Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2011

Anak Sempurna Atau Anak Bahagia?*


By Basilia Subiyanti W.

Anak adalah anugrah berharga dan juga amanah yang diberikan Allah swt. tempat kita meneruskan cita-cita, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi masa depan yang beriman, cerdas, sehat, berakhlaq mulia, dan bermartabat. Kita memiliki tanggung jawab yang luar biasa ‘besar’ untuk memberikan yang terbaik dan membekali anak-anak kita dengan segala hal yang diperlukan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses dan berhasil. ”Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim).

Dilema orang tua modern
 “ Teman anda bercerita bahwa putrinya sedang dalam daftar tunggu di bimbingan tes untuk ujian SPMB. Anak tersebut baru kelas 3 SLTP. Anak Anda juga. Ujian SPMB masih tiga tahun lagi. Anda menjadi khawatir. Apakah sebaiknya putri anda akan didaftarkan juga?”

Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua modern zaman sekarang, mengingat di tengah zaman yang super kompetitif ini, anak-anak juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi yang super juga. Media massa, khususnya televisi telah banyak mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri dan keluarga termasuk cara mendidik anak. Para orang tua modern kian banyak yang terobsesi dengan citra ideal di tayangan-tanyangan televisi (red:sinetron). Orang tua sangat berharap kelak anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sukses dengan gaya hidup ideal. Dan disebabkan anak-anak masih belum tau apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka, sangat penting bagi orang tua untuk mempersiapkan anak-anak menjadi sebaik dan setepat mungkin. Peran orang tua teramat penting disini, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak menuju masa depan. Alhasil, disebabkan mereka takut dan di hinggapi rasa khawatir yang berlebihan jika tidak ada usaha yang terus menerus dalam memacu prestasi anak-anak, ketika dewasa nanti anak-anak tidak dapat berkompentesi dan akhirnya gagal. Hal inilah menjadikan tuntutan orang tua kian meluas. Anak harus menuruti semua perintah dan tuntutan orang tua. Mereka menuntut anak-anak agar mengikuti  apa yang menjadi kemauan para orang tua, dengan keyakinan  tuntutan tersebut adalah yang mereka anggap paling baik bagi anak-anak.

Harga Kesempurnaan
Harapan orang tua agar masa depan anaknya kelak bahagia,  anak harus menjadi  sukses dalam segala hal. Ironisnya, sukses dalam segala hal hanya dipandang dari segi materi. Kebahagaiaan dan kesuksesan hanya jika kelak anak-anak kita sudah menjadi seorang yang berkecukupan, rumah bagus, mobil mewah, menduduki  jabatan strategis di suatu perusahaan atau instansi.  
Jalan menuju kebahagiaan sebenarnya sederhana, namun seringkali orang tua “terjebak” dalam peta yang keliru tentang kebahagiaan. Orang tua ingin anaknya bahagia, namun kebanyakan orang tua menyamakan ukuran kebahagiaan identik dengan hasil yang diperoleh bukan bagaimana proses menuju kesuksesan tersebut. Ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang “sempurna” melahirkan begitu banyak tingginya tuntutan bagi anak-anak. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anaknya dapat dikategorikan anak yang sukses dan berprestasi. Bukan hanya prestasi akademik dan olahraga bahkan penampilan fisik pun nyaris harus dinilai, bukan diterima apa adanya. Tak heran jika sebut  saja Ria (red:bukan nama sebenarnya) seorang gadis berusia empat belas tahun mendapat hadiah ulang tahun dari ibunya berupa operasi plastik pada hidungnya, awalnya Ria kurang menyetujuinya, tapi karena ingin menyenangkan hati ibunya pada akhirnya Ria pun menyetujuinya.

Push Parenting
Sebagian besar misi orang tua adalah melepaskan anak ke dunia, siap dengan persenjataan lengkap agar dia selamat dan juga sukses. Anak-anak dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nantinya mereka berhasil dan dapat bersaing dengan yang lain. Masalah baru yang timbul, yakni jika orang tua menggunakan petunjuk yang berasal dari budaya pengasuhan yang dilakukan orang tua saat ini dan bukan dari pemahaman anak-anaknya. Bagi banyak orang tua, persaingan menuju perguruan tinggi negeri ternama, di mulai sangat dini dan menjadi motivator di balik berbagai keputusan yang di buat orang tua. Orang tua terlalu mendominasi seluruh kegiatan anak-anaknya, anak-anak seolah tak memiliki ruang & waktu bagi dirinya sendiri, dan semuanya berubah menjadi penuh tekanan. Pola pengasuhan demikian adalah pola pengasuhan yang terlalu menuntut (Push Parenting) mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, menuntut prestasi tinggi di sekolah dan berbagai bidang lain dengan segala cara (emosional, psikologis dan fisik). Orang tua tidak dapat membedakan antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka. Menjadikan anak sebagai pusat jagat raya, lupa sama sekali jika anak itu tetaplah hanyalah seorang anak-anak, yang perlu diberi ruang, bimbingan dan batasan. Anak-anak sibuk dengan jadwal yang ditetapkan orang tua, ia merasa menjadi pihak yang tertekan bahkan hubungannya menjadi renggang dengan anggota keluarga karena padatnya jadwal yang harus diikutinya.
Ketidakinginan memisahkan diri dari anak kita dan ketidakmampuan untuk memikul peran sebagai orang tua menghasilkan dua model pengasuhan anak dan dua jenis anak : “Anak yang menjadi “pusat dunia” dan “miniatur diriku”.  Anak-anak ini tumbuh menjadi dewasa dengan  menyesuaikan kebutuhan orang tua. Orang tua memonitor seluruh kegiatan anaknya. Pagi hingga sore hari harus bersekolah (full day school), tiba dirumah harus pergi lagi untuk mengikuti segala macam kursus-kursus yang dipilihkan orang tua, karena dianggap apa yang diinginkan orang tua adalah yang terbaik bagi anak, suka atau tidak. Minat anak pun harus diabaikan. Saat anak-anak lebih berminat kursus di bidang musik atau olah-raga, harus dilarang oleh orang tua dan di paksa mengikuti kursus matematika atau komputer karena matematika atau komputer dianggap lebih baik dan lebih populer ketimbang olah raga. Orang  tua harus mencampuri persahabatan anaknya, mengawasi hubungan anak dengan guru dan pelatihnya  juga hubungan dengan teman-temannya.  Ada juga selain anak-anak harus diantar kesana kemari, les itu les ini, anak-anak sudah harus mulai bersekolah ketika baru beberapa bulan terlahir di dunia. Batita digiring setiap hari mengikuti kelompok bermain. Mereka juga harus masuk TK favorit, SD favorit, SMP favorit, kemudian SMU unggulan, dan akhirnya sukses masuk perguruan tinggi ternama, agar berhasil di dunia kerja. Semua fasilitas lengkap tersedia : buku, komputer, mainan canggih yang memberikan stimulasi pada otak, guru privat di rumah, bimbingan belajar, dan segala macam kursus.

Anak Sempurna  atau Anak Bahagia
Tren pengasuhan anak dengan “push parenting” seolah-olah mendapat pembenaran karena tujuannya sangat baik yakni demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Tanpa disadari, tuntutan yang mereka berikan menjadi berlebihan dan akibatnya sebenarnya justru berdampak yang buruk bagi anak. Jika sang anak cukup mampu mengikutinya bukan menjadi problem bagi kita, namun jika orang tua mengabaikan bahwa sebenarnya sang anak merasa terbebani dengan hal ini, apalagi secara kemampuan intelektual tidak mendukung, maka hal inilah yang sebenarnya akan merugikan bagi sang anak sendiri. Dampak buruk bagi anak akibat “push parenting” antara lain :

Pertama, hal ini akan menciptakan anak rawan terhadap stress dan depresi.
Prestasi dini hasil rangsangan orang dewasa pada anak-anak yang masih muda akan menghasilkan pembelajar yang pencemas.  Disamping kecemasan, anak yang dipacu dapat menderita hambatan berperilaku (inhibition). Sama halnya seperti diri kita, terkadang saat kita dihadapkan pada kondisi sulit, saat menghadapi ujian atau memberikan presentasi, ketika kita dilanda rasa gugup akibat perasaan tertekan atau takut (red: cemas) akan berpengaruh terhadap kinerja meski sudah dipersiapkan dengan matang dan sebaik mungkin, kita tidak dapat melanjutkan presentasi karena kehilangan rasa percaya diri dan keyakinan terhadap kemampuan kita untuk melakukannya.

Kedua, pendidikan yang mementingkan prestasi umumnya mengabaikan kepribadian.
Terlalu sibuk memacu prestasi akhirnya melupakan tanggung jawab akan pembentukan kepribadian anak. Sebagaimana kasus ini : Sebut saja Tedi (red: bukan nama sebenarnya) adalah contoh khas anak yang dipacu. Di Sekolah Dasar (SD) dia berhasil karena perhatian orang tuanya yang terpusat dan penghargaan dari orang tuanya, tetapi orang tua Tedi tidak pernah mengembangkan imajinasi atau perasaan bahwa dia mampu. Motivasi untuk mencapai kesuksesan bukan dari dalam dirinya sendiri.  Pada masa-masa awal semuanya dapat berjalan lancar, namun apa yang terjadi jika anak yang dipacu mencapai masa remaja? Seperti “menabrak kipas angin!”.  Orang tua yang telah sukses merekayasa berbagai aspek kehidupan sosial, atletik, dan kependidikan anak, mereka menemukan bahwa begitu anak melewati masa pubertas, anak yang tadinya penurut tiba-tiba seperti menekan rem dan berhenti. Anak seperti Tedi yang dipacu di luar batas dengan keterbatasan kemampuannya, pada masa pubertas, masa dimana yang paling sulit untuk pertama kali dalam hidupnya  harus  melewatinya tanpa ketangguhan diri yang tidak dimilikinya. Apa yang terjadi ? Anak-anak lain, yang mungkin memang berbakat dan pandai, mulai mempertanyakan setiap aspek kehidupan, hubungan mereka dengan orang tuanya, apa yang menjadi keinginan dan cita-cita dirinya yang sebenarnya, dan memutuskan tidak lagi bersedia mengikuti cita-cita orang lain. Sedang, anak yang dipacu secara khas, mereka akan menjadi remaja pembangkang, bingung, mudah berputus asa dan akan sulit mengahadapi berbagai masalah-masalah remaja yang dilaluinya. Jika orang tua terhadap anaknya lebih filosofis, tidak hanya memacu prestasi namun juga menanamkan nilai-nilai luhur sebagai pembentukan karakter kepribadiannya misalnya menjadi anak yang jujur, disiplin, produktif, kreatif dan berinovasi. Anak-anak akan cenderung bereksperimen dan mencoba hal-hal menarik minat mereka dan pada akhirnya pelan-pelan akan memiliki cita-cita pribadi. Mereka juga akan membiasakan diri mengatasi kegagalan dan melihat dunia sebagai tempat dimana mereka masih punya kendali atas hasil dari suatu situasi. Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka, menikmati kesuksesan mereka dan belajar dari kesalahan mereka sendiri.

Ketiga, kehilangan kebersamaan yang bermakna dalam keluarga.
Konsekuensi “push parenting” adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam berbagai bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama pembimbing, guru les mereka dan lebih sedikit waktu bersama orang tua. Karena sebagian orang tua merasa aman jika anak belajar dengan mendapat bantuan tenaga professional, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Padahal, menjadi hal yang terpenting bagi anak saat kebersamaannya dengan orang tuanya. Bagi orang tua, membicarakan bagaimana prestasi sang anak lebih penting dan mengecam setiap kegagalannya, daripada bincang-bincang santai di meja makan, di depan televisi atau berkelakar di depan tempat tidur. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua melalui percakapan dari hati ke hati yang bermutu akan membawa “chemistri“ dan energi positif untuk saling membangun keintiman, menolong anak untuk menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak.

Hidup kita, seperti kebanyakan yang lain, telah diubah oleh anugrah berharga yang ditawarkan anak-anak setiap hari, andai saja kita mau melihat, mendengarkan, dan belajar dari pelajaran yang anak kita berikan. Ternyata anak-anak yang lebih banyak memberi pada kita. Seperti Rainsford dalam kutipannya : “Mencintai anak bukan berarti mempermudah hidup mereka, melainkan membantu mereka melampui rasa sakit “. Doa kita,  semoga kelak anak kita menjadi anak anak-anak yang sukses, yang bahagia bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain serta menjadi anak yang shaleh, rahmatan lil ‘alamin bagi alam semesta. Amin. {BSW}

Selasa, 22 Maret 2011

ANAK KITA ADALAH WADAH

By Masruri


      Ada seorang teman lulusan sarjana pertanian Universitas Brawijaya malang.  Saat dia mendapat ijazah dia segera menyerahkan kepada orang tuanya. Dan dia mengatakan bahwa tugasnya untuk sekolah di pertanian sudah selesai. Diapun kemudian bekerja dengan profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan bidang pertanian. Dia juga tidak pernah menggunakan ijazah sarjana pertaniannya itu untuk bekerja. Rupanya teman saya ini kuliah hingga menjadi sarjana pertanian bukan karena keinginan dan cita-citanya. Tapi atas keinginan dan paksaan dari orang tuanya. Sebagai anak yang baik diapun menuruti keinginan orang tuanya walaupun dengan berat hati.
     Kejadian lain yang serupa sering kita jumpai saat anak SMA harus memilih jurusan IPA atau IPS. Banyak orang tua beranggapan bahwa kalau anaknya masuk ke jurusan IPS berarti anaknya bodoh dan masa depanya kurang cerah. Padahal dalam kehidupan sehari -  hari  banyak dijumpai sarjana dari bidang sosial yang sukses dalam karirnya. Dan tidak sedikit sarjana dari bidang eksakta yang gagal dalam karirnya.
     Fenomena di atas menunjukkan bahwa banyak orang tua yang tidak memahami tentang anak-anak mereka. Pemahaman bahwa sesungguhnya anak-anak kita ibarat sebuah wadah. Wadah yang berbeda volume dan  bentuknya. Volume dari wadah,  menggambarkan kapasitas dan potensinya. Bentuk dari wadah, merupakan gambaran kecenderungan dan bakatnya. Walaupun  mereka dilahirkan dari bapak ibu yang sama.  Masing-masing mereka adalah uniq. Uniq dari sisi kapasitas maupun kecenderungannya. Saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang memiliki 3 anak. Anak yang pertama menjadi dokter spesialis. Anak yang kedua menjadi seniman dan yang terakhir menjadi wiraswasta.  Dan ada keluarga lain yang mempunyai 2 anak Yang pertama selalu juara kelas. Sementara adiknya masuk kelas remidial di sekolahnya.
     Kita tidak bisa memungkiri bahwa anak ibarat wadah yang berbeda volume dan bentuknya adalah sebuah realita. Yang terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah begaimana menyikapinya. Ada dua hal yang harus diingat agar sikap kita benar ketika menjumpai  realita ini.  Pertama: ingat bahwa keadaan anak kita bukanlah pilihan mereka. Jika anak kita boleh memilih antara memiliki IQ tinggi atau rendah tentu mereka akan memilih IQ tinggi. Kedua: ingat bahwa anak kita adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang maha Rahman. Sebagai anugerah, wajib bagi kita mensyukurinya apapun keadaan  mereka. Sebagai amanah maka wajib bagi kita menunaikan amanah itu sebaik-baiknya. 

Tutupnya adalah Doa
     Banyak orang tua yang kurang bisa menerima realita  wadah anak-anak mereka. Sehingga anak yang menjadi korban dari cita-cita orang tuanya yang tidak tercapai. Atau menjadi korban obsesi yang terlalu berlebihan dari orang tuanya. Padahal kapasitas anaknya tidak cukup dan kecenderungannya tidak sesuai. Jika anda melakukan ini maka anda akan menjumpai anak-anak yang tidak bahagia menjalani pekerjaannya walau kedudukan atau pangkatnya seolah terhormat.  Atau anak anda akan kehilangan waktu dan tenaga selama bertahun-tahun demi menyenangkan hati anda seperti cerita di awal tulisan ini.
     Jika kita memahami bahwa anak-anak kita adalah wadah-wadah yang berbeda. Akankah terucap dari mulut kita : ”Kamu ini kok gak pintar seperti kakakmu yang selalu juara kelas ”.  Atau akankah kita memaksa anak kita dengan mengatakan: ”Pokoknya kamu harus kuliah di kedokteran kalau tidak mama gak mau membiayai kuliahmu ”.
Kewajiban kita sebagai orang tua adalah mengisi wadah-wadah yang berbeda besar dan bentuknya itu hingga penuh kemudian menutupnya  dengan doa-doa kita dan nilai-nilai kesalehan agar kelak anak kita menjadi orang yang berbahagia. Bahagia bukan hanya untuk dirinya  tapi juga untuk orang lain.{}

Jumat, 18 Maret 2011

JANGAN PAKSA ANAK DENGAN BIMBINGAN DISIPLIN YANG SALAH


Tak ada satupun anak manusia yang sempurna. Terkadang orangtua yang paling baik sekalipun bisa bertindak keliru dalam bersikap terhadap anak. Berikut ini adalah beberapa contoh-contoh tips ringan untuk menghindari pola-pola penerapan disiplin yang salah.

Adalah salah, memperlakukan anak seperti orang dewasa
Kita melihat fenomena belakangan ini banyaknya tayangan TV berbau mistis / misteri atau permainan games yang mengajarkan kekerasan (PS, Counter Strike, dll. ). Anak kita banyak yang kecanduan oleh karenanya. Kebanyakan anak-anak masih belum mampu mencerna apa makna di balik tayangan tersebut. Ternyata ada banyak bukti, dengan pelarangan (baca:disiplin) yang bersifat drastis ataupun terlalu "longgar" / demokratis justru semakin membuat anak jauh dari target disiplin yang diharapkan. Pelarangan atau pembatasan, justru makin membuat anak berani mencari kesempatan untuk melampiaskannya dengan nonton sembunyi-sembunyi atau mencuri kesempatan main games bersama temannya di tempat rental komputer / games.
Langkah bijak yang bisa kita lakukan :
Ajak anak berdiskusi dan jelaskan dengan alasan yang bisa diterima oleh bahasa nalar anak. Beri anak kesempatan untuk ber-argumen, namun jangan banyak membatasi ucapan pembelaan mereka. Terima saja masukan-masukannya, berikan umpan-balik kritis untuknya. Namun pastikan, keputusan final tetap berada di tangan Ortu.

Adalah salah, terlalu banyak atau terlalu sedikit memuji
"Wah, hebat ya anak ayah, matematikanya dapat nilai 8 ! Tapi, harusnya bisa leblh hebat lagi sih., kalau kamu bisa mengalahkan nilai teman-temanmu satu sekolah". Soalnya ayah ini jelek-jelek dulu juara matematika se-sekolahan Iho..!?" Dengan dalih tujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, orangtua kadang menjadikan anak sebagai "kantong" pujian. Padahal, kebanyakan anak -yan-g.-terlalu sering diberi pujian cenderung tidak mampu berusaha keras agar tujuan tindakannya bisa memenuhi target kepuasan dirinya namun justru untuk memenuhi kepuasan si orang yang sering memujinya. Dengan hal­-hal yang dilakukannya secara sederhana, anak selalu berharap mendapat pujian secara berlebihan. Namun dalam bentuk yang lain, dengan tanpa pernah dipuji justru sering menjadikan anak tak pemah mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik­.
Solusi tepat yang bisa Anda lakukan adalah secara proporsional & rasional berikan pujian dalam kemasan "komentar datar" ( intonasi bemada penuh perhatian dan tatap-wajah ) dengan bahasa kedekatan yang wajar.
Tidak perlu Anda menambah­-nambahi dengan ucapan yang bemada "masih ada 'sisa' beban-tugas-tambahan" bagi anak. Lebih mendalam lagi kesannya apabila anda berucap sambil menyentuh pundaknya, menepuk bahunya, mengelus rambutnya dsb. Selain itu, sambil berinteraksi, usahakan selalu bisa kontak mata & wajah dengan anak, sebagai tanda jalinan mengalimya energi kasih yang tulus.

Adalah salah, cepat kehilangan kesabaran
Banyak orangtua dalam merespon kejadian tertentu yang menimpa anak dengan mengekspresikan gerakan, sikap, wajah, dan suara yang sangat menakutkan dan membuat anak traumatik. Dampak ekstrim yang ditimbulkan dari bimbingan orangtua bertipe "berdarah panas" ini seringkali terbawa terus dan turun-temurun sampai ke generasi berikutnya. Ambillah nafas panjang sejenak, minta kepada pasangan Anda untuk menangani anak-anak sebentar, masuklah ke kamar mandi. Ambillah air lalu usapkan ke wajah anda atau sekaligus ke wajah atau kepala anak anda. Begitu amarah emosi Anda mulai tenang, Duduklah dan berbicaralah dengan tegas namun tidak disertai sikap yang kasar. Kita tak dapat menegakkan peraturan  dengan intonasi berbicara yang terlalu keras atau terlalu lembut. Lebih baik, simpanlah energi teriakan keras Anda untuk kasus-kasus yang lebih gawat, misalnya memperingatkan anak menjauhi nyala api kompor yang meledak. menghindari setrum, dsb.

Adalah salah, menerapkan cara-cara pengasuhan secara kukuh dan kaku
Jangan kukuh-kaku untuk terus menggunakan cara yang sama, apabila anak Anda ternyata tidak mempan dihukum dengan sanksi hukuman tertentu selama beberapa waktu. Apa yang berhasil diterapkan pada suatu kondisi, bisa jadi tidak berfungsi pada keadaan yang lain. Cobalah variasikan pola penerapan disiplin Anda, misalnya dengan :
1.    lakukan time-out ( istirahat sejenak ). Tenangkan anak yang mengamuk secara emosional dengan  enyuruhnya duduk. Misalnya untuk anak berusia 6 tahun, suruh duduk tenang selama 6 menit.
2.    menqatur jadwal batas waktu hak-hak khusus anak. Dengan memperhatikan usia dan jenis kepribadian anak, buatlah batasan-batasan jadwal nonton televisi, bertelepon, main games, dsb.
3.    acuhkan sikap-sikap anak yang menjengkelkan. Merajuk, merengek, selalu minta dibantu, bertengkar, dsb. akan berhenti dengan sendirinya bila Anda secara taktis mengacuhkannya.
4.    Beranikan dia untuk bereksperimen dengan aturan-aturan disiplin Anda, namun tetap tekankan peraturan disiplin yang mendasar dengan jelas. Baju jenis apa yang pantas dan boleh dipakai anak perempuan berusia 11 tahun adalah masalah yang bisa dirundingkan. Namun membolos sekolah dan membohongi orangtua adalah dilarang. Apabila anak menyadari kelonggaran dengan adanya beberapa aturan yang masih dapat dirundingkan, maka peraturan lain yang bersifat larangan kemungkinan dapat lebih diterima.

Adalah salah, memperlakukan anak-anak secara sama tau seragam
Untuk menegakkan displin, pada hakikatnya tidak ada satupun cara yang sangat ideal. Hal-hal yang bisa diterapkan pada anak Anda yang berperangai tenang, belum tentu bisa diterima oleh anak Anda, yang lain dengan tipe kepribadian yang berbeda. Semua hal yang mendasari keberhasilan penerapan disiplin di rumah, bergantung juga pada tipe kepribadian akan anak Anda,

Adalah salah, membiarkan anak bebas dari hukuman
Seorang anak yang tidak menghiraukan konsekuensi atau efek dari perbuatannya yang buruk, Ia akan lebih lambat belajar mengenai kesalahannya. Jadi sebaiknya tetap berikan hukuman, bagaimanapun anak Anda, asalkan Anda menerapkan sanksi tersebut tetap dalam catatan : beri hukuman bemilai AJARAN, penuh KESABARAN dan tetap dalam KESADARAN NALAR. Ada yang menyarankan untuk menerapkan bentuk konsekuensi => sanksi berbalas -seimbang. Misalnya gara-gara anak terlambat bangun pagi, menyebabkan Anda terjebak macet dan terlambat masuk ke kantor. Maka, mintalah ia untuk menggantikannya dengan melakukan tugas sebagai kompensasi misalnya membantu untuk mencucikan motor ayah, atau membantu memungut pakaian di tempat jemuran, atau membantu membersihkan mainan yang berserakan, dsb. {}

Jumat, 25 Februari 2011

MEMBIMBING & MENGAJAR ANAK DENGAN CARA CERDAS



SATU, Tuhan YME menciptakan setiap anak cerdas. Faktor pola  pengasuhan orangtua yang salah-konsep serta pengaruh lingkungan yang salah menjadi sebab kecerdasannya tak berkembang semestinya.
DUA , Pada masa tumbuh-kembang di usia sekolah setiap anak membutuhkan perhatian yang cermat dan tuntunan yang jelas. Keteledoran-keteledoran yang kecil dapat membelokkan perkembangan kejiwaannya ke arah yang kurang semestinya dan untuk "membayar"nya, sungguh amat mahal !.
TIGA, Prestasi akademik setiap anak dapat ditumbuhkan sejak usia dini dengan membangun kemampuan inteligensi, emosi & motivasi. Harap diingat, faktor IQ hanya berperan ± 4 - 20 % dari kesuksesan seseorang, sedangkan faktor penyumbang dan penentu terpenting justru tergantung pads kualitas EQ ESQ, LQ, CQ, AQ DQ FQ dan beberapa faktor Quotiens / kecerdasan strategic lainnya.

A. TANDA-TANDA KEBERBAKATAN ANAK
1.       Sedikit membutuhkan tidur
2.       Memiliki jangka perhatian yang g panjang
3.       Memiliki tingkat aktivitas yang tinggi
4.       Bereaksi dalam terhadap rasa sakit, kecewa, sedih
5.       Mengalami kemajuan belajar yang cepat
6.       Memiliki days ingat yang baik
7.       Senang dan cepat belajar
8.       Rasa ingin tabu / ten" dengan buku-buku
9.       Memiliki rasa humor yang baik
10.     Punya imajinasi yang hidup
11.     Punya nalar yang baik untuk memecahkan masalah
12.     Memiliki kepekaan tinggi dan mullah terharu

B. CARA EFEKTIF MEMBIMBING ANAK

1.       Bimbinglah anak berbasis intelektual & spiritual
2.       Berikan tuntunan secara konsisten sejak dini
3.       Lakukan berbagai hal dengan nuansa kebersamaan
4.       Sterilkan pengaruh2 buruk dari lingkungan gaulnya
5.       Kata kunci : tekun dan telaten dalam membimbing
6.       Jangan lakukan kekerasan dalam membimbing anak
7.       Jangan asal melarang yang akan dilakukan anak
8.       Berikan tuntunan tapi jangan sering mendikte
9.       Berikan tuntunan kompak ayah+ibu secara imbang
10.     Ajari anak secara praktis dgn. contoh2 sederhana

C. KEMBANGKAN KECERDASAN MAJEMUK ANAK SECARA OPTIMAL

Patokan instruksional materi untuk mengajarkan kecerdasan majemuk adalah dengan kata-kata kunci sbb :
1.      Linguistik : bacakan, tuliskan dengarkan, diskusikan, ceritakan, ungkapkan, syairkan.
2.      Logika-Math: berikan alasan, mengapa, bagaimana, urutkan gambar, cari perbedaan/persamaan, jumlahkan, kurangi, kahkan, bagilah, gabung-kelompokkan.
3.      Visual : lihat, perhatikan dengan cermat, gambarlah, visualisasikan, warnai, buatlah grafik, susunlah eambar yang terpisah, khayalkan.
4.      Musik: mainkan alat musik, nyanyikan, lagukan dengan irama lambat-cepat, dengar irama & tirukan Duisikan dengan lirik untuk hafalan2 tertentu.
5.      Kinestetik: lompat, lari, sentuh, laras-imbang kaki-tangan, menari senam, lempar, tangkap.
6.      Social: bekerjasama, interaksi, menyapa, bersikap rukun, ramah, menolong.
7.      Intrapersonal: renungkan, rasakan kaitkan dengan feeling / rasa, gunakan intuisi.
8.      Natural: tanam tumbuhan, pelihara hewan, rawat, bersihkan, menata, perbaiki.
9.      Emosi: ekspresikan maksud, tenang, empati, simpati, gembira, sedih.
10.   Spiritual: pahami agama/ketuhanan, beribadah, berbuat baik, peduli sesama, hormat,moral+

 
D. JANGAN TERLALU MENDEWAKAN IQ ; KEMBANGKAN EQ SECARA RASIONAL

Emotional Intelligence / EQ adalah aspek kecerdasan emosi manusia yang terdiri atas kecakapan PRIBADI dan kecakapan SOSIAL. Secara garis besar EQ terdiri atas 15 aspek :
1.  Kemampuan memahami perasaan dalam diri sendiri
2.  Kemampuan menyatakan hak, keterbukaan mengekspresikan maksud tanpa ragu
3.  Kemampuan menghargai dan menerima hal positif dari dalam diri sendiri
4.  Kemampuan menyadari potensi diri dengan melibatkan diri dalam kehidupan sosial agar lebih bermakna
5. Kemandirian : mengatasi persoalan dan melakukan berbagai hal tanpa bantuan orang fain
6. Empati kemampuan menyadari, memahami, menghargai perasaan orang lain
7. Hubungan sosial beradaptasi, bergaul, bersosialisasi, menjadi bagian masyarakat
8. Tanggung jawab sosial : menjadi ang_gota kelompok yang kooperatif, kontributif, & konstruktif
9. Problem solving : kemampuan meng--iadapi & mengatasi masalah
10. Uji kenyataan : memahami kenyataan bahwa dalam hidup ada sukses ada gagal, ada baik ada buruk
11. Kemampuan mengatur pikiran, emosi, perilaku sesuai dengan situasi-komisi yang berubah2
12. Toleransi stres : kemampuan bertahan dan menghadapi permasalahan secara aktif dan positif
13.  Kemampuan menahan dorongan untuk bertindak dalam merespon atau menerima tekanan / stress
14. Perasaan puas, menyenangi diri & orang lain, bersenang-senang atau bersukacita
15. Optimisme : yakin terhadap kemampuan diri untuk mencapai target keberhasilan

E. CIRI-CIRI KREATIVITAS DERAJAT TINGGI :
·   Suka memilih bends-bends yang bagus
·   Senang bercerita kepada orang lain
·   Imajinasi tinggi dan dinamis
·    Mampu mempengaruhi / mengajak orang lain
·   Bersikap mandiri atau tidak suka dibantu
·    Punya pendapat/ide berbeda dengan orang lain
·   Mewujudkan ide dengan kreasi sendiri
·   Berani bersikap tegas / gentleman
·   Cepat memahami suatu masalah
·   Berani menantang / menghadapi risiko
·    Melakukan'aktivitas tak beraturan / dinamis
·    Pembawaan diri luwes / fleksibel
·    Memainkan berbagai permainan dgn. terampil
·    Menyukai berbagai permainan
·    Suka bermain-main dalam waktu yang lama
·    Melakukan tindakan secara spontan
·    Punya kepekaan naluri / cepat tanggap
·    Sering melibatkan perasaan / feeling
·    Cenderung gembira dan energik
·     Memiliki empati/peka terhadap orang lain
·    Berpendapat / bersikap berubah-ubah

Semoga bermanfaat {}

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut