Surabaya, 13 Februari 2011
SENJA ITU....
Menjelang maghrib, saat hujan rintik-rintik…
Hujan masih rintik-rintik, kesunyian mendera. Langit tampak masih mendung.
Titik-titik hujan merangkai lukisan dikaca jendela rumah.
Duduk termenung dan memandang halaman rumah..
Hujan senantiasa memberiku inspirasi–inspirasi tak terduga.
Bisa dari harmonisasi suara titik-titiknya, semerbak harumnya tatkala bersatu dengan tanah, perpaduan gerak tetes-tetesnya, membentuk gambar-gambar lembut dimana-mana, juga di hati ini.
Entah mengapa, seperti film dokumenter, berputar menghadirkan sekian episode masa lalu. Begitu hidup, begitu dekat..
Senja ini membuatku termenung dan tersadar, waktu begitu cepat berlalu.. Padahal, rasanya segalanya yang kulalui seperti baru kemarin-kemarin terasa..
Seperti kata Ifah Afianti (Red: Penulis Buku Catatan Seorang Ukhti), bicara soal hujan adalah bicara soal TAKDIR. Seperti turunnya hujan ke bumi, menjadi penyubur & penyejuk, sekaligus menjadi bencana dan penyakit, maka masa-masa yang kita lewati juga adalah kehendaknya. Hidup kita bukanlah diri kita yang memiliki, Tapi Allah yang punya. Segalanya mesti kujalani dan kita lalui.
Meski tumbuh diatas tanah yang sama, dibawah guyuran hujan yang sama, setiap batang rumput dan pohon tumbuh dengan caranya yang berbeda-beda.
Tak ada alur dan jalan hidup yang sama, yang dilalui setiap orang. Semuanya selalu berbeda.
Tak ada juga jalan hidup yang datar tanpa gelombang. Semuanya selalu memiliki dinamikanya sendiri-sendiri.
Tidak ada seorang pun yang menjalani hidup dalam kondisi selalu senang. Tidak juga selamanya dalam kesulitan. Semua selalu bergantian, bersisipan antara senang dan sedih, lapang dan sulit. Begitulah..
Hidup seperti sehelai kertas kosong, tiap kita dan segala peristiwa adalah cerita yang ditulis diatasnya.
Perjalanan kehidupan adalah buku yang harus dipelajari dan diambil hikmahnya. Sebab itu Rosulullah memandang seseoarang tidak dilihat dari panjang pendek usia hidupnya melainkan pada bagaimana ia bisa memanfaatkan kesempatan hidup yang dimilikinya.
Kalau kita menerima takdir dan keputusan Allah. Hidup ini akan menjadi tenang. Tapi kalau kita menolak takdir kita mesti bertarung dengan perasaan kita yang sungguh menyakitkan.
Adzan maghrib berkumandang… hujan mulai reda..
Titik titik hujan masih membasahi
kala kau menyapa pelangiku
ingin ku berlari
jumpa bidadari
bawalah aku pergi bersamamu..
Surabaya, 8 Februari 2011
Saat hati ini bertanya pada diri.."Apa arti KETULUSAN?"
Berbicara ketulusan. Sebuah kata sederhana, mudah namun sulit untuk dilakukan. Integrasinya tak semudah pengucapannya. Ketulusan adalah sebentuk kerja-kerja batin. Tentang bagaimana kita bersikap dan memberi arti atas banyak hal. Arti hidup, arti sebuah tindakan, pilihan dan bahkan arti dari sebuah pengorbanan. Seni yang paling rumit dari menata ketulusan, justru terletak pada lingkaran-lingkaran luar yang mengitarinya, yakni bagaimana memandang ketulusan itu sejauh mana kuat atau lemah argumen pikiran itu melandasi ketulusan, bagaimana kita meletakkan ketulusan itu, dalam konteks kehidupan sehari-hari yang kita jalani, untuk dan dengan tujuan apa..
Berbicara ketulusan. Sebuah kata sederhana, mudah namun sulit untuk dilakukan. Integrasinya tak semudah pengucapannya. Ketulusan adalah sebentuk kerja-kerja batin. Tentang bagaimana kita bersikap dan memberi arti atas banyak hal. Arti hidup, arti sebuah tindakan, pilihan dan bahkan arti dari sebuah pengorbanan. Seni yang paling rumit dari menata ketulusan, justru terletak pada lingkaran-lingkaran luar yang mengitarinya, yakni bagaimana memandang ketulusan itu sejauh mana kuat atau lemah argumen pikiran itu melandasi ketulusan, bagaimana kita meletakkan ketulusan itu, dalam konteks kehidupan sehari-hari yang kita jalani, untuk dan dengan tujuan apa..
Ilustrasi sederhananya, seperti cermin. Tak ada yang lebih tulus dari cermin. Tempat kita mengaca setiap pagi. Menatap wajah diri dengan sejuta rasa. Cermin berbicara dalam puncak kejujurannya, diam dan memberi tau apa adanya.
Seperti juga saat kulihat bagaimana ketika seorang tukang becak menggayuh becaknya ditengah derai hujan, seperti bapak kuli bangunan meski sudah tua renta tetap mengangkat beban yang seharusnya masa tuanya sudah selayaknya dinikmati dengan indah namun tetap masih harus menghabiskan sisa waktunya dengan kerja keras demi menghidupi keluarganya, melakukan dengan penuh cinta. Untuk sebuah cinta bagi keluarganya. seperti… yah, masih banyak ketulusan-ketulusan yang lain.. yang tanpa kita sadari banyak yang mengabaikan bahkan sama sekali tak menjadikannya bermakna. Sama sekali.
Begitu banyak orang yang melakukan sesuatu dengan ketulusannya. Bahkan kadang-kadang tak terbingkai oleh rasio, melakukan sesuatu yang sangat sederhana namun penuh ketulusan dan sungguh itulah sesuatu yang mengagungkan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar