*By Oki Aryono
Eye Catching
You, and ONLY YOU, who create your own future and destiny. Ya, nasib kita memang bukan ada di tangan orang lain, atau pemilik perusahaan, atau top management atau pejabat pemerintah. Nasib dan masa depan kita ada di tangan kita sendiri.
Tak bisa dipungkiri, pemutusan hubungan kerja (PHK) selalu menjadi momok menakutkan bagi karyawan, pekerja atau buruh. Kekuatiran itu makin dirasakan pekerja menyusul isu ancaman PHK besar-besaran. Krisis ekonomi global dituding sebagai sumber masalah.
Keputusan melakukan PHK sebenarnya tidak dikehendaki pengusaha manapun. Namun, keputusan ini merupakan bagian dari rentetan siklus ekonomi makro dan mikro. Ketika kondisi makro tergoncang, maka sektor mikro pun terdampak secara langsung. Saat pasar global mengalami kelesuan, maka produksi barang dan jasa pun macet. Tak ayal, para pengusaha pun harus menyesuaikan kondisi ini. Jika tak ingin gulung tikar, maka para pengusaha harus merampingkan organisasi perusahaannya salah satunya dengan mengurangi karyawan (PHK).
Menurut Dr. Ir. Pribadiyono, MS, Tenaga Ahli dan Konsultan SDM PT. Quantum HRM Internasional Surabaya, sebenarnya para pengusaha tidak ingin rasionalisasi atau downsizing. “Saya rasa para pengusaha itu sebenarnya juga tidak akan tega melakukan PHK. Namun, mereka harus menyelamatkan roda usaha yang lebih besar,” jelas Pribadi, demikian ia disapa.
Ada yang langsung melakukan PHK. Namun ada pula yang menghindari PHK dengan menyiasatinya yaitu mengurangi hari kerja. “Cara ini banyak dipakai hotel-hotel di Bali beberapa saat pascaperistiwa bom Bali beberapa tahun lalu. Kala itu tingkat hunian hotel di sana mengalami penurunan drastis. Setelah kondisi kembali normal, para karyawan bisa bekerja seperti biasanya,” jelas dosen manajemen di PTN dan beberapa PTS ini.
Memaksimalkan Hard & Soft Skill
Bagi karyawan/buruh, lanjut Pribadi, persoalan PHK harus dihadapi dengan kepala dingin. Bagaimana pun setiap kita pasti punya hard skill dan soft skill. Hard skill terdiri dari keterampilan atau kemampuan yang kita kuasai. Apakah reparasi elektronik, percetakan, fotografi, agrobisnis, otomotif, trading (jual-beli), dll. Jika tidak pindah kerja ke perusahaan lain, lebih baik kita pertajam hard skill kita.
Dalam hal ini, kita harus belajar kepada Cina. Industri di sana ditopang oleh home industry. Jadi, tiap keluarga di sana memproduksi barang-barang yang kemudian disetor ke pabrik. Perusahaan hanya finishing, packing (pengamasan), dan exporting. Cara seperti ini lebih efisien bagi pengusaha dan memperkuat ekonomi masyarakat. “Jadi, pabrik hanya berfungsi sebagai gudang saja,” ungkap pria yang juga menjabat komisaris utama sebuah perusahaan swasta ini.
Namun, acap kali PHK sangat berpengaruh secara psikologis. Kita merasa terbuang dan seperti tak punya harapan. Jika demikian, berarti soft skill kita perlu di-upgrade (ditingkatkan, Red.) kadarnya. “Sikap tabah, sabar menanggung cobaan, berani ambul resiko, tekad untuk bangkit, optimis, berbaik sangka pada Tuhan adalah beberapa contoh dari soft skill,” jelas konsultan sekaligus penemu teknik pengukuran potensi individu Pribadi Spider Plot ini.
Perlu sebuah terapi untuk mengatasi tekanan psikologis ini. “Mulai sekarang kita harus terus mengangkat kadar soft skill kita dimana pun dan kapan pun. Bisa ikut pelatihan, kajian keagamaan atau seminar. Selain tetap meningkatkan hard skill,” tandas pria yang pernah jadi guru Fisika di beberapa SMA ini.
Strategi Mengukur DiriMungkin benar kata sebagian orang, tutur Yodhia Antariksa (dalam http://strategimanajemen.net/2008/11/24/strategi-menghadapi-phk/) menjadi pekerja kantoran sejatinya sama beresikonya dengan berwirausaha. Memang karyawan kantor bisa menerima gaji tetap yang stabil setiap bulan. Namun jika mendadak dipecat, itu artinya sama dengan kehidupan finansial kita sekonyong-konyong bangkrut dalam sekejap. Jadi strategi apa yang kira-kira kudu dipersiapkan untuk mengantisipasi datangnya PHK? Di sini mungkin ada dua pilihan strategi yang bisa kita bincangkan. Strategi yang pertama adalah lakukanlah self-assessment (mengukur potensi diri, Red.) untuk mencoba melihat seberapa kokoh portofolio kompetensi atau kualifikasi kita. Apakah pengalaman kerja yang sudah kita peroleh selama 2, 5 atau 7 tahun itu telah benar-benar memberikan profil kompetensi yang solid dan marketable ‘layak jual.’ “Atau jangan-jangan, pengalaman kerja kita selama ini benar-benar tidak punya makna apapun terhadap pengembangan diri kita!” tegasnya. Lalu, apakah portofolio kompetensi dan skills kita itu juga mudah untuk ‘dijual’ di perusahaan lain, atau bahkan industri lain. Cara yang paling mudah untuk mengetes pertanyaan itu adalah begini: coba bayangkan hari ini kita dipecat; lalu apakah kita merasa yakin dalam waktu paling lama 3 bulan, kita sudah bisa memperoleh pekerjaan seperti semula? “Jika tidak yakin, berarti mungkin profil skills dan kualifikasi kita masih cukup rentan,” ujar seorang learning facilitator dalam bidang corporate performance management ini. Kalau demikian, segeralah bertindak melakukan serangkaian aksi untuk memekarkan keahlian dan keterampilan kita. Cara paling mudah adalah melalui pekerjaan kita saat ini. Bersikaplah proaktif; dan jika mungkin mintalah tambahan tugas baru –yang memungkinkan kita untuk terus mengembangkan keterampilan baru. Bersikap pula aktif untuk terlibat dalam proyek-proyek yang ada di kantor. Sebab siapa tahu, dari rangkaian tugas dan proyek itu, kita bisa punya kesempatan bagus buat mengasah kompetensi. Dan itu artinya, Anda bisa terus mengembangkan portofolio pengalaman serta ‘nilai jual’ kita di tengah pasar tenaga kerja yang kian kompetitif. ‘Nilai jual’ yang bagus ini tentu saja akan sangat bermanfaat jika kelak kita memang kejeblok kena PHK.
Start Small, But Do Act Now!
Strategi yang kedua, lanjut Yudhia, mengambil pendekatan yang agak berbeda. Strategi kedua ini bertajuk begini: mumpung masih menjadi pekerja kantoran dan belum keburu di-PHK, start doing your own business right NOW. “Ya, dengan masih menjadi karyawan, ada kemungkinan kita masih bisa sedikit menyisakan tabungan. Apalagi kalau gaji kita Rp 16 juta per bulan,” tukas peraih gelar master of science dari Texas A&M University ini.
Dari uang tabungan ini, kita tentu bisa bergerak untuk memulai sebuah bisnis secara mandiri. Tentu saja kita mesti mencari jenis usaha yang tidak menuntut Anda untuk terjun langsung full time. Bisa juga kita memanfaatkan atau mempekerjakan orang lain untuk menjalankan usaha ini. “Sementara kita bisa bertindak sebagai semacam arranger. Atau bisa juga kita memanfaatkan istri untuk dijadikan business partner, why not?” cetusnya.
Start small, but do act NOW ‘Mulai dari yang kecil, lakukan sekarang juga.’ Cantumkan target dalam dua tahun pertama, usaha mandiri itu bisa mendatangkan income setidaknya 50 % dari gaji pokok kita sekarang. Dan kemudian, dalam waktu tiga atau empat tahun, bentangkan sasaran untuk memperoleh laba yang jumlahnya 100% sama dengan gaji kita saat itu. “Nah, kalau sudah begini, kita bisa kemudian memilih: apakah tetap bekerja sambil berbisnis, atau pamit untuk sepenuhnya mengelola our own business. Wah asyik juga ya kedengarannya,” ujarnya. Kitalah ‘Bos’ Demikianlah dua strategi ringkas yang mungkin bisa kita singgahi manakala kita berpikir untuk merespon ancaman PHK. Apapun pilihan kita, masih kata Yudhia, ada satu kalimat yang mungkin layak dicengkram erat-erat dalam sekujur tubuh kita. Kalimat itu berbunyi begini: You, and ONLY YOU, who create your own future and destiny. “Ya, nasib kita memang bukan ada di tangan orang lain, atau pemilik perusahaan, atau top management atau pejabat pemerintah. Nasib dan masa depan kita ada di tangan kita sendiri,” tandasnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (QS. Al Baqarah 286).(oq)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar