Rabu, 16 Februari 2011

Hubungan Antara Tingkat Religiusitas dan Kebermaknaan Hidup Seseorang




Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan masalah. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang Sosiolog Ulrich Beck menamai masyarakat zaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Lantas, hidup di dunia modern saat ini yang tak jarang banyak kita temui hal-hal yang cukup ironis sekali di luar batas kemanusiaan seorang manusia sekalipun, apakah suatu nilai kebermaknaan hidup masih diinginkan ?
Lantas ada suatu pertanyaan apakah nilai kebermaknaan hidup seseorang ada hubungannya dengan tingkat religiusitas seseorang pula?

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS & KEBERMAKNAAN HIDUP SESEORANG
Spranger (dalam Dister, 1982) menyatakan bahwa individu yang memiliki nilai religius menempatkan kemanunggalan atau kesatuan sebagai nilai tertinggi dalam hidupnya. Mereka memahami dan mengalami dunia sebagai suatu kesatuan yang terpadu dan utuh. Individu-individu semacam ini hidupnya dikuasai oleh keseluruhan nilai yang memuncak dalam nilai tertinggi, yaitu nilai Ilahi. Nilai-nilai religius mampu memberikan suatu kerangka yang menjadi acuan bagi individu dalam berpikir, memandang diri dan kehidupannya.
Dari sudut pandang sosiologi, religiusitas adalah kualitas motivasi individu untuk menjadi religius dan konsekuensi-konsekuensi religiusitasnya dalam aspek-aspek kehidupannya. Kata religius yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu sistem kepercayaan yang terbentuk dari relasi antara manusia dan kekuatan supra empiris, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allport dalam Hendropuspito, 1988).
Konsep religiusitas menurut Glock dan Stark (dalam Ancok dan Suroso, 1994) meliputi beberapa hal berkaitan dengan keterlibatan individu dalam perwujudan konsep ini. Glock dan Stark melihat konsep religiusitas sebagai komitmen religius individu yang dapat dilihat melalui aktivitas atau perilaku individu yang bersangkutan terhadap agama atau kepercayaan yang dianutnya.

Konsep ini mengemukakan keterlibatan individu dalam hal: 

Satu, Ideological involvement (keterlibatan ideologi) : Yaitu tingkatan sejauh mana orang  menerima hal-hal yang dogmatis dalam agama mereka masing-masing. Misalnya, kepercayaan terhadap hari akhir, surga dan neraka. 
Dua, Ritual involvement (keterlibatan ritual) : Yaitu sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya. 
Tiga, Experential Involment (keterlibatan pengalaman) : Yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman  spektakuler yang merupakan keajaiban Tuhan. Dimensi ini bergerak dalam 4 tingkatan, yaitu : (1) Konfirmatif : merasakan kehadiran Tuhan atau apa saja yang diamatinya sebagai ciptaan Tuhan (2) Responsif : merasa bahwa Tuhan bisa menjawab kehendak dan keluhannya. (3) Eskatik : merasakan hubungan yang akrab dan penuh cinta dengan Tuhan.(4) Partisipatif : merasa menjadi kawan setia, kekasih atau wali Tuhan 
Empat, Knowledge involvement ( keterlibatan ilmu) : Yaitu tingkatan sejauh mana seseorang   mengetahui ajaran agamanya dan aktivitasnya dalam menambah pengetahuan agama. Misalnya mengikuti pengajian,membaca buku agama. 
Lima, Consequential involvement (keterlibatan secara konsekuensi) : Yaitu dimensi yang mengatur sejauh mana perilaku seorang dimotivasi oleh ajaran agamanya atau sesuai dengan ajaran agamanya. Misalnya, etos kerja, hubungan interpersonal, kepedulian kepada penderitaan orang lain. Apakah seseorang setuju atau tidak terhadap perbuatan yang dilarang agama dan apakah seseorang mengerjakan atau tidak pekerjaan terebut.

Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan hidup adalah sebagai hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila berhasil terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). “
Lantas, bagaimana hubungan antara nilai religiusitas dengan kebermaknaan hidup?
Menurut Meichati (1983), kehidupan beragama dapat memberikan kekuatan jiwa bagi seseorang untuk menghadapi tantangan hidup. Agama dapat pula memberikan bantuan moril dalam menghadapi krisis yang dihadapinya. Keyakinan beragama dapat meningkatkan kehidupan itu sendiri ke dalam suatu nilai spiritual. Hal tersebut menjadikan hidup seseorang bermakna dalam berbagai kondisi, memperoleh ketenangan dalam hidup, merasakan dan meyakini adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan sehingga akan memberikan kemantapan batin, bahagia, dan terlindungi.
Frankl (dalam Bastaman, 2007) dalam Logoterapi juga menjelaskan bahwa adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan. Individu dapat menemukan makna dengan menemui kebenaran melalui realisasi nilai-nilai yang berasal dari agama (Frankl dalam Bastaman, 2007). Oleh karena itu dalam menemukan makna hidup dapat diperoleh melalui keterlibatan individu dalam aktivitas religius. Melaksanakan tata cara ibadah yang diajarkan agama, dilaksanakan dengan khidmat akan menimbulkan perasaan tenang, tentram, tabah serta merasakan mendapat bimbingan dalam melakukan tindakan ( Bastaman, 2000)
Toto Tasmara (2001) juga menyebutkan bahwa salah satu indikasi potensi kecerdasan ruhaniah atau religiusitas seseorang adalah cara seseorang memberikan makna terhadap hidup yang dijalaninya. Memberi makna hidup merupakan sebuah proses pembentukan kualitas hidup, sedangkan tujuan hidup merupakan arah, rujukan, dasar pijakan, dan sekaligus hasil yang diraih. Seseorang merasakan kebahagiaan (happiness) apabila dengan sengaja atau benar-benar diusahakan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Hal ini berarti apa yang dilakukan individu merupakan panggilan hati nurani yang mendorong semangat untuk menghadapi tantangan perjuangan. Hal yang dirasakan merupakan hasil yang diperoleh dengan penuh makna. Bahkan sebelum dapat mencapai tujuan hidup sekalipun, individu sudah dapat merasakan nikmatnya hidup yang mempunyai arah tujuan (Tasmara, 2001).
Toto Tasmara (2001) memaparkan bahwa religiusitas berkaitan erat dengan semangat untuk melakukan perubahan nurani (sesuatu yang bersifat cahaya). Jadi Religiusitas merupakan kemampuan seseorang untuk menjalani hidup dengan berpadukan kepada cahaya Ilahi yang menerangi qalbu (hati) seseorang Bagi setiap orang yang beragama diwajibkan memenuhi kebutuhan batin (inner fulfillment) disamping kebutuhan ragawi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara merealisasikan nilai, keyakinan, dan prinsip beragama yang mengisi batin setiap individu. Hal ini merupakan upaya manusia untuk memperoleh makna hidup yang sebenarnya. Semangat untuk memberi makna hidup merupakan fondasi yang menjadikan manusia siap menghadapi beban dan segala tantangan hidup. Penderitaan yang dihadapi tidak membuat seseorang menyerah pada nilai-nilai eksternal tetapi diisi melalui nilai-nilai perjuangan yang siap menghadapi segala resiko yang harus dihadapi dengan keyakinan yang mendalam terhadap Sang Ilahi. Pada akhirnya keyakinan tersebut mengantarkan individu tersebut menjadi manusia yang optimis, independen dan tangguh untuk mengubah dirinya sendiri (Tasmara, 2001).
Rolloy May (dalam Tasmara, 2001) menambahkan bahwa kemampuan menempatkan diri dalam dimensi waktu dan dunia batin, memberi cinta dan kepekaan untuk menangkap sinyal-sinyal moral, melihat kebenaran, keindahan, dan memotivasi diri ke arah yang ideal.
Oleh karena itu Toto Tasmara (2001) menyatakan bahwa makna hidup adalah sesuatu yang dinamis, yang harus secara konsisten ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu melalui perbuatan terpuji, sikap dan perilaku berdisiplin yang akan menumbuhkan tanggung jawab moral yang tinggi. Jadi cara seseorang memberikan makna tentang hidup adalah seseorang yang seluruh gerak hidupnya merupakan keyakinan-keyakinan seseorang kepada Tuhannya yang dibuktikan dalam seluruh rangkaian amal-amal prestatif, yang merupakan faktor keyakinan (iman) untuk mendayagunakan kenyataan yang dihadapinya dengan adanya ruang, waktu dan gerak. yang dirumuskan Toto Tasmara (2001:145) sebagai berikut :

MH = f K (R,W,G)
Makna Hidup = f Keyakinan Ilahiah (Ruang, Waktu, Gerak)


Keyakinan terhadap ruang merupakan keyakinan bahwa bumi, langit dan hamparan isinya adalah ciptaan Tuhan untuk manusia yang harus diolah dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Keyakinan terhadap waktu merupakan keyakinan bahwa hidup akan bermakna selama memberikan makna terhadap waktu, memahami nilai dan esensi waktu serta tidak menyia-nyiakan waktu dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sedangkan keyakinan terhadap gerak merupakan bentuk yang sangat fundamental dalam upaya seseorang mengisi makna hidupnya yang mencakup gerak batiniah (niat), gerak amaliah (aktivitas bertujuan) dan gerak kesalehan ( mempunyai nilai moral dan manfaat). 

Jadi, bertambah sadar penghayatan individu terhadap makna kehadiran dan kesaksian Sang Ilahi terhadap dirinya, maka bertambah pula kualitas diri seseorang untuk mengisi hidup yang lebih bermakna (Tasmara, 2001).


Manusia & Persoalan Makna

Menurut Frankl (Dalam Koeswara,1992), selain manusia tidak ada makhluk yang diharu-birukan oleh persoalan makna dan keberadaannya. Setiap manusia, tidak peduli siapapun dan sebagai apapun dia, pada satu titik pasti akan mempertanyakan apa arti dan makna dari hidup yang dijalaninya. Pencarian akan makna inilah yang menjadi pusat dari dinamika kepribadian manusia. Keinginan akan arti atau makna dalam hidup ini merupakan kekuatan motivasional yang mendasar dalam diri manusia.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai makna keberadaan manusia merupakan pertanyaan yang abadi dan aktual, karena selalu muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan diketemukan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda (Sastrapartedja, 1993). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut lahir dari kesenjangan antara kesadaran manusia akan keterbatasan dan temporalitas kehidupannya dengan harapan atau kebutuhannya akan pemenuhan akhir yang definitif dari keberadaan diri di dalam dunia.
Sejumlah penelitian di negara maju menunjukkan bahwa hasrat untuk hidup bermakna benar-benar ada dan dihayati setiap orang sebagai sesuatu yang dirasakan penting dalam kehidupan manusia (Bastaman, 1996). Sebagai contoh suatu hasil pengumpulan pendapat umum di Prancis menunjukkan 89 % responden percaya bahwa manusia membutuhkan ”sesuatu” demi hidupnya, sedangkan 61 % diantaranya merasa ada sesuatu yang untuknya mereka rela mati (Koeswara, 1992).
Pengertian Kebermaknaan Hidup
Kebermaknaan hidup adalah cara seseorang mengisi kehidupannya dan memberikan gambaran menyeluruh yang menunjukkan arah dan cara manusia berhubungan dengan dirinya sendiri, orang lain, dan alam sekitarnya atas dasar rasa kecintaan terhadap Sang Ilahi (Tasmara, 2001).
Eksistensi manusia adalah proses pemberian makna. Hal ini sesuai dengan hakikat kesadaran manusia itu sendiri sebagai intensionalitas. Intensionalitas berarti bahwa dunia manusia bukanlah dunia objektif, melainkan dunia hasil pemaknaan (kesadaran) manusia yang selalu mengarah ke luar dirinya (trasendensi). Manusia tidak bersifat imanen (terkurung dalam dirinya sendiri). Namun berkat trasendensinya itulah manusia menjadi manusia. Manusia tidak pernah puas dengan lingkungan yang sudah ada yang diberikan alam pada dirinya. Realitas yang semula objektif, lalu diberi makna subjektif sesuai dengan kebutuhannya. Realitas yang semula liar dan tak terkendali menjadi dunia yang bisa dijinakkan dan dikendalikan. Realitas yang semula mungkin menyakitkan dan tidak menyenangkan, diupayakan untuk menjadi dunia yang menyehatkan dan menyenangkan (Abidin, 2007).
Frankl (dalam Abidin, 2007) mengatakan meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Hal ini di ucapkan Frankl sebagai penegasannya mengenai arti kehidupan. Meskipun tidak mungkin untuk bekerja dan mengisi kehidupan, serta meskipun tidak mungkin dapat menikmati keindahan alam semesta, sesungguhnya masih tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia. Yaitu tugas untuk memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga diri . Hal ini diungkapkan Frankl berdasarkan pengalaman penderitaan yang dialaminya selama tiga tahun di kamp Tahanan. (dalam Abidin, 2007).
Penderitaan Frankl selama tiga tahun menjadi tawanan Yahudi di Auschwitz dan beberapa kamp konsentrasi Nazi lainnya adalah kehidupan yang mengerikan, karena setiap saat Frankl berhadapan dengan ancaman pembunuhan yang dilakukan secara kejam (dalam Abidin, 2007). Frankl menggabungkan wawasan agama-agama dan filsafat-filsafat lama yang dimilikinya selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan pribadinya selama tiga tahun yang kelam di kamp konsentrasi. Sampai pada akhirnya, Frankl mengungkapkannya dalam bahasa yang bisa dipahami manusia abad kedua puluh dan menulis berbagai buku tentang makna hidup, yang selanjutnya dikembangkan ke dalam aliran psikologi modern yang dinamakan Logoterapi.
Frankl mengungkapkan bahwa selama individu mempunyai makna hidup, maka setiap individu akan tetap merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang memuaskan. Dengan asumsi ini, Frankl berpendapat bahwa kekuatan yang paling utama untuk menggerakkan kepribadian manusia terletak dari sejauh mana keinginannya untuk memberi makna hidup (the will to meaning). (Dalam Tasmara, 2001)
Kebermaknaan hidup merupakan sebuah motivasi yang kuat dan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berguna, sedangkan hidup yang berguna adalah hidup yang terus menerus memberi makna baik pada diri sendiri maupun orang lain. Adanya harapan dan kemauan pada saat menghadapi penderitaan, serta perasaan puas dalam kehidupan karena merasa telah sampai pada akhir hayat, merasa telah cukup bekerja dan menderita serta telah menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Hal inilah merupakan suatu proses pencapaian makna hidup (dalam Koeswara, 1992).
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mendefinisikan,
“Kebermaknaan hidup adalah sebagai hal-hal yang
dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan
nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila berhasil terpenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia (happiness). “

Seiring dengan definisi tersebut Abidin (dalam Huda, 2008, http://ahudha.wordpress.com) mengungkapkan bahwa kebermaknaan hidup merupakan proses menjalani hidup yang dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu, sedang yang menjadi motivasi utama dari manusia itu sendiri adalah untuk menemukan tujuan hidup tersebut.

Zainurrofikoh dan Hadjam (2001) juga menyatakan bahwa kebermaknaan hidup adalah penghayatan individu terhadap hal-hal yang dianggap penting, dirasa berharga, diyakini kebenarannya dan memberikan nilai khusus serta dapat dijadikan tujuan dalam hidupnya, ditinjau dari sudut pandang diri sendiri.

Dari beberapa pendapat diatas, dalam memberikan pengertian tentang kebermaknaan hidup, penulis lebih bersandar pada teori Victor E. Frankl. Hal ini penulis lakukan dengan pertimbangan :
1. Sesuai realitas kehidupan manusia ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, meskipun hidup dalam situasi tanpa pengharapan sekalipun, eksistensi manusia tetap amat bermakna. Ajaran Frankl ini mampu memberikan motivasi bahwa kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi.
2. Sejalan dengan dunia manusia abad ke-20 yang merupakan abad dimana manusia dihadapkan pada kecemasan-kecemasan eksistensial, yaitu masyarakat yang mengalami dehumanisasi, kebosanan, kekosongan, dan kehilangan arah. Ajaran Frankl mampu menjawab problematika masyarakat tersebut, mudah untuk dipahami dan implementatif dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi
,
dapat disimpulkan bahwa kebermaknaan hidup adalah merupakan derajat kualitas penghayatan individu terhadap keberadaan dirinya, memuat hal-hal yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini sebagai sesuatu yang benar dan dapat memberikan arti khusus yang menjadi tujuan hidup seseorang dan apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan hidup berarti dan berharga serta menimbulkan perasaan bahagia yang dapat diperoleh pada saat bahagia maupun menderita.

8 Hal Penting Yang Harus Kita Perhatikan


8 masalah pokok yang disampaikan Syeikh Hatim Al-Asham kepada gurunya sebagai hikmah atas ilmu yang ia dapatkan dari sang guru :
ü    Beliau berkata pada gurunya “ wahai guru, selama ini aku telah menguraikan pikiran, ternyata setiap orang yang hidup didunia mestilah ada sesuatu yang dicintai. Boleh jadi hal itu berupa materi ataupun anak istri dan dan lain-lain. Aku mencermati pula, ketika mereka itu mati, maka apapun yang dicintai pasti ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang bisa bersamanya di dalam kubur. Aku segera membuat siasat baru, perkara apa yang kiranya bisa bersamaku ketika aku telah dikuburkan. Maka aku segera menemukan. Tiada lain adalah amal-amal kebajikan, itulah yang bisa bersamaku didalam kubur. Dengan demikian amal-amal itu aku perbanyak untuk bekal yang akan menyertaiku nanti ketika aku telah mati” begitu tutur Syeikh Hatim.
ü   Yang kedua, beliau mengatakan “ aku telah menyadari, bahwa apa yang dikatakan Allah seratus persen benar, konsekuensinya, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengekang hawa nafsu, kemudian aku arahkan kepada berbagai ibadah dan ketaatan lain, terbukti nafsu itu menurutkan apa yang menjadi kehendakku”
ü   Yang, ketiga, “setiap orang yang mempunyai kekayaan akan berusaha sekuat tenaga, untuk membela dan melindungi kekayaannya itu, namun setelah aku memikirkan firman Allah: Apa yang disisimu akan lenyap (habis) dan apa yang disisi Allah adalah kekal (QS 16:96). Dengan demikian jika saja ada harta atau kekayaan yang jatuh dalam tanganku, maka segera aku arahkan kepada kepentingan Allah agar menjadi kekal, terjaga pila disisi-Nya
ü   Keempat, Syeikh Hatim Al-Asham mengatakan “ selama ini aku telah meneliti dan mengamati bahwa seluruh kemuliaan yang dibanggakan manusia itu berpangkal pada harta, keturunan, pangkat dan ras masing-masing. Setelah aku pikirkan masak-masak, ternyata semua itu hanyalah bayangan maya, sangat relatif. Namun ketika aku membuka kitabullah yang menjadi tutunan manusia, disana aku temukan. sesungguhnya orang yang paling mulia dari kamu sekalian adalah mereka yang paling takwa. Qs.49:13) Sejak itu aku berusaha keras untuk meraih martabat takwa yang setinggi-tingginya dengan harapan akan menjadi orang yang paling mulia disisi Allah”
ü   Yang kelima, “ telah begitu lama aku mencermati pada kehidupan ini, dimana perjalanan hidup manusia selalu diwarnai dengan saling memperolok, saling mengumpat dan saling menjatuhkan antara orang yang satu dengan yang lain. Penyebab semua itu tiada lain ada kedengkian serta menghindar dari mereka yang bersikap dengki, sebab nasib dan bagian setiap orang didunia ini telah ditentukan oleh-Nya. Dengan demikian tidak ada manfaat jika aku harus mendengki atau memusuhi orang lain”
ü   Yang keenam, “aku mencermati dan pula bahwa dalam hidup ini ternyata sebagian besar manusia masih memahami hukum rimba, dimana yang kuat dialah yang menang, oleh karena setiap kelompok selalu merasa yang terlihat dan yang paling berkuasa, maka terjadilah apa yang terjadi. Mereka saling bunuh antar kelompok dan antar sesama, saling menfitnah dan saling hujat. Maka langkah selanjutnya, aku jadikan dia sebagai musuh satu-satunya dengan mengenyampingkan makhluk-makhluk lain, disamping selalu berjaga-jaga diri agar tidak diserobot tipu dayanya. Sikapku yang seperti ini tiada lain telah didorong oleh kebijaksaan. Allah mempersaksikan bahwa dia adalah musuh yang nyata”
ü   Ketujuh, aku lihat seluruh manusia telah berlomba-lomba untuk mencari sesuap makanan untuk mengganjal perut mereka. Hal ini telah menjerumuskan mereka pada saling menghinakan dan sering pula terperosok pada makanan yang tak halal bagi mereka disamping banyak pula yang berlebihan mengurus perut. Kemudian aku sadari bahwa diriku ini termasuk sesuatu yang merangkak. Dengan demikian rizkiku juga telah ditanggung Allah. Selanjutnya aku tinggal mengerjakan apa yang diwajibkan Allah kepadaku, tidak mengurus lagi apa yang menjadi tanggung jawab Allah”
ü  Kedelapan, “telah aku cermati dan aku teliti pula, ternyata kebanyakan manusia itu selalu menyandarkan kehidupannya pada makhluk atau pada tuan-tuan yang dianggap memberi rizki kepada mereka.

Penelitian Pascasarjana Unair


Perhatian Pimpinan Kurang, Karyawan Sering Bolos

Perhatian pimpinan merupakan pendorong semangat bagi karyawan untuk berdisiplin. Untuk itu kebutuhan penghargaan akan lebih nampak apabila dikaitkan dengan tingkat perhatian pimpinan terhadap karyawan yang berprestasi. Sebagaimana terkonfirmasi dalam penelitian Harmadji (2001) guna memperoleh gelar magister manajemen, ditemukan data (di sebuah instansi pemerintah di Jawa Timur) dari 91 responden didapatkan sebanyak 58,24 % menjawab kurang diperhatikan pimpinan. Sedangkan sebanyak 8,79 % menjawab tidak diperhatikan pimpinan. Kalau presentase  ini digabungkan maka terdapat 67,03 % atau sebanyak 61 orang.

Kiranya merupakan gambaran cukup jelas bahwa tingkat perhatian dalam konteks pemberian motivasi pimpinan kepada para bawahannya masih kurang. Sedangkan jawaban cukup diperhatikan pimpinan sebesar 28,57 % dan yang memberi jawaban diperhatikan hanya 4,40% saja. Ini membuktikan bahwa memang perhatian pimpinan terbilang masih kecil. Imbasnya dalam peneltian tersebut juga ditemukan ternyata tingkat kedisiplinan karyawan sangat memprihatinkan. Ditemukan hanya 14,29 % saja yang tidak terlambat masuk kerja atau 85,71 %  per hari yang datang terlambat. Karyawan yang mengikuti apel pagi juga hanya 35,46 % saja. Sehingga yang membolos mencapai 64, 54 %. Dari responden penelitian sebanyak 91 orang juga tidak satu pun yang mengisi daftar hadir (100 %). Lebih jauh mengenai persepsi responden tentang perhatian pimpinan (lihat tabel 3).

 Tabel 3: Tingkat Perhatian Pimpinan Terhadap Karyawan  Yang Berprestasi

Tingkat Perhatian
Jawaban Responden
Persentase
Memperhatikan
4
4,40
Cukup Memperhatikan
26
28,57
Kurang Memperhatikan
53
58,24
Tidak Memperhatikan
8
8,79
Total
91
100
Sumber: Harmadji (2001) hal. 47-49. 

Agar Target Kerja Tidak Jadi Momok

Memompa Motivasi, Mendongkrak Prestasi
* By Oki Aryono

”Sesuai keputusan direksi, tahun 2007 ini perusahaan kita harus memenuhi target penjualan Rp 100 miliar.” Begitu ucap seorang Chief Excecutive Officer (CEO) dalam sebuah pertemuan koordinasi dengan seluruh jajaran manajer dan kepala bagian. Pertemuan yang diadakan beberapa hari menjelang pergantian tahun itu membuat beberapa manajer gusar. Pasalnya, mereka merasa terbebani dengan target yang begitu berat.

Mengapa target begitu penting untuk dicanangkan? Menurut BS. Wibowo, Direktur Lembaga Manajemen Terapan Trustco Jakarta, setiap pekerjaan harus selalu ada perencanaan (planning) yang di dalamnya mengandung target dan capaian. Perencanaan itu lahir dari keinginan dan motivasi. ”Jarak antara motivasi dan kerja adalah perencanaan,” papar pimpinan lembaga pelatihan SDM ini.

Hanya saja, masih kata Wibowo, motivasi tiap-tiap orang berbeda-beda dalam menggapai suatu tujuan atau target. Motivasi atau tekad yang dimiliki seseorang dalam suatu tim kerja akan berbeda satu sama lain. Jika seorang pimpinan punya tekad yang kuat, maka belum tentu semua anggota timnya punya tekad yang sama dalam mencapai suatu tujuan yang sama. “Sehingga ada anggota tim yang menganggap target sebuah momok yang menakutkan,” jelas trainer spesialis Character Building ini yang juga dosen jurusan Radiologi tersebut.

Lantas bagaimana mengatasi perbedaan motivasi di antara anggota tim ini? Wibowo menjelaskan resepnya. Dalam sebuah tim, jelasnya, pemimpin punya dua tugas penting. Pertama, bagaimana ia menyusun visi dan strategi. Dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, sang pemimpin menuliskan imajinasi dan impiannya. Kedua, memotivasi dan mengorganisasikan anggota tim kepada sasaran yang hendak dituju. “Di sinilah kemudian muncul gap motivasi antara antara pemimpin dan anggota,” tukas doktor Radiologi lulusan North Texas, AS ini.

Sering kali, lanjut Wibowo, para pemimpin gagal dalam memotivasi dan mengorganisasi anggota timnya. Sehingga, anggota tim menganggap target yang dicanangkan seolah beban yang sangat berat. Di sinilah, paparnya, para pemimpin memerlukan soft skill. “Soft skill ini diartikan kemampuan seseorang memotivasi dan mendorong anggota tim agar berprestasi,” beber dosen Radiologi UI dan Politeknik Kesehatan Jakarta.

Kebutuhan akan soft skill ini mutlak diperlukan agar tim tidak kehabisan bahan bakar ’motivasi’ di tengah jalan. ”Apalagi jika tujuan akhir pekerjaan kita mengharap ridha Allah dan kebaikan umat,” tandas konsultan manajemen SDM ini.

Seandainya target itu tidak dapat terpenuhi, imbuh masih Wibowo, kita dianjurkan untuk ber-tawakkal kepada yang Allah yang Mahakuasa. ”Kita tidak diperintah untuk sukses. tapi disuruh untuk beramal dan bekerja. Amal yang baik akan berbuah ampunan dan surga. Sedang, kesuksesan itu adalah kemauan manusia,” bebernya.

Wibowo menyarankan agar kita senantiasa mencintai pekerjaan kita. ”Hendaknya kita selalu mencintai pekerjaan dan meyakini itu baik. Sebab, selalu ada tujuan jangka panjang yaitu sukses akhirat,” jelasnya. Caranya, tambah bapak 4 anak ini, dengan sering-sering memperbarui niat dan selalu menambah ilmu. ”Tidak ada ibadah yang enak kecuali disertai cinta. Kemudian berdoalah,” tuturnya menyarankan.{}

Ayo Semangat Kerja, Raih Pahala *

*By Oki Aryono

Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ’ada’
Iwan, sebut saja begitu, beberapa hari ini terlihat lesu. Pria berusia 35 tahun itu tampak tidak bersemangat menjalankan tugasnya sebagai operator mesin produksi di sebuah perusahaan baja. Dia tidak lagi bergairah dengan pekerjaannya itu. Sepertinya ia jenuh bergelut dengan mesin-mesin berat yang bising dan panas. Belum lagi tingginya target kerja yang harus dicapai semakin membuat bapak dua anak ini stres. Tak heran jika ia bekerja pun asal-asalan dengan disertai keluhan-keluhan. Tentu saja sang manajer jengah dengan sikap Iwan ini.
Barangkali kita sendiri pernah mengalami seperti yang dialami Iwan. Ketika semangat kerja melorot. Saat bekerja tidak lagi bergairah. Beban pekerjaan terasa berat. Target kerja tampak begitu sulit dicapai. Atau terkadang kita merasa minder dengan profesi yang kita sandang. Namun, bukankah Islam mengajarkan bahwa bekerja –asalkan halal- dikategorikan sebagai ibadah kepada Allah swt?
Kenapa orang yang bekerja itu bernilai ibadah dan mendapatkan pahala di sisi Allah swt? Jawabannya sederhana. Karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqih, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala. Sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa. Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah saw. bersabda, “Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya)” (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Bekerja Adalah Ibadah
Menurut Dr. Hidayat Nur Wahid MA, ibadah dan bekerja punya kaitan yang erat. Secara umum makna dasar ibadah adalah segala sesuatu yang kita lakukan dalam hati maupun tindakan nyata baik yang ditampakkan maupun disembunyikan selama itu merealisasikan ajaran Allah dengan mengharap ridha-Nya.
Sehingga, lanjutnya, apa saja yang kita lakukan -selain shalat, dzikir, membaca Al Quran, haji, dan ritual ibadah lainnya- asalkan mengharap ridha Allah swt. dan meneladani Rasulullah saw. bisa dihitung ibadah. ”Bisa jadi dengan beraktifitas di kantor, pasar, sekolah, perpustakaan, dan lain sebagainya, dianggap ibadah. Asalkan itu semua itu diniatkan untuk mengharap ridha Allah,” terang Ketua MPR-RI yang juga seorang ustadz ini.
Dengan catatan, tukasnya, aktifitas dan pekerjaan kita bukanlah suatu upaya menghadirkan kemaksiatan dan kemungkaran seperti korupsi, perjudian, narkoba, riba, dsb. Bahkan kalau bisa kita menekuni pekerjaan memakmurkan umat, memajukan bangsa, mengokohkan yang makruf, dan meminimalisir yang mungkar. ”Itu semua akan bernilai ibadah,” jelas doktor bidang akidah ini saat dihubungi di kantornya via telepon.
Atasi Turunnya Gairah Kerja
Terkadang, beban dan target kerja menyebabkan kita mengeluh. Padahal, menurut Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia (SDM) dari Institut Darma Mahardika, Jakarta, hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. ”Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel,” ujarnya seperti dikutip Kompas.com.
Sementara itu, Hidayat menyatakan di era yang serba kompetitif seperti ini diperlukan SDM yang tidak hanya bisa mengeluh. Tapi, SDM uang punya kemampuan mengubah kesulitan dan beban itu sebagai prestasi yang gemilang. Islam, lanjutnya, sangat mencela orang yang bisanya berkeluh kesah dengan beban tanggung jawab yang diembannya. ”Keluh kesah awal dari keputusasaan yang berdampak buruk pada hasil kerja,” tegasnya sambil mengutip surat Yusuf 87.
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen. Meski lumrah, imbuhnya, ’impotensi’ kerja harus diobati. Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai Delapan Etos Kerja Profesional. Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Etos pertama, menurut Jansen, kerja adalah rahmat dari Tuhan.”Sungguh kelewatan jika kita merespons semua rahmat itu dengan bekerja ogah-ogahan,” tandasnya. Kedua, kerja adalah amanah. Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. ”Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya,” paparnya.
Bekerja Adalah Kehormatan
Ketiga, kerja adalah panggilan. Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya. Keempat, kerja adalah aktualisasi. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa ’ada.’ ”Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekerjaan,” ujar Jansen.
Kelima, kerja itu ibadah. Semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata. Keenam, kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward V. Appleton, seorang fisikawan peraih Nobel. Appleton mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling bergengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya. ”Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” kata Jansen menirukan perkataan Appleton.
Ketujuh, kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, papar Jansen, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Kedelapan, kerja adalah pelayanan. “Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen. Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah rahmatan lilalamin (rahmat bagi seisi alam).{}

Catatan Harianku >> SENJA ITU...


Jika cinta itu angin,
rentangkan layarku pada udara
yang tak panas dan tak dingin
Jika cinta itu laut,
layarkan perahuku pada ombak
yang tak badai dan tak mati
(Ahmadun Yos Herfanda)

Menjelang maghrib, saat hujan rintik-rintik…
Hujan masih rintik-rintik, kesunyian mendera. Langit tampak masih mendung. 
Titik-titik hujan merangkai lukisan dikaca jendela rumah.
Duduk termenung dan memandang halaman rumah..
Hujan senantiasa memberiku inspirasi–inspirasi tak terduga. 
Bisa dari harmonisasi suara titik-titiknya, semerbak harumnya tatkala bersatu dengan tanah, perpaduan gerak tetes-tetesnya, membentuk gambar-gambar lembut dimana-mana, juga di hati ini.
Entah mengapa, seperti film dokumenter, berputar menghadirkan sekian episode masa lalu. Begitu hidup, begitu dekat..

Senja ini membuatku termenung dan tersadar, waktu begitu cepat berlalu.. Padahal, rasanya segalanya yang kulalui seperti baru kemarin-kemarin terasa..
                    
Seperti kata Ifah Afianti (Red: Penulis Buku Catatan Seorang Ukhti), bicara soal hujan adalah bicara soal TAKDIR. Seperti turunnya hujan ke bumi, menjadi penyubur & penyejuk, sekaligus menjadi bencana dan penyakit, maka masa-masa yang kita lewati juga adalah kehendaknya. Hidup kita bukanlah diri kita yang memiliki, Tapi Allah yang punya. Segalanya mesti kujalani dan kita lalui.
Meski tumbuh diatas tanah yang sama, dibawah guyuran hujan yang sama, setiap batang rumput dan pohon tumbuh dengan caranya yang berbeda-beda. 
Tak ada alur dan jalan hidup yang sama, yang dilalui setiap orang. Semuanya selalu berbeda. 
Tak ada juga jalan hidup yang datar tanpa gelombang. Semuanya selalu memiliki dinamikanya sendiri-sendiri. 
Tidak ada seorang pun yang menjalani hidup dalam kondisi selalu senang. Tidak juga selamanya dalam kesulitan. Semua selalu bergantian, bersisipan antara senang dan sedih, lapang dan sulit. Begitulah..

Hidup seperti sehelai kertas kosong, tiap kita dan segala peristiwa adalah cerita yang ditulis diatasnya. 
Perjalanan kehidupan adalah buku yang harus dipelajari dan diambil hikmahnya. Sebab itu Rosulullah memandang seseoarang tidak dilihat dari panjang pendek usia hidupnya melainkan pada bagaimana ia bisa memanfaatkan kesempatan hidup yang dimilikinya.
Kalau kita menerima takdir dan keputusan Allah. Hidup ini akan menjadi tenang. Tapi kalau kita menolak takdir kita mesti bertarung dengan perasaan kita yang sungguh menyakitkan.

Adzan maghrib berkumandang… hujan mulai reda..


Titik titik hujan masih membasahi
kala kau menyapa pelangiku
 ingin ku berlari
 jumpa bidadari
bawalah aku pergi bersamamu..

Rabu, 09 Februari 2011

Melejitkan Potensi Otak

OTAK MANUSIA..

Raksasa Tidur
Menakjubkan
Bukan wadah untuk diisi, tetapi api yang siap untuk dipijarkan 
Otak bagaikan otot tubuh

 
POTENSI OTAK :
  • 1 trilyun neuron 
  • 100 milyar sel syaraf aktif 
  • 900 milyar sel pedukung 
  • Bekerja secepat kilat 
  • (Tiap-Tiap Neuron dapat tumbuh hingga 20 ribu cabang)

PERKEMBANGAN OTAK :
  • Umur 0-4 tahun berkembang 50 %
  • Umur 4-8 tahun berkembang 30 %
  • Umur 8-18 tahun berkembang 20 %
BAGIAN-BAGIAN OTAK :
  • Otak Sadar dan Bawah Sadar
  • 2 Belahan Otak
  • 3 Lapisan Otak
  • 4 Gelombang Otak
  • 8 Kecerdasan Gardner
 2 BELAHAN OTAK :
1. Belahan Kiri (Akademik, Urutan, Analisis, angka, Short Term Memory)
2. Belahan Kanan (Kreatifitas, Imajinasi, Holistik, Irama, Long Term Memory)
4 GELOMBANG OTAK :
 
1. Beta (13-28 CPS) : Kondisi Aktif Bergerak, Fikiran bercabang
2. Alfa (7-13 CPS) : Keadaan Relaksasi, Tanpa stress
3. Teta (3,5-7 CPS) : Kondisi Fikiran Kreatif, Genius, Penyembuhan hebat, Inspiratif
4. Delta (0,5-3,5 CPS) : Tidur nyenyak tanpa mimpi, penyembuhan Alamiah, brain cleansing,tumbuh sel-sel baru
 
OTAK TRIUNE : 
Otak Reptile (batang otak)
    Fungsi : Montor Sensori, Kelangsungan hidup, Hadapi atau Lari  
Otak Limbik (Otak Mamalia) 
    Fungsi : Perasaan/Emosi, Memori, Bioritmik, Sistem Kekebalan Tubuh 
Otak Berfikir (Neocortex)
    Fungsi : Berfikir Intelektual, Penalaran, Perilaku Waras, Bahasa
OTAK SADAR & BAWAH SADAR
Otak Sadar 12 %
Bawah Sadar 88 %
(Sehari-hari manusia menggunakan kurang dari 1% otak sadar)

Pikiran ibarat Magnet, apabila negatif maka akan menarik semua yang negatif,  
jika positif, akan menarik semua yang positif

Termasuk yang manakah  Anda ???? 

oleh karena itu : PIKIRKAN SELALU HAL- HAL POSITIF, karena :
Pikiran Positif
TUJUAN :
– Memahami kemampuan yang dahsyat dari pikiran positif. 
– Meningkatkan dan mempunyai keyakinan positif baru
– Meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri

 Dengan Pikiran Positif
Tuhan ( bersyukur, lakukan, hindari ) 
Diri ( terima, hormat, percaya, motivasi )
Pekerjaan ( tekuni, kuasai, hayati )
Orang lain ( menghormati, menghargai, toleransi )
Waktu ( manage, hargai, manfaatkan )
 

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut