* By Haikal Hira habibilah
Ini adalah sebuah kebiasaan yang seringkali hanya terlewat begitu saja. Melintas dengan cepat ditengah kesibukan yang selalu menjeruji malam-malam usai rutinitas meletihkan.
Menjebak kita dalam rutinitas tak bermakna. Cerita yang ingin saya sampaikan amatlah sederhana. Sebuah tindakan ‘biasa’ yang (seharusnya) bisa membuat siapapun yang melakukannya menjadi sangat luar biasa bermakna. Tentang saat-saat emas dalam keseharian yang mestinya bisa kita rasakan sebagai ‘obat kuat’ untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Saya menyebutnya sebagai “Sentuhan raga dan segenap jiwa”
Malam itu, seekor nyamuk hinggap di kening putriku. Terlalu perlahan hingga sang ibu yang lelap disampingnya pun tak kuasa menghalau. Diakhir munajatku di bawah pembaringan, baru kusadari damainya, lalu dengan sangat hati-hati kutiup lembut serangga kecil itu. lalu ia terbang menjauh. Tapi entah kenapa, pandanganku menjadi terhenti dan tak hendak pergi ke roman muka sang puteri. Kupandangi lekat pejamnya, sambil menikmati betapa damai dan manisnya makhluk kecilku. Akhirnya, kuputuskan untuk merebahkan tubuh disisinya. Berbaring tenang sambil mencoba untuk menempelkan pipinya yang hangat dan lembut dengan pipiku. Ikut merasakan betapa damai selalu ada dalam alamnya. Nafasnya yang teratur hangat menghembus sampai diwajahku. Ia terlihat begitu tenang.
Tiba-tiba sang putri terjaga. Ia membuka mata perlahan, dan pandangan kami bertemu. Sangat singkat. Sejenak, tatapannya tampak dipenuhi oleh rasa heran. Tapi nampak pula bahwa ia merasa nyaman. Ketika senyum kecil itu telah mengantarnya kembali pada pejaman mata yang semakin redup, tiba-tiba lenganku telah dipeluknya erat sebagai teman dalam mimpinya. Begitulah, masih dalam buaian hangat sang ibu, senyum itu masih belum hilang dan terus dibawanya sampai kealam impian. Duh, Allahu rabbi, terimakasih.
Nah, sahabat, siapapun kalian saat ini pernahkan kalian mengalaminya? Sebagai seorang ayah atau mungkin sebagai anak?
Kalau belum, semoga saja kalian bisa ikut merasakannya suatu saat. Kalaupun sudah, bukankah itu adalah suatu yang luar biasa ?
Menghalau seekor nyamuk yang menyentuh kulitnya, menghapus keringat dahi, mendengarkan dengkur lembut yang teratur. Atau merasakan pori-pori saat rasa dingin mulai menusuk, serta memeluk tubuh mungil itu dengan segenap perasaan. Saya sarankan : Cobalah ! Jangan hanya sang ibu yang bisa mengalami masa-masa menakjubkan itu.
Sungguh seorang ayah semestinya bisa ikut merasakannya. Terlibatlah secara emosi. jiwa dan raga. Maka akan kita temukan betapa beruntungnya kita. Betapa besar karunia Allah atas hidup kita. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan segalanya berlalu dengan cepat. Lalu mereka akan segera tumbuh dewasa. Dan masa-masa keemasan yang singkat itu tinggal impian.
Malam ini, Jangan tunggu apapun lagi. Jangan tunda kesempatan untuk menikmati sebuah rasa menakjubkan. Demi mereka, anak-anak yang manis ! Kita harus tahu bahwa mereka membutuhkan waktu-waktu khusus itu. memastikan bahwa kita akan selalu disisinya. Melindunginya dari apapun jua. Bahkan dari sekedar rasa ‘asing’ yang muncul bila “ayah tidak ditempat”. Tidaklah kita ingin menjadi ayah yang sangat dibanggakan sekaligus ia andalkan ? semoga kita bisa. Menjadi orang terakhir yang dilihat sebelum menutup mata menjelang lelapnya, sekaligus orang pertama yang dilihat saat membuka mata.
Semua tahu, itu tidak mudah! Butuh keberanian untuk suatu perubahan. Jangan pernah ada tanya darinya, ‘ apakah ayah menyayangiku?’ segeralah minta maaf bila ia terlanjur menanyakan hal itu. sebab itu artinya kita telah memberinya rasa ragu, juga ketidakpastian tentang sebuah makna rasa sayang. Jadi bila malam menjelang, mari sempatkan sejenak untuk menuju buaiannya, lalu berlutut dihadapannya sebelum bertanya lembut; “ apakah engkau bahagia, wahai anakku?” Dan bila telah kau pastikan bahwa ia-ia baik-baik saja, sampaikan salam, Selamat tidur, anakku!”
***
Hikmahnya :
Siapapun kita saat ini, sebagai orang tua atau mungkin sebagai anak.
Menjadi orang tua itu indah dan mulia. Dan sebuah hal terpenting bagi seorang anak adalah adanya tempat yang aman dan nyaman agar mereka dapat belajar, bermain bercanda, riang gembira, mengambil resiko, dan hadir seutuhnya dalam setiap peristiwa yang dialaminya.
Senyuman anak-anak adalah cermin yang jernih bagi jiwa yang jernih. Setiap anak adalah peluang untuk berhubungan kembali dengan sifat cinta sejati, betapa pun lamanya hidup anak itu. Hingga pada akhirnya mereka mengajari kita cara menjadi diri kita sebenarnya.
….
Biarkan aku merasa nyaman dirumah
Bantu aku menyadari cinta selalu ada disana
Bahwa aku dapat bersandar kepadamu apapun yang terjadi
Biarkan aku berlari…
Biarkan aku tertawa…
Biarkan aku bermain…
Dan yang terpenting biarkan aku menjadi seorang anak*
*) dikutib dari sepenggal puisi dari “17 Anugrah Terindah untuk Orang Tua”
Wisma Raihana, SBY/08/07/04
Saat teringat masa kecilku,.. tapi bagaimanapun itu adalah sebuah anugrah terindah untukku… terimakasih Allah… hingga akhirnya aku dapat memahami makna hidup yang membawa diriku untuk menjadi diriku sebenarnya
Catt: ‘Selamat Tidur Anakku’ diambil dari UMMI No.7/XV Desember-Januari 2003 /1424
Tidak ada komentar:
Posting Komentar