SEKOLAHISME&LINIERISME
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS)
Mungkin, kita sangat hafal hadits Nabi saw: “Thalabul ‘ilmi faridhatun
‘ala kulli muslimin!” Maknanya: mencari ilmu itu wajib bagi setiap
Muslim. Karena kita muslim, maka kita terkena kewajiban itu; berdosalah
orang muslim yang tidak mencari ilmu.
Sampai di sini jelas? Ternyata belum. Coba tanyakan lagi: Ilmu apa yang
wajib dicari? Apakah semua ilmu harus dipelajari? Sampai dimana batas
suatu ilmu wajib dicari? Apakah kita bersekolah, lalu kuliah, rajin baca
koran, majalah, atau internet sudah memenuhi kewajiban mencari ilmu?
Juga, yang tidak mudah dijawab: “Apa yang disebut sebagai ilmu? dan
“Apakah kita sudah menjalankan perintah Nabi untuk mencari ilmu itu?”
Biasanya, kita pun sangat paham, bahwa orang-orang yang berilmu akan
ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. (QS Al-Mujadilah:11) .
Rasulullah saw juga bersabda: ”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya
dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR
Muslim). ”Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang
yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan.” (HR Ahmad,
Ibn Hibban, dan Hakim).
Imam Syafii, dalam salah satu syairnya menyatakan: ”Wa man lam yadzuq
murrat-ta’allumi saa’atan; tajarra’a dzullal jahli thuula hayaatihi”
(Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu –
walaupun sesaat – maka ia akan terjerumus dalam kebodohan yang hina
sepanjang hayat.).
****
Kita, kaum Muslim, juga sangat tidak asing dengan hadits Nabi saw, bahwa
mencari ilmu itu sepanjang hayat, minal mahdi ilal-lahdi. Tapi, kini
patut kita cermati beredarnya penyakit kronis bernama “sekolahisme” dan
“linierisme”. “Sekolahisme” memandang bersekolah sama dengan mencari
ilmu; tidak bersekolah berarti tidak cari ilmu; selesai sekolah atau
kuliah, selesai pula upaya cari ilmu.
Mungkin tidak sedikit pula yang berpikir, setelah jadi sarjana dan
bekerja, maka selesai pula kewajiban mencari ilmu. Yang wajib hanya cari
uang. Pulang kerja baca berita, cari hiburan, dan sesekali nonton
berita. Tak terpikir olehnya untuk mengerahkan segenap energinya,
berpikir untuk belajar ilmu aqidah lebih mendalam, memahami tafsir
al-Quran, mencari ilmu-ilmu yang diperlukan untuk bisa mengenal
Tuhannya; memahami aturan-aturan-Nya, dan memiliki ilmu untuk meraih
hidup bahagia (sa’adah/happiness) dengan cara mensucikan jiwa
(tazkiyyatun nafs).
Allah SWT berfirman: “Qad aflaha man zakkaahaa, wa qad khaaba man
dassaaha.” Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh
celaka orang yang mengotori jiwanya. Jadi, tiap muslim harusnya punya
ilmu “jiwa”, bagaimana cara mensucikannya, dan apa saja yang mengotori
jiwanya! Jika tidak punya ilmu tentang itu, berdosalah dia. Mungkin
sarjana psikologi modern pun tak paham tentang “jiwa” (nafs), sehingga
terkena penyakit “jiwa” seperti “gila dunia”, “gila kuasa”, “gila
harta”, “iri hati”, “takabbur”, “riya’” dan sebagainya.
Patutlah waspada pada penyakit “sekolahisme” ini. Sekolah itu baik.
Tapi, menganggap cari ilmu hanya dengan sekolah formal, itu keliru.
Kadang, dalam suatu seminar, disodorkanlah lembaran CV tentang riwayat
pendidikan: mulai SD, SMP, SMA, S-1 sampai S-3. Seolah-olah, kita
menjalani pendidikan hanya sampai di situ saja. Apakah setelah S-3 kita
tidak dididik lagi? Apakah sampai di situ saja usaha mencari ilmu?
Bukankah Nabi memerintahkan kita cari ilmu sampai mati? Itulah penyakit
sekolahisme!
Penyakit “linierisme” menyebabkan seseorang berpikir, bahwa ia hanya
perlu cari ilmu di bidangnya saja. Sarjana fisika tidak mau belajar ilmu
al-Quran, Ilmu Fiqih, Ilmu Akhirat, atau sejarah Islam. Sebab,
pikirnya, itu bukan bidang dia. Pakar Fisika hanya mau berkutat seumur
hidupnya dengan soal fisika. Tak terpikir olehnya untuk mendalami
ilmu-ilmu tentang aliran dan pemikiran-pemikiran sesat di era modern.
Sebab, ia sangka, ilmu itu bidangnya ustad atau kyai, bukan kewajiban
setiap Muslim untuk memahaminya (fardhu ‘ain).
Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan sebuah pesan penting: “Manusia
itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik
diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di
masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.” (Muttafaq 'alaih). Juga,
sabda Nabi saw: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka
Allah menjadikannya pandai mengenai agama (yufaqqih-hu fid-din) dan ia
diilhami PetunjukNYa.”(Muttafaq 'alaih).
Jadi, kata Rasulullah saw, manusia itu laksana barang tambang, seperti
emas dan perak. Allah memang menciptakan manusia dengan kualitas dasar
dan potensi yang sama. Ada yang dikaruniai kecerdasan super tinggi
seperti Imam Syafii, al-Ghazai, Ibn Rusyd, Ibn Sina, BJ Habibie, dan
sebagainya. Ada juga yang diberi potensi kecerdasan sedang-sedang saja.
Ada juga yang diberi amanah ringan, berupa tingkat kecerdasan yang
sangat rendah. Dengan perbedaan potensi itulah roda kehidupan manusia
bisa berjalan.
Karena itulah, orang yang dikaruniai potensi kecerdasan tinggi memiliki
tanggung jawab keilmuan yang lebih tinggi dari orang lain dengan potensi
kecerdasan di bawahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, bahwa
manusia adalah laksana barang tambang. Manusia yang kualitasnya emas,
di masa jahiliyah, akan menjadi emas juga di masa Islam. Dengan syarat,
dia faham agama (mutafaqih fid-din). Sebab, orang yang faham agama
adalah salah satu ciri tanda kebaikan yang dimilikinya.
Maka, sepatutnya – sesuai konsep keilmuan Islam yang integratif dan
tauhidik -- dalam diri seorang “Habibie” dan manusia-manusia super
cerdas lain, terkumpul keahlian dalam bidang sains dan teknologi
sekaligus pakar dalam Tafsir al-Quran, Hukum Islam, Pemikiran Islam,
Sejarah Islam, dan sebagainya.
Sejarah telah membuktikannya! Wallahu a’lam bish-shawab. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar