Rabu, 23 Maret 2011

Anak Sempurna Atau Anak Bahagia?*


By Basilia Subiyanti W.

Anak adalah anugrah berharga dan juga amanah yang diberikan Allah swt. tempat kita meneruskan cita-cita, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi masa depan yang beriman, cerdas, sehat, berakhlaq mulia, dan bermartabat. Kita memiliki tanggung jawab yang luar biasa ‘besar’ untuk memberikan yang terbaik dan membekali anak-anak kita dengan segala hal yang diperlukan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses dan berhasil. ”Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim).

Dilema orang tua modern
 “ Teman anda bercerita bahwa putrinya sedang dalam daftar tunggu di bimbingan tes untuk ujian SPMB. Anak tersebut baru kelas 3 SLTP. Anak Anda juga. Ujian SPMB masih tiga tahun lagi. Anda menjadi khawatir. Apakah sebaiknya putri anda akan didaftarkan juga?”

Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua modern zaman sekarang, mengingat di tengah zaman yang super kompetitif ini, anak-anak juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi yang super juga. Media massa, khususnya televisi telah banyak mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri dan keluarga termasuk cara mendidik anak. Para orang tua modern kian banyak yang terobsesi dengan citra ideal di tayangan-tanyangan televisi (red:sinetron). Orang tua sangat berharap kelak anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sukses dengan gaya hidup ideal. Dan disebabkan anak-anak masih belum tau apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka, sangat penting bagi orang tua untuk mempersiapkan anak-anak menjadi sebaik dan setepat mungkin. Peran orang tua teramat penting disini, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak menuju masa depan. Alhasil, disebabkan mereka takut dan di hinggapi rasa khawatir yang berlebihan jika tidak ada usaha yang terus menerus dalam memacu prestasi anak-anak, ketika dewasa nanti anak-anak tidak dapat berkompentesi dan akhirnya gagal. Hal inilah menjadikan tuntutan orang tua kian meluas. Anak harus menuruti semua perintah dan tuntutan orang tua. Mereka menuntut anak-anak agar mengikuti  apa yang menjadi kemauan para orang tua, dengan keyakinan  tuntutan tersebut adalah yang mereka anggap paling baik bagi anak-anak.

Harga Kesempurnaan
Harapan orang tua agar masa depan anaknya kelak bahagia,  anak harus menjadi  sukses dalam segala hal. Ironisnya, sukses dalam segala hal hanya dipandang dari segi materi. Kebahagaiaan dan kesuksesan hanya jika kelak anak-anak kita sudah menjadi seorang yang berkecukupan, rumah bagus, mobil mewah, menduduki  jabatan strategis di suatu perusahaan atau instansi.  
Jalan menuju kebahagiaan sebenarnya sederhana, namun seringkali orang tua “terjebak” dalam peta yang keliru tentang kebahagiaan. Orang tua ingin anaknya bahagia, namun kebanyakan orang tua menyamakan ukuran kebahagiaan identik dengan hasil yang diperoleh bukan bagaimana proses menuju kesuksesan tersebut. Ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang “sempurna” melahirkan begitu banyak tingginya tuntutan bagi anak-anak. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anaknya dapat dikategorikan anak yang sukses dan berprestasi. Bukan hanya prestasi akademik dan olahraga bahkan penampilan fisik pun nyaris harus dinilai, bukan diterima apa adanya. Tak heran jika sebut  saja Ria (red:bukan nama sebenarnya) seorang gadis berusia empat belas tahun mendapat hadiah ulang tahun dari ibunya berupa operasi plastik pada hidungnya, awalnya Ria kurang menyetujuinya, tapi karena ingin menyenangkan hati ibunya pada akhirnya Ria pun menyetujuinya.

Push Parenting
Sebagian besar misi orang tua adalah melepaskan anak ke dunia, siap dengan persenjataan lengkap agar dia selamat dan juga sukses. Anak-anak dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nantinya mereka berhasil dan dapat bersaing dengan yang lain. Masalah baru yang timbul, yakni jika orang tua menggunakan petunjuk yang berasal dari budaya pengasuhan yang dilakukan orang tua saat ini dan bukan dari pemahaman anak-anaknya. Bagi banyak orang tua, persaingan menuju perguruan tinggi negeri ternama, di mulai sangat dini dan menjadi motivator di balik berbagai keputusan yang di buat orang tua. Orang tua terlalu mendominasi seluruh kegiatan anak-anaknya, anak-anak seolah tak memiliki ruang & waktu bagi dirinya sendiri, dan semuanya berubah menjadi penuh tekanan. Pola pengasuhan demikian adalah pola pengasuhan yang terlalu menuntut (Push Parenting) mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, menuntut prestasi tinggi di sekolah dan berbagai bidang lain dengan segala cara (emosional, psikologis dan fisik). Orang tua tidak dapat membedakan antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka. Menjadikan anak sebagai pusat jagat raya, lupa sama sekali jika anak itu tetaplah hanyalah seorang anak-anak, yang perlu diberi ruang, bimbingan dan batasan. Anak-anak sibuk dengan jadwal yang ditetapkan orang tua, ia merasa menjadi pihak yang tertekan bahkan hubungannya menjadi renggang dengan anggota keluarga karena padatnya jadwal yang harus diikutinya.
Ketidakinginan memisahkan diri dari anak kita dan ketidakmampuan untuk memikul peran sebagai orang tua menghasilkan dua model pengasuhan anak dan dua jenis anak : “Anak yang menjadi “pusat dunia” dan “miniatur diriku”.  Anak-anak ini tumbuh menjadi dewasa dengan  menyesuaikan kebutuhan orang tua. Orang tua memonitor seluruh kegiatan anaknya. Pagi hingga sore hari harus bersekolah (full day school), tiba dirumah harus pergi lagi untuk mengikuti segala macam kursus-kursus yang dipilihkan orang tua, karena dianggap apa yang diinginkan orang tua adalah yang terbaik bagi anak, suka atau tidak. Minat anak pun harus diabaikan. Saat anak-anak lebih berminat kursus di bidang musik atau olah-raga, harus dilarang oleh orang tua dan di paksa mengikuti kursus matematika atau komputer karena matematika atau komputer dianggap lebih baik dan lebih populer ketimbang olah raga. Orang  tua harus mencampuri persahabatan anaknya, mengawasi hubungan anak dengan guru dan pelatihnya  juga hubungan dengan teman-temannya.  Ada juga selain anak-anak harus diantar kesana kemari, les itu les ini, anak-anak sudah harus mulai bersekolah ketika baru beberapa bulan terlahir di dunia. Batita digiring setiap hari mengikuti kelompok bermain. Mereka juga harus masuk TK favorit, SD favorit, SMP favorit, kemudian SMU unggulan, dan akhirnya sukses masuk perguruan tinggi ternama, agar berhasil di dunia kerja. Semua fasilitas lengkap tersedia : buku, komputer, mainan canggih yang memberikan stimulasi pada otak, guru privat di rumah, bimbingan belajar, dan segala macam kursus.

Anak Sempurna  atau Anak Bahagia
Tren pengasuhan anak dengan “push parenting” seolah-olah mendapat pembenaran karena tujuannya sangat baik yakni demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Tanpa disadari, tuntutan yang mereka berikan menjadi berlebihan dan akibatnya sebenarnya justru berdampak yang buruk bagi anak. Jika sang anak cukup mampu mengikutinya bukan menjadi problem bagi kita, namun jika orang tua mengabaikan bahwa sebenarnya sang anak merasa terbebani dengan hal ini, apalagi secara kemampuan intelektual tidak mendukung, maka hal inilah yang sebenarnya akan merugikan bagi sang anak sendiri. Dampak buruk bagi anak akibat “push parenting” antara lain :

Pertama, hal ini akan menciptakan anak rawan terhadap stress dan depresi.
Prestasi dini hasil rangsangan orang dewasa pada anak-anak yang masih muda akan menghasilkan pembelajar yang pencemas.  Disamping kecemasan, anak yang dipacu dapat menderita hambatan berperilaku (inhibition). Sama halnya seperti diri kita, terkadang saat kita dihadapkan pada kondisi sulit, saat menghadapi ujian atau memberikan presentasi, ketika kita dilanda rasa gugup akibat perasaan tertekan atau takut (red: cemas) akan berpengaruh terhadap kinerja meski sudah dipersiapkan dengan matang dan sebaik mungkin, kita tidak dapat melanjutkan presentasi karena kehilangan rasa percaya diri dan keyakinan terhadap kemampuan kita untuk melakukannya.

Kedua, pendidikan yang mementingkan prestasi umumnya mengabaikan kepribadian.
Terlalu sibuk memacu prestasi akhirnya melupakan tanggung jawab akan pembentukan kepribadian anak. Sebagaimana kasus ini : Sebut saja Tedi (red: bukan nama sebenarnya) adalah contoh khas anak yang dipacu. Di Sekolah Dasar (SD) dia berhasil karena perhatian orang tuanya yang terpusat dan penghargaan dari orang tuanya, tetapi orang tua Tedi tidak pernah mengembangkan imajinasi atau perasaan bahwa dia mampu. Motivasi untuk mencapai kesuksesan bukan dari dalam dirinya sendiri.  Pada masa-masa awal semuanya dapat berjalan lancar, namun apa yang terjadi jika anak yang dipacu mencapai masa remaja? Seperti “menabrak kipas angin!”.  Orang tua yang telah sukses merekayasa berbagai aspek kehidupan sosial, atletik, dan kependidikan anak, mereka menemukan bahwa begitu anak melewati masa pubertas, anak yang tadinya penurut tiba-tiba seperti menekan rem dan berhenti. Anak seperti Tedi yang dipacu di luar batas dengan keterbatasan kemampuannya, pada masa pubertas, masa dimana yang paling sulit untuk pertama kali dalam hidupnya  harus  melewatinya tanpa ketangguhan diri yang tidak dimilikinya. Apa yang terjadi ? Anak-anak lain, yang mungkin memang berbakat dan pandai, mulai mempertanyakan setiap aspek kehidupan, hubungan mereka dengan orang tuanya, apa yang menjadi keinginan dan cita-cita dirinya yang sebenarnya, dan memutuskan tidak lagi bersedia mengikuti cita-cita orang lain. Sedang, anak yang dipacu secara khas, mereka akan menjadi remaja pembangkang, bingung, mudah berputus asa dan akan sulit mengahadapi berbagai masalah-masalah remaja yang dilaluinya. Jika orang tua terhadap anaknya lebih filosofis, tidak hanya memacu prestasi namun juga menanamkan nilai-nilai luhur sebagai pembentukan karakter kepribadiannya misalnya menjadi anak yang jujur, disiplin, produktif, kreatif dan berinovasi. Anak-anak akan cenderung bereksperimen dan mencoba hal-hal menarik minat mereka dan pada akhirnya pelan-pelan akan memiliki cita-cita pribadi. Mereka juga akan membiasakan diri mengatasi kegagalan dan melihat dunia sebagai tempat dimana mereka masih punya kendali atas hasil dari suatu situasi. Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka, menikmati kesuksesan mereka dan belajar dari kesalahan mereka sendiri.

Ketiga, kehilangan kebersamaan yang bermakna dalam keluarga.
Konsekuensi “push parenting” adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam berbagai bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama pembimbing, guru les mereka dan lebih sedikit waktu bersama orang tua. Karena sebagian orang tua merasa aman jika anak belajar dengan mendapat bantuan tenaga professional, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Padahal, menjadi hal yang terpenting bagi anak saat kebersamaannya dengan orang tuanya. Bagi orang tua, membicarakan bagaimana prestasi sang anak lebih penting dan mengecam setiap kegagalannya, daripada bincang-bincang santai di meja makan, di depan televisi atau berkelakar di depan tempat tidur. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua melalui percakapan dari hati ke hati yang bermutu akan membawa “chemistri“ dan energi positif untuk saling membangun keintiman, menolong anak untuk menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak.

Hidup kita, seperti kebanyakan yang lain, telah diubah oleh anugrah berharga yang ditawarkan anak-anak setiap hari, andai saja kita mau melihat, mendengarkan, dan belajar dari pelajaran yang anak kita berikan. Ternyata anak-anak yang lebih banyak memberi pada kita. Seperti Rainsford dalam kutipannya : “Mencintai anak bukan berarti mempermudah hidup mereka, melainkan membantu mereka melampui rasa sakit “. Doa kita,  semoga kelak anak kita menjadi anak anak-anak yang sukses, yang bahagia bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain serta menjadi anak yang shaleh, rahmatan lil ‘alamin bagi alam semesta. Amin. {BSW}

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut