Kamis, 24 Februari 2011

Teori Evolusi Darwin Mulai Kehilangan Pengaruh Di Eropa


Di sekolah -sekolah Eropa, penciptaan, perancangan cerdas dan kritik terhadap evolusi mulai diajarkan. Bagaimana dengan di Indonesia?

Darwin, dan manusia berasal dari monyet. Itu barangkali yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar istilah Teori Evolusi. Sebenarnya ada yang lebih mendasar tentang Teori Evolusi yang belum banyak diketahui luas. Teori Evolusi adalah teori yang berusaha menjelaskan kemunculan makhluk hidup dari benda tak hidup, secara acak dan kebetulan, tanpa disengaja, tanpa perencanaan, tanpa perancangan, tanpa penciptaan. Dengan kata lain teori ini adalah peniadaan Tuhan dan kekuatan di luar kekuatan alam biasa dalam menjelaskan proses kemunculan makhluk hidup.

Teori ini didasarkan pada pengetahuan terbelakang di masa Darwin dimana mikroskop elektron dan peralatan canggih lainnya belum ditemukan. Sel, bagian terkecil pembentuk makhluk hidup, terlihat melalui mikroskop kuno sebagai bentuk gumpalan sederhana. Namun keberadaan peralatan canggih dan modern saat ini membuktikan bahwa di dalam sel terdapat perangkat-perangkat yang bahkan jauh lebih canggih dibandingkan kota paling modern di dunia sekalipun. Ini berarti tidaklah mungkin sel bisa muncul dengan sendirinya tanpa disengaja, secara kebetulan sebagaimana yang dinyatakan Teori Evolusi.
Sel adalah hasil perancangan mahacerdas dari sang perancangnya, yakni sang Pencipta.

Selain itu, Teori Evolusi mempercayai bahwa keanekaragaman makhluk hidup bukanlah hasil penciptaan masing-masing makhluk hidup tersebut secara khusus, terpisah dan sempurna, melainkan berasal dari satu nenek moyang bersama yang mengalami perubahan sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang sangat lama, jutaan tahun.

Namun, semakin lama pernyataan ini pun semakin kandas. Sebab jika evolusi makhluk hidup benar adanya, tentu fosil-fosil mata rantai yang memiliki bentuk pertengahan -seperti misalnya separuh dinosaurus separuh burung- pernah ditemukan. Bentuk-bentuk fosil makhluk hidup tidak sempurna ini haruslah berjumlah berlimpah dan mudah ditemukan. Tapi 150 tahun setelah masa Darwin, tak satu pun fosil mata rantai ini yang berhasil ditemukan. Yang ada hanyalah bentuk sempurna fosil makhluk hidup itu. Artinya makhluk hidup itu tidak pernah berada dalam wujud pertengahan, artinya mereka semua telah diciptakan dalam bentuk dan jenisnya masing-masing secara terpisah.

Dua hal inilah yang kemudian memunculkan fenomena menarik di abad ke-21 di Eropa: semakin banyak ilmuwan yang tidak lagi meyakini Teori Evolusi dan mulai diajarkannya penciptaan dan kritik teori evolusi di sekolah.

Perkembangan di Eropa
Dalam jajak pendapat di Universitas Dortmund, Jerman, 5,5% mahasiswa calon guru biologi meragukan Teori Evolusi. Bahkan 9% menolak manusia berkerabat dengan simpanse dan memiliki satu nenek moyang yang sama, demikian ungkap majalah Unispiegel 26 April 2007.

Di Perancis lain lagi ceritanya. Kemunculan buku L'ATLAS DE LA CREATION (Atlas Penciptaan) karya Harun Yahya yang berjumlah ribuan negeri menara Eifful itu menimbulkan guncangan hebat. Sedemikian hebatnya sampai menteri pendidikan Prancis khawatir dan mewanti-wanti para direktur sekolah dan universitas bahwa buku tersebut tidak sejalan dengan kurikulum dan tidak perlu dipedulikan, tulis AFP edisi 2 Februari 2007.

Perkembangan menarik juga terjadi di Inggris. Sebagaimana diliput majalah ilmiah Nature, 23 November 2006 silam, murid-murid Inggris juga semakin kritis mengenai Teori Evolusi. “Saya telah berceramah tentang evolusi di depan lebih dari 100.000 murid Inggris selama 20 tahun terakhir. Di sebagian besar masa itu saya tidak pernah ditanya tentang penciptaan,” kata Steve Jones, pakar genetika Universitas College, London.
“Namun di beberapa tahun belakangan, kemana pun saya pergi saya ditanya tentang hal tersebut.”

Kecenderungan serupa terjadi pula di Rusia, Radio Free Europe bulan Maret tahun lalu mengutip hasil jajak pendapat yang dikeluarkan Yuri Levada Center bulan September 2005 tentang Teori Evolusi. Hasilnya, dari mereka yang ditanya, 26% mendukung Teori Evolusi, sedangkan 49% percaya bahwa manusia diciptakan Tuhan.

Di Belanda, Italia, dan Eropa Timur lain lagi kisahnya. Di Italia, pada tahun 2004 menteri pendidikan kala itu, Letizia Moratti, sempat menghapus Teori Evolusi dari kurikulum pendidikan sekolah menengah Italia meskipun belum berhasil sepenuhnya seperti ditulis Nature, 23 November 2006. Koran Glas Javnosti mengutip perkataan menteri pendidikan Serbia kala itu, Ljiljana Colic, bahwa di masa mendatang teori Darwin akan diajarkan bersama dengan penciptaan, demikian diberitakan BBC, 7 Sept. 2004. Di Belanda, sebagaimana diliput majalah Science 3 Juni 2005, menteri pendidikan kala itu Maria van der Hoeven melontarkan wacana debat evolusi melawan perancangan cerdas. Berbeda dengan penciptaan, perancangan cerdas tidak mengaitkan agama, kitab suci dan Tuhan secara jelas. Meskipun demikian keduanya mengkritik evolusi dengan penjelasan ilmiah. Bagaimana dengan di Indonesia? {}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut