Minggu, 20 Februari 2011

CATATAN HARIANKU >> Nyanyian Jiwa...


Surabaya, 8 Agustus 2006
06.00 AM  
Pagi hari…

        
Memandang ke laut lepas..
Mentari kian meninggi, desiran angin dan ombak semakin mengusik hatiku
Sebuah pesona kian indah, dari langit gelap menjadi langit biru berpendar cahaya mentari yang kian bersinar terang
Gulungan ombak menghantam pantai dengan suara mendebur..sesaat air berbuih putih nyaris singgah menghampiri batu yang kududuki, riak putihnya dengan cepat surut kembali. Tiba-tiba sepotong kayu yang terapung menghantam batu-batu pinggiran pantai..Sebelum sempat menyentuhnya, lidah air lebih dulu menangkap potongan kayu itu dan menariknya kembali ke laut. Selama beberapa saat, potongan kayu itu tampaknya berusaha keras untuk tetap bisa berada di pantai. Ia meninggalkan bekas-bekasnya dipantai, sebelum akhirnya masuk kembali ke air, dimana ia terombang ambing hebat untuk kemudian menyerah pada kekuatan laut.
Pandanganku terpaku pada potongan kayu itu—mengingatkan pada apa yang kualami dan kurasakan saat ini, yaaach.. Rabb Engkaulah Sang Maha kuat, apalah dayaku kini, selain pasrah terhadap kekuatanMu..

“Mungkin saat ini diantara kita ada yang punya banyak masalah. Seringkali gagal atau tengah dirundung cobaan pada diri kita, keluarga kita atau pada proses belajar kita, urusan apa saja yang lainnya. Mungkin kita sedang diuji oleh Allah dengan ujian yang berat. Tanpa orang lain tau dan mau tau. Seakan segala kesulitan menggunung pada diri kita sendiri. Mungkin juga apa yang telah kita rencanakan, kita susun, kita atur sedemikian rupa, berjalan tidak sesuai yang kita harapkan.”

Ya..Rabb..

“ Kita harus tetap punya cita-cita. Dan kita harus mengejarnya. Tetapi tetap saja, harus ada ruang gelap yang kita sisakan, untuk segala ‘kata akhir’ dari kehendak Allah SWT. Pada ruang gelap itulah, kita menambatkan seluruh iman kita, agar kita tak jadi latah bila mendapat karunia, tidak juga putus asa bila menerima bencana.”

Lantas??
“Terkadang, apa yang kita inginkan bisa terkabulkan, sementara, tak jarang pula rencana yang sudah kita susun baik-baik justru gagal total. Tak mudah dicerna manusia. .”

untuk dan karenanya tetap diperlukan ruang gelap sebuah pengharapan, setiap waktu, setiap saat, kita harus menyelami dan memperbarui ‘simpul-simpul pengharapan’  itu. Percayalah bahwa setiap kehendak Allah untuk seorang mukmin selalu baik. Apa pun bentuk kehendak itu. kehendak yang menyenangkan, tentu baik untuk kita. Tetapi sebatas itu kehendakNya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah ‘paksakan’ untuk kita. Karena memang hanya Dialah yang mengetahui hal yang terbaik untuk kita.

So, Ya Rabb...
Hanya padaMu kuserahkan segalanya, I believe that it’s the best for me… ***



Semua orang ingin bahagia. Cara orang mengejar kebahagiaan berbeda-beda. Ada yang semu dan ada yang sejati. Yah..sisi luar kebahagiaan memang relatif. Tetapi sisi dalam dari sebuah kebahagiaan itu ada dihati. Pada sisi dalam inilah, tempat kebahagiaan diukur, apakah semu atau sejati..so, sekali lagi dengarkan kata hatimu, bukankah engkau menginginkan kebahagiaan yang sejati?? ***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut