizki kepada mereka.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut