Kamis, 24 Maret 2011

Interaksi adalah Inti Mencari Ilmu


By Hernowo*

Seseorang yang sedang belajar atau mencari ilmu, pada hakikatnya, dia sedang menempuh dua jalur belajar. Jalur-belajar yang pertama bisa disebut sebagai jalur individual, sementara jalur lainnya bisa disebut jalu sosial. Proses pencarian ilmu mustahil sukses apabila si pencari ilmu tidak melakukan interaksi. Interaksi, saya kira adalah salah satu tahap penting dalam proses belajar yang efektif.
Apakah mungkin pengonstruksian ilmu berlangsung lancar tanpa si pencari ilmu terlibat aktif dengan diri sendiri atau orang lain ? Baik interaksi individual maupun interaksi sosial sangat perlu dilalui oleh seorang pencari ilmu. Interaksi individual yang sangat intens akan mendorong seseorang untuk merenungkan cocok-tidaknya ilmu yang dipelajarinya dengan karakter dirinya.
Lebih jauh, interaksi individual ini bagaikan semacam dialog internal, dialog batin, yang dialami setiap saat. Informasi yang masuk ke dalam dirinya tentu harus diolah dan di pilih. Apabila seorang pencari ilmu mampu menyadari soal ini, dan kemudian merasakan manfaat besar interaksi individual. Proses menolak dan setuju akan mengaitkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang dengan pengalaman konkret yang ada di dalam dirinya. Perlahan-lahan proses dialog itu akan memunculkan sesuatu yang baru yang cocok dengan dirinya dan tidak menyimpang dari hakikat ilmu yang  sedang dipelajarinya. Intinya, interaksi individual membuat seseorang untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar dapat menjadi miliknya.
Sementara itu, interaksi sosial membuka cakrawala bahwa apa yang dipilih ataupun diputuskan dari proses menjalani interaksi individual perlu dirumuskan dan dibenturkan dengan yang terjadi diluar dirinya. Ada kemungkinan, interaksi sosial (dalam bentuk pengalaman bergaul dengan orang lain baik itu dengan seorang guru atau dengan rekannya) ini tak pernah berakhir dan mendorongnya untuk mengaktifkan interaksi individual.
Inilah, lagi-lagi, proses pembelajaran yang sangat menarik dan mengasyikkan. Kedua jenis interaksi ini menunjukkan bahwa manusia itu terus berubah dan tak pernah berakhir menjadi makhluk yang final, selesai. Belajar membuatnya terus memperbaiki dirinya. Dari proses belajarlah seseorang terus berkembang. Orang yang sedang belajar, secara terus-menerus diminta membaca batinnya dan juga dunia luar yang kasat mata (yaitu perilaku manusia dan makhluk lain disekitarnya).
Sampai disini, saya kemudian teringat akan salah satu istilah dalam psikologi yang diciptakan oleh Carl Gustav Jung. Jung dikenal sebagai orang yang melontarkan tentang apa itu self. Dalam konteks pembahasan saya ini, Jung memiliki istilah yang sangat menarik yang disebut "individuasi". Saya tidak dapat membahasakan istilah ini lebih baik kecuali harus mengutip rumusan yang diciptakan oleh Armahedi Mazhar. Dalam rumusannya, "individuasi" –nya Jung itu dijabarkan lewat kata-kata yang sangat indah. Apa itu ? itulah sebuah proses yang harus dialami oleh setiap manusia dalam bentuk "meruntuhnya kepribadian lama dan mengutuhnya kepribadian baru". Saya menganggap bahwa hakikat hidup kita ya seperti itu. Kita baru dapat merasakan bahwa pengalaman itu sangat penting apabila kita mau, secara serius , belajar dari pengalaman kita. Merujuk ke Ignas Kleden : Kemajuan bukanlah jumlah pengalaman, melainkan refleksi atas pengalaman, yaitu kemampuan untuk mempelajari sesuatu dari pengalaman. Pengalaman memang susuatu yang berlalu, tetapi yang tetap tinggal adalah maknanya, yang baru muncul apabila seseorang sanggup melakukan sintesis berbagai peristiwa dan menerjemahkan menjadi suatu idea, pengertian atau gagasan yang senantiasa dapat dipegangnya. {}

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut