Selasa, 22 Maret 2011

ANAK KITA ADALAH WADAH

By Masruri


      Ada seorang teman lulusan sarjana pertanian Universitas Brawijaya malang.  Saat dia mendapat ijazah dia segera menyerahkan kepada orang tuanya. Dan dia mengatakan bahwa tugasnya untuk sekolah di pertanian sudah selesai. Diapun kemudian bekerja dengan profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan bidang pertanian. Dia juga tidak pernah menggunakan ijazah sarjana pertaniannya itu untuk bekerja. Rupanya teman saya ini kuliah hingga menjadi sarjana pertanian bukan karena keinginan dan cita-citanya. Tapi atas keinginan dan paksaan dari orang tuanya. Sebagai anak yang baik diapun menuruti keinginan orang tuanya walaupun dengan berat hati.
     Kejadian lain yang serupa sering kita jumpai saat anak SMA harus memilih jurusan IPA atau IPS. Banyak orang tua beranggapan bahwa kalau anaknya masuk ke jurusan IPS berarti anaknya bodoh dan masa depanya kurang cerah. Padahal dalam kehidupan sehari -  hari  banyak dijumpai sarjana dari bidang sosial yang sukses dalam karirnya. Dan tidak sedikit sarjana dari bidang eksakta yang gagal dalam karirnya.
     Fenomena di atas menunjukkan bahwa banyak orang tua yang tidak memahami tentang anak-anak mereka. Pemahaman bahwa sesungguhnya anak-anak kita ibarat sebuah wadah. Wadah yang berbeda volume dan  bentuknya. Volume dari wadah,  menggambarkan kapasitas dan potensinya. Bentuk dari wadah, merupakan gambaran kecenderungan dan bakatnya. Walaupun  mereka dilahirkan dari bapak ibu yang sama.  Masing-masing mereka adalah uniq. Uniq dari sisi kapasitas maupun kecenderungannya. Saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang memiliki 3 anak. Anak yang pertama menjadi dokter spesialis. Anak yang kedua menjadi seniman dan yang terakhir menjadi wiraswasta.  Dan ada keluarga lain yang mempunyai 2 anak Yang pertama selalu juara kelas. Sementara adiknya masuk kelas remidial di sekolahnya.
     Kita tidak bisa memungkiri bahwa anak ibarat wadah yang berbeda volume dan bentuknya adalah sebuah realita. Yang terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah begaimana menyikapinya. Ada dua hal yang harus diingat agar sikap kita benar ketika menjumpai  realita ini.  Pertama: ingat bahwa keadaan anak kita bukanlah pilihan mereka. Jika anak kita boleh memilih antara memiliki IQ tinggi atau rendah tentu mereka akan memilih IQ tinggi. Kedua: ingat bahwa anak kita adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang maha Rahman. Sebagai anugerah, wajib bagi kita mensyukurinya apapun keadaan  mereka. Sebagai amanah maka wajib bagi kita menunaikan amanah itu sebaik-baiknya. 

Tutupnya adalah Doa
     Banyak orang tua yang kurang bisa menerima realita  wadah anak-anak mereka. Sehingga anak yang menjadi korban dari cita-cita orang tuanya yang tidak tercapai. Atau menjadi korban obsesi yang terlalu berlebihan dari orang tuanya. Padahal kapasitas anaknya tidak cukup dan kecenderungannya tidak sesuai. Jika anda melakukan ini maka anda akan menjumpai anak-anak yang tidak bahagia menjalani pekerjaannya walau kedudukan atau pangkatnya seolah terhormat.  Atau anak anda akan kehilangan waktu dan tenaga selama bertahun-tahun demi menyenangkan hati anda seperti cerita di awal tulisan ini.
     Jika kita memahami bahwa anak-anak kita adalah wadah-wadah yang berbeda. Akankah terucap dari mulut kita : ”Kamu ini kok gak pintar seperti kakakmu yang selalu juara kelas ”.  Atau akankah kita memaksa anak kita dengan mengatakan: ”Pokoknya kamu harus kuliah di kedokteran kalau tidak mama gak mau membiayai kuliahmu ”.
Kewajiban kita sebagai orang tua adalah mengisi wadah-wadah yang berbeda besar dan bentuknya itu hingga penuh kemudian menutupnya  dengan doa-doa kita dan nilai-nilai kesalehan agar kelak anak kita menjadi orang yang berbahagia. Bahagia bukan hanya untuk dirinya  tapi juga untuk orang lain.{}

Jumat, 18 Maret 2011

JANGAN PAKSA ANAK DENGAN BIMBINGAN DISIPLIN YANG SALAH


Tak ada satupun anak manusia yang sempurna. Terkadang orangtua yang paling baik sekalipun bisa bertindak keliru dalam bersikap terhadap anak. Berikut ini adalah beberapa contoh-contoh tips ringan untuk menghindari pola-pola penerapan disiplin yang salah.

Adalah salah, memperlakukan anak seperti orang dewasa
Kita melihat fenomena belakangan ini banyaknya tayangan TV berbau mistis / misteri atau permainan games yang mengajarkan kekerasan (PS, Counter Strike, dll. ). Anak kita banyak yang kecanduan oleh karenanya. Kebanyakan anak-anak masih belum mampu mencerna apa makna di balik tayangan tersebut. Ternyata ada banyak bukti, dengan pelarangan (baca:disiplin) yang bersifat drastis ataupun terlalu "longgar" / demokratis justru semakin membuat anak jauh dari target disiplin yang diharapkan. Pelarangan atau pembatasan, justru makin membuat anak berani mencari kesempatan untuk melampiaskannya dengan nonton sembunyi-sembunyi atau mencuri kesempatan main games bersama temannya di tempat rental komputer / games.
Langkah bijak yang bisa kita lakukan :
Ajak anak berdiskusi dan jelaskan dengan alasan yang bisa diterima oleh bahasa nalar anak. Beri anak kesempatan untuk ber-argumen, namun jangan banyak membatasi ucapan pembelaan mereka. Terima saja masukan-masukannya, berikan umpan-balik kritis untuknya. Namun pastikan, keputusan final tetap berada di tangan Ortu.

Adalah salah, terlalu banyak atau terlalu sedikit memuji
"Wah, hebat ya anak ayah, matematikanya dapat nilai 8 ! Tapi, harusnya bisa leblh hebat lagi sih., kalau kamu bisa mengalahkan nilai teman-temanmu satu sekolah". Soalnya ayah ini jelek-jelek dulu juara matematika se-sekolahan Iho..!?" Dengan dalih tujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, orangtua kadang menjadikan anak sebagai "kantong" pujian. Padahal, kebanyakan anak -yan-g.-terlalu sering diberi pujian cenderung tidak mampu berusaha keras agar tujuan tindakannya bisa memenuhi target kepuasan dirinya namun justru untuk memenuhi kepuasan si orang yang sering memujinya. Dengan hal­-hal yang dilakukannya secara sederhana, anak selalu berharap mendapat pujian secara berlebihan. Namun dalam bentuk yang lain, dengan tanpa pernah dipuji justru sering menjadikan anak tak pemah mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik­.
Solusi tepat yang bisa Anda lakukan adalah secara proporsional & rasional berikan pujian dalam kemasan "komentar datar" ( intonasi bemada penuh perhatian dan tatap-wajah ) dengan bahasa kedekatan yang wajar.
Tidak perlu Anda menambah­-nambahi dengan ucapan yang bemada "masih ada 'sisa' beban-tugas-tambahan" bagi anak. Lebih mendalam lagi kesannya apabila anda berucap sambil menyentuh pundaknya, menepuk bahunya, mengelus rambutnya dsb. Selain itu, sambil berinteraksi, usahakan selalu bisa kontak mata & wajah dengan anak, sebagai tanda jalinan mengalimya energi kasih yang tulus.

Adalah salah, cepat kehilangan kesabaran
Banyak orangtua dalam merespon kejadian tertentu yang menimpa anak dengan mengekspresikan gerakan, sikap, wajah, dan suara yang sangat menakutkan dan membuat anak traumatik. Dampak ekstrim yang ditimbulkan dari bimbingan orangtua bertipe "berdarah panas" ini seringkali terbawa terus dan turun-temurun sampai ke generasi berikutnya. Ambillah nafas panjang sejenak, minta kepada pasangan Anda untuk menangani anak-anak sebentar, masuklah ke kamar mandi. Ambillah air lalu usapkan ke wajah anda atau sekaligus ke wajah atau kepala anak anda. Begitu amarah emosi Anda mulai tenang, Duduklah dan berbicaralah dengan tegas namun tidak disertai sikap yang kasar. Kita tak dapat menegakkan peraturan  dengan intonasi berbicara yang terlalu keras atau terlalu lembut. Lebih baik, simpanlah energi teriakan keras Anda untuk kasus-kasus yang lebih gawat, misalnya memperingatkan anak menjauhi nyala api kompor yang meledak. menghindari setrum, dsb.

Adalah salah, menerapkan cara-cara pengasuhan secara kukuh dan kaku
Jangan kukuh-kaku untuk terus menggunakan cara yang sama, apabila anak Anda ternyata tidak mempan dihukum dengan sanksi hukuman tertentu selama beberapa waktu. Apa yang berhasil diterapkan pada suatu kondisi, bisa jadi tidak berfungsi pada keadaan yang lain. Cobalah variasikan pola penerapan disiplin Anda, misalnya dengan :
1.    lakukan time-out ( istirahat sejenak ). Tenangkan anak yang mengamuk secara emosional dengan  enyuruhnya duduk. Misalnya untuk anak berusia 6 tahun, suruh duduk tenang selama 6 menit.
2.    menqatur jadwal batas waktu hak-hak khusus anak. Dengan memperhatikan usia dan jenis kepribadian anak, buatlah batasan-batasan jadwal nonton televisi, bertelepon, main games, dsb.
3.    acuhkan sikap-sikap anak yang menjengkelkan. Merajuk, merengek, selalu minta dibantu, bertengkar, dsb. akan berhenti dengan sendirinya bila Anda secara taktis mengacuhkannya.
4.    Beranikan dia untuk bereksperimen dengan aturan-aturan disiplin Anda, namun tetap tekankan peraturan disiplin yang mendasar dengan jelas. Baju jenis apa yang pantas dan boleh dipakai anak perempuan berusia 11 tahun adalah masalah yang bisa dirundingkan. Namun membolos sekolah dan membohongi orangtua adalah dilarang. Apabila anak menyadari kelonggaran dengan adanya beberapa aturan yang masih dapat dirundingkan, maka peraturan lain yang bersifat larangan kemungkinan dapat lebih diterima.

Adalah salah, memperlakukan anak-anak secara sama tau seragam
Untuk menegakkan displin, pada hakikatnya tidak ada satupun cara yang sangat ideal. Hal-hal yang bisa diterapkan pada anak Anda yang berperangai tenang, belum tentu bisa diterima oleh anak Anda, yang lain dengan tipe kepribadian yang berbeda. Semua hal yang mendasari keberhasilan penerapan disiplin di rumah, bergantung juga pada tipe kepribadian akan anak Anda,

Adalah salah, membiarkan anak bebas dari hukuman
Seorang anak yang tidak menghiraukan konsekuensi atau efek dari perbuatannya yang buruk, Ia akan lebih lambat belajar mengenai kesalahannya. Jadi sebaiknya tetap berikan hukuman, bagaimanapun anak Anda, asalkan Anda menerapkan sanksi tersebut tetap dalam catatan : beri hukuman bemilai AJARAN, penuh KESABARAN dan tetap dalam KESADARAN NALAR. Ada yang menyarankan untuk menerapkan bentuk konsekuensi => sanksi berbalas -seimbang. Misalnya gara-gara anak terlambat bangun pagi, menyebabkan Anda terjebak macet dan terlambat masuk ke kantor. Maka, mintalah ia untuk menggantikannya dengan melakukan tugas sebagai kompensasi misalnya membantu untuk mencucikan motor ayah, atau membantu memungut pakaian di tempat jemuran, atau membantu membersihkan mainan yang berserakan, dsb. {}

Penelusuran Potensi Kecerdasan Majemuk



Selasa, 08 Maret 2011

Penelusuran Derajat Kreativitas

CIRI-CIRI DERAJAT KREATIVITAS
lslkanlah angka 0 / 1 / 2 / 3 / 4 / 5 pada kolom sebelah kanan setiap pernyataan berikut.
Angka 0 = Tidak  sama sekali;  1= sesekall;  2 =jarang,  3 = agak sering; 4 = sering; 
5 = hampir selalu;

CIRI-CIRI  DERAJAT TINGGI
CIRI-CIRI  DERAJAT RENDAH
1
Pemilih barang2 yang berkualitas

1
Memilih barang / sesuatu yang biasa saja

2
Bicara terbuka kpd. teman/oranglain

2
Bersikap tertutup dengan orang lain

3
Suka berimajinasi atau berkhayal

3
Tidak suka berkhayal

4
Mampu mempengaruhi orang lain

4
Tak suka menatap wajah saat bicara,

5
Mandiri / tak suka dibantu orang lain

5
Tergantung pd. oranglain/minta dibantu

6
Berpendapat berbeda dg. orang lain

6
Suka mengikuti pendapat orang lain

7
Memecahkan masalah sendirian

7
Pecahkan masalah bersama oranglain

8
Kreatif & memiliki banyak ide

8
Ide & kreasi tidak banyak

9
Bersikap tegas dan "gentle"

9
Pembawaan diri kalem / tak mau ribut

10
Cepat memahami permasalahan

10
Tidak menyukai hal modern / perubahan

11
Berani menantang risiko

11
Lebih suka diam daripada ambil risiko

12
Melakukan aktivitas tidak beraturan

12
Melakukan aktivitas secara seimbang

13
Pembawaan diri fleksibel / luwes

13
Bersikap kaku / kurang luwes

14
Bermain berbagai hal dgn. terampil

14
Tidak suka permainan

15
Menyukai beragam aktivitas fisik

15
Suka diam/hanya mengamati orang lain

16
Suka bersantai2 dalam waktu lama

16
Tidak menyukai hal2 yang lucu / humor

17
Bertindak spontan & cepat tanggap

17
Cenderung kurang cepat bereaksi

18
Menggunakan perasaan / feeling

18
Merenungkan hal2 yang masuk akal

19
Cenderung gembira & bersemangat

19
Suka melamun / merenung sendiri

20
Cepat tanggap memahami orang lain

20
Kurang tanggap kepada orang lain

21
Sikap / pendapat suka berubah2

21
Bersikap sederhana & apa adanya



∑ KIRI =  -------------


∑ KANAN =   ---------------

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut