Jumat, 25 Maret 2011

Diri yang Memiliki Banyak Sekali Potensi


By Hernowo*

Mungkin saja kita sudah sering mendengar kata‑kata bertuah ini, "Apa yang ada di hadapan kita dan apa yang ada di belakang kita hanya­lah hal-hal kecil apabila dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita." Kata-kata bertuah ini berasal dari orang sukses bernama Oliver Wendell Holmes. Apa­kah yang dikatakan Holmes ini kemudian dapat meng­ubah diri kita menjadi diri yang hebat?

Coba, sebelum membahas lebih ja­uh berkaitan dengan apa yang dikatakan Holmes, simak kata-kata sampaikan oleh seseorang yang ber­hasil membuat buku yang ditulisnya dapat menumbuhkan diri yang tinggi pembacanya, "Yang dibutuhkan untuk meraih segala angan Anda dalam hidup ini, ada di dalam diri Anda." Bagaimana pembaca? Apakah diri kita masih belum tergerak dengan kata-kata Barbara De Angelis ini?

Bagaimana dengan kata-kata yang satu ini? Mungkin ini lebih spesifik dan dapat, secara tiba-tiba, menyadar­kan kita? "Semua sumber daya yang kita perlukan ada di dalam benak kita," ujar tokoh terkenal Theodore Roosevelt.
Semoga kata-kata Roosevelt ini memiliki gaung yang mengguncang kita ketika kita padukan dengan kata-­kata Tony Buzan, penemu metode-hebat "peta pikiran", "Otak Anda bagaikan raksasa tidur"

Apa itu potensi? Di manakah potensi itu berada di dalam diri kita? Apakah kita dapat dengan mudah mene­mui banyak sekali potensi di dalam diri kita? Apakah benar potensi yang ada di dalam diri kita itu banyak sekali? Apa ciri-ciri yang dapat kita deteksi berkaitan dengan potensi diri? Apa itu sebenarnya potensi? Bagai­mana memunculkan potensi agar diri kita dapat menda­patkan manfaat darinya?

Secara bahasa, potensi adalah "kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat dikembangkan". Potensi juga dapat dipadankan dengan kata kekuatan, kesanggupan, atau daya. Inilah modal manusia untuk tumbuh dan berkembang secara luar biasa. Setiap ma­nusia pastilah memiliki potensi. Hanya, sekali lagi, yang perlu disadari oleh setiap diri yang berpotensi adalah bahwa kemampuan tersebut perlu diolah atau mungkin dideteksi lebih dahulu agar dapat dikembangkan atau diaktualisasikan dalam kehidupan yang nyata.

Menurut apa yang saya alami, potensi diri baru akan menyala secara hebat apabila diri saya meyakini bahwa  saya memang memiliki potensi.  Meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi tidaklah mu­dah. Ketidakmudahan meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki banyak sekali potensi sama dengan ketika saya menentukan sesungguhnya potensi apa sih yang dapat saya kembangkan. Kadang, saking banyaknya potensi yang saya miliki, saya menjadi kebingungan untuk mene­tapkan satu saja potensi diri yang sangat menonjol.

Saya, misalnya, temyata memiliki potensi untuk men­jadi pemain bulu tangkis yang hebat. Oleh almarhum ayah saya, setiap hari, ketika saya masih kecil, potensi bermain bulu tangkis saya itu diasah. Ini dibuktikan oleh ayah saya dengan membangun lapangan bulu tangkis persis berada di depan rumah saya di Magelang. Saya terus diajak bermain mengasah potensi saya tersebut. Hingga menginjak dewasa, setidaknya saya dapat me­nguasai pelbagai teknik memukul bola sehingga dapat mematikan lawan.

Saya juga memiliki potensi untuk merenungkan sega­la sesuatu secara intens. Saya menyadari sekali bahwa saya itu pemalu. Lebih spesifik lagi, saya adalah orang yang tergolong introvert. Saya suka menyendiri dan kurang suka ramai-ramai dengan orang lain. Ternyata potensi saya ini berkembang pesat setelah bekerja di sebuah penerbitan. Menjadi introvert tidak lantas mencirikan bah­wa seseorang tidak dapat berkembang. Saya merasakan sekali apabila sikap introvert ini menemukan lingkungan yang tepat dan kondusif, tentulah sikap tersebut akan menguntungkan si pemilik sikap itu.

Akhirnya, saya dapat memunculkan potensi dalam konteks yang berbalik 180 derajat dengan sikap introvert, setelah saya mengasah potensi membaca dan menulis saya secara rutin. Saya kini suka bergaul dengan orang lain dan, bahkan, saya berani membagikan pengalaman saya secara bertatap muka. Saya jadi fasih berkata-kata dan secara lantang saya kemudian berani  untuk " menggerakkan " orang lain untuk berubah.

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Kamis, 24 Maret 2011

Pembelajaran adalah Perubahan



By Hernowo*

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa terjadi semacam "dialog batin" di dalam diri kita? Bagai­mana kita dapat merasakan bahwa ada dua macam "wajah" di dalam diri kita yang saling pandang dan mengungkapkan pandangannya? Bagaimana peng­alaman terbentuk? Apakah pengalaman yang membuat diri seseorang naik dari satu lapisan ke satu lapisan dera­jat yang lebih tinggi dikarenakan oleh "dialog batin" yang instens itu?
Apa sesungguhnya "dialog batin" itu? Apakah semua orang mengalami­nya? Apakah jika "dialog batin" itu benar-benar terjadi pada setiap orang, lantas berlangsungnya itu setiap hari, setiap menit, atau bah­kan setiap detik? Bagaimana cara mendeteksi semua ini ? Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa "dialog batin"-nya senantiasa berlangsung hebat dan bermanfaat bagi pertumbuhan dirinya?
Ada sebuah rumusan yang bagus dari Dave Meier berkaitan dengan soal-soal yang tidak gampang kita sepakati ini. Meskipun rumusan Meier ini tidak langsung menuju sasarannya, namun, saya rasa, pandangan Meier ini dapat memberikan semacam pijakan untuk mende­teksi lebih jauh tentang "dialog batin". Lewat rumusan Meier, yang sebentar lagi akan kita baca, tampak bahwa hampir semua yang sedang kita bicarakan ini—dan juga apa yang disinggung oleh pernyataan Ignas Kleden : berpusat pada satu kata: pembelajaran (learning).
"Penelitian mengenai otak dan kaitannya dengan pembelajaran telah mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan. Jika sesuatu dipelajari dengan sungguh­-sungguh, struktur internal sistem saraf kimiawi (atau elektris) seseorang pun berubah. Sesuatu yang baru ter­cipta di dalam diri seseorang—jaringan saraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru, dan hubungan baru," tulis Meier.
Nah, rumusan Meier tak hanya berhenti di situ. Meier kemudian memberikan kata-kata kunci yang layak kita perhatikan secara saksama, "Dalam proses pembelajaran,
para pembelajar harus diberi waktu agar hal-hal baru ini betul-betul terjadi dikedalaman dirinya. Jika tidak, tentu saja takkan ada yang melekat. Juga tak ada yang menyatu dan tak ada yang benar-benar dipelajari. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tak ada waktu untuk berubah, berarti tak ada pembelajaran yang sejati.
Dialog batin“ atau dialog-internal yang mungkin dijalani oleh seseorang, dalam tempo yang lama dan panjang, adalah sebuah pembelajaran. Hingga disini, dapat dikatakan bahwa diri yang berilmu adalah diri yang terus melakukan koreksi, instropeksi, dan perubahan diri. Tentu, perubahan diri yang terjadi adalah perubahan diri yang menarik. Bisa jadi, diri yang berubah, diri yang berilmu itu, mengalami dialog internal yang naik-turun. Namun, proses naik turun (up and down) itu berada pada area yang menanjak.
Secara fisik, ada kemungkinan kita dapat mengetahui diri kita berubah. Sakit dan sehat adalah bukti adanya perubahan diri dalam konteks fisik. Pada suatu saat diri kita mengalami kesegaran luar biasa. Namun, pada lain saat, diri kita mengalami kelelahan luar biasa. Kesegaran di satu pihak dan kelelahan di lain pihak inilah yang menunjukkan adanya dialog-internal di dalam diri kita yang terus berubah. Lewat proses sakit-sehat, sehat-sakit, dan seterusnya, tentulah diri kita yang bersifat fisik ini akan mengalami perubahan.
Nah, berkaitan dengan diri yang berilmu, ingin saya memakai sakit-sehat itu dalam konteks tahu dan tidak tahu atau memahami dan tidak memahami. Lebih tegas lagi, jika soal tahu dan tidak tahu dikaitkan dengan apa­kah sebuah dialog-internal kemudian melahirkan sebuah hasil yang nyata dalam bentuk sebuah diri yang berkem­bang, maka kits perlu mengganti konsep memahami dan tidak memahami dengan "menguasai dan tidak me­nguasai".{}

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Interaksi adalah Inti Mencari Ilmu


By Hernowo*

Seseorang yang sedang belajar atau mencari ilmu, pada hakikatnya, dia sedang menempuh dua jalur belajar. Jalur-belajar yang pertama bisa disebut sebagai jalur individual, sementara jalur lainnya bisa disebut jalu sosial. Proses pencarian ilmu mustahil sukses apabila si pencari ilmu tidak melakukan interaksi. Interaksi, saya kira adalah salah satu tahap penting dalam proses belajar yang efektif.
Apakah mungkin pengonstruksian ilmu berlangsung lancar tanpa si pencari ilmu terlibat aktif dengan diri sendiri atau orang lain ? Baik interaksi individual maupun interaksi sosial sangat perlu dilalui oleh seorang pencari ilmu. Interaksi individual yang sangat intens akan mendorong seseorang untuk merenungkan cocok-tidaknya ilmu yang dipelajarinya dengan karakter dirinya.
Lebih jauh, interaksi individual ini bagaikan semacam dialog internal, dialog batin, yang dialami setiap saat. Informasi yang masuk ke dalam dirinya tentu harus diolah dan di pilih. Apabila seorang pencari ilmu mampu menyadari soal ini, dan kemudian merasakan manfaat besar interaksi individual. Proses menolak dan setuju akan mengaitkan ilmu yang sedang dipelajari seseorang dengan pengalaman konkret yang ada di dalam dirinya. Perlahan-lahan proses dialog itu akan memunculkan sesuatu yang baru yang cocok dengan dirinya dan tidak menyimpang dari hakikat ilmu yang  sedang dipelajarinya. Intinya, interaksi individual membuat seseorang untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar dapat menjadi miliknya.
Sementara itu, interaksi sosial membuka cakrawala bahwa apa yang dipilih ataupun diputuskan dari proses menjalani interaksi individual perlu dirumuskan dan dibenturkan dengan yang terjadi diluar dirinya. Ada kemungkinan, interaksi sosial (dalam bentuk pengalaman bergaul dengan orang lain baik itu dengan seorang guru atau dengan rekannya) ini tak pernah berakhir dan mendorongnya untuk mengaktifkan interaksi individual.
Inilah, lagi-lagi, proses pembelajaran yang sangat menarik dan mengasyikkan. Kedua jenis interaksi ini menunjukkan bahwa manusia itu terus berubah dan tak pernah berakhir menjadi makhluk yang final, selesai. Belajar membuatnya terus memperbaiki dirinya. Dari proses belajarlah seseorang terus berkembang. Orang yang sedang belajar, secara terus-menerus diminta membaca batinnya dan juga dunia luar yang kasat mata (yaitu perilaku manusia dan makhluk lain disekitarnya).
Sampai disini, saya kemudian teringat akan salah satu istilah dalam psikologi yang diciptakan oleh Carl Gustav Jung. Jung dikenal sebagai orang yang melontarkan tentang apa itu self. Dalam konteks pembahasan saya ini, Jung memiliki istilah yang sangat menarik yang disebut "individuasi". Saya tidak dapat membahasakan istilah ini lebih baik kecuali harus mengutip rumusan yang diciptakan oleh Armahedi Mazhar. Dalam rumusannya, "individuasi" –nya Jung itu dijabarkan lewat kata-kata yang sangat indah. Apa itu ? itulah sebuah proses yang harus dialami oleh setiap manusia dalam bentuk "meruntuhnya kepribadian lama dan mengutuhnya kepribadian baru". Saya menganggap bahwa hakikat hidup kita ya seperti itu. Kita baru dapat merasakan bahwa pengalaman itu sangat penting apabila kita mau, secara serius , belajar dari pengalaman kita. Merujuk ke Ignas Kleden : Kemajuan bukanlah jumlah pengalaman, melainkan refleksi atas pengalaman, yaitu kemampuan untuk mempelajari sesuatu dari pengalaman. Pengalaman memang susuatu yang berlalu, tetapi yang tetap tinggal adalah maknanya, yang baru muncul apabila seseorang sanggup melakukan sintesis berbagai peristiwa dan menerjemahkan menjadi suatu idea, pengertian atau gagasan yang senantiasa dapat dipegangnya. {}

*Perakit buku Quantum Reading dan Quantum Writing

Rabu, 23 Maret 2011

Anak Sempurna Atau Anak Bahagia?*


By Basilia Subiyanti W.

Anak adalah anugrah berharga dan juga amanah yang diberikan Allah swt. tempat kita meneruskan cita-cita, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi masa depan yang beriman, cerdas, sehat, berakhlaq mulia, dan bermartabat. Kita memiliki tanggung jawab yang luar biasa ‘besar’ untuk memberikan yang terbaik dan membekali anak-anak kita dengan segala hal yang diperlukan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang sukses dan berhasil. ”Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim).

Dilema orang tua modern
 “ Teman anda bercerita bahwa putrinya sedang dalam daftar tunggu di bimbingan tes untuk ujian SPMB. Anak tersebut baru kelas 3 SLTP. Anak Anda juga. Ujian SPMB masih tiga tahun lagi. Anda menjadi khawatir. Apakah sebaiknya putri anda akan didaftarkan juga?”

Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua modern zaman sekarang, mengingat di tengah zaman yang super kompetitif ini, anak-anak juga harus dituntut untuk memiliki kompetensi yang super juga. Media massa, khususnya televisi telah banyak mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri dan keluarga termasuk cara mendidik anak. Para orang tua modern kian banyak yang terobsesi dengan citra ideal di tayangan-tanyangan televisi (red:sinetron). Orang tua sangat berharap kelak anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sukses dengan gaya hidup ideal. Dan disebabkan anak-anak masih belum tau apa yang terbaik yang harus mereka lakukan demi masa depan mereka, sangat penting bagi orang tua untuk mempersiapkan anak-anak menjadi sebaik dan setepat mungkin. Peran orang tua teramat penting disini, orang tua harus dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak menuju masa depan. Alhasil, disebabkan mereka takut dan di hinggapi rasa khawatir yang berlebihan jika tidak ada usaha yang terus menerus dalam memacu prestasi anak-anak, ketika dewasa nanti anak-anak tidak dapat berkompentesi dan akhirnya gagal. Hal inilah menjadikan tuntutan orang tua kian meluas. Anak harus menuruti semua perintah dan tuntutan orang tua. Mereka menuntut anak-anak agar mengikuti  apa yang menjadi kemauan para orang tua, dengan keyakinan  tuntutan tersebut adalah yang mereka anggap paling baik bagi anak-anak.

Harga Kesempurnaan
Harapan orang tua agar masa depan anaknya kelak bahagia,  anak harus menjadi  sukses dalam segala hal. Ironisnya, sukses dalam segala hal hanya dipandang dari segi materi. Kebahagaiaan dan kesuksesan hanya jika kelak anak-anak kita sudah menjadi seorang yang berkecukupan, rumah bagus, mobil mewah, menduduki  jabatan strategis di suatu perusahaan atau instansi.  
Jalan menuju kebahagiaan sebenarnya sederhana, namun seringkali orang tua “terjebak” dalam peta yang keliru tentang kebahagiaan. Orang tua ingin anaknya bahagia, namun kebanyakan orang tua menyamakan ukuran kebahagiaan identik dengan hasil yang diperoleh bukan bagaimana proses menuju kesuksesan tersebut. Ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang “sempurna” melahirkan begitu banyak tingginya tuntutan bagi anak-anak. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anaknya dapat dikategorikan anak yang sukses dan berprestasi. Bukan hanya prestasi akademik dan olahraga bahkan penampilan fisik pun nyaris harus dinilai, bukan diterima apa adanya. Tak heran jika sebut  saja Ria (red:bukan nama sebenarnya) seorang gadis berusia empat belas tahun mendapat hadiah ulang tahun dari ibunya berupa operasi plastik pada hidungnya, awalnya Ria kurang menyetujuinya, tapi karena ingin menyenangkan hati ibunya pada akhirnya Ria pun menyetujuinya.

Push Parenting
Sebagian besar misi orang tua adalah melepaskan anak ke dunia, siap dengan persenjataan lengkap agar dia selamat dan juga sukses. Anak-anak dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nantinya mereka berhasil dan dapat bersaing dengan yang lain. Masalah baru yang timbul, yakni jika orang tua menggunakan petunjuk yang berasal dari budaya pengasuhan yang dilakukan orang tua saat ini dan bukan dari pemahaman anak-anaknya. Bagi banyak orang tua, persaingan menuju perguruan tinggi negeri ternama, di mulai sangat dini dan menjadi motivator di balik berbagai keputusan yang di buat orang tua. Orang tua terlalu mendominasi seluruh kegiatan anak-anaknya, anak-anak seolah tak memiliki ruang & waktu bagi dirinya sendiri, dan semuanya berubah menjadi penuh tekanan. Pola pengasuhan demikian adalah pola pengasuhan yang terlalu menuntut (Push Parenting) mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya, menuntut prestasi tinggi di sekolah dan berbagai bidang lain dengan segala cara (emosional, psikologis dan fisik). Orang tua tidak dapat membedakan antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka. Menjadikan anak sebagai pusat jagat raya, lupa sama sekali jika anak itu tetaplah hanyalah seorang anak-anak, yang perlu diberi ruang, bimbingan dan batasan. Anak-anak sibuk dengan jadwal yang ditetapkan orang tua, ia merasa menjadi pihak yang tertekan bahkan hubungannya menjadi renggang dengan anggota keluarga karena padatnya jadwal yang harus diikutinya.
Ketidakinginan memisahkan diri dari anak kita dan ketidakmampuan untuk memikul peran sebagai orang tua menghasilkan dua model pengasuhan anak dan dua jenis anak : “Anak yang menjadi “pusat dunia” dan “miniatur diriku”.  Anak-anak ini tumbuh menjadi dewasa dengan  menyesuaikan kebutuhan orang tua. Orang tua memonitor seluruh kegiatan anaknya. Pagi hingga sore hari harus bersekolah (full day school), tiba dirumah harus pergi lagi untuk mengikuti segala macam kursus-kursus yang dipilihkan orang tua, karena dianggap apa yang diinginkan orang tua adalah yang terbaik bagi anak, suka atau tidak. Minat anak pun harus diabaikan. Saat anak-anak lebih berminat kursus di bidang musik atau olah-raga, harus dilarang oleh orang tua dan di paksa mengikuti kursus matematika atau komputer karena matematika atau komputer dianggap lebih baik dan lebih populer ketimbang olah raga. Orang  tua harus mencampuri persahabatan anaknya, mengawasi hubungan anak dengan guru dan pelatihnya  juga hubungan dengan teman-temannya.  Ada juga selain anak-anak harus diantar kesana kemari, les itu les ini, anak-anak sudah harus mulai bersekolah ketika baru beberapa bulan terlahir di dunia. Batita digiring setiap hari mengikuti kelompok bermain. Mereka juga harus masuk TK favorit, SD favorit, SMP favorit, kemudian SMU unggulan, dan akhirnya sukses masuk perguruan tinggi ternama, agar berhasil di dunia kerja. Semua fasilitas lengkap tersedia : buku, komputer, mainan canggih yang memberikan stimulasi pada otak, guru privat di rumah, bimbingan belajar, dan segala macam kursus.

Anak Sempurna  atau Anak Bahagia
Tren pengasuhan anak dengan “push parenting” seolah-olah mendapat pembenaran karena tujuannya sangat baik yakni demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Tanpa disadari, tuntutan yang mereka berikan menjadi berlebihan dan akibatnya sebenarnya justru berdampak yang buruk bagi anak. Jika sang anak cukup mampu mengikutinya bukan menjadi problem bagi kita, namun jika orang tua mengabaikan bahwa sebenarnya sang anak merasa terbebani dengan hal ini, apalagi secara kemampuan intelektual tidak mendukung, maka hal inilah yang sebenarnya akan merugikan bagi sang anak sendiri. Dampak buruk bagi anak akibat “push parenting” antara lain :

Pertama, hal ini akan menciptakan anak rawan terhadap stress dan depresi.
Prestasi dini hasil rangsangan orang dewasa pada anak-anak yang masih muda akan menghasilkan pembelajar yang pencemas.  Disamping kecemasan, anak yang dipacu dapat menderita hambatan berperilaku (inhibition). Sama halnya seperti diri kita, terkadang saat kita dihadapkan pada kondisi sulit, saat menghadapi ujian atau memberikan presentasi, ketika kita dilanda rasa gugup akibat perasaan tertekan atau takut (red: cemas) akan berpengaruh terhadap kinerja meski sudah dipersiapkan dengan matang dan sebaik mungkin, kita tidak dapat melanjutkan presentasi karena kehilangan rasa percaya diri dan keyakinan terhadap kemampuan kita untuk melakukannya.

Kedua, pendidikan yang mementingkan prestasi umumnya mengabaikan kepribadian.
Terlalu sibuk memacu prestasi akhirnya melupakan tanggung jawab akan pembentukan kepribadian anak. Sebagaimana kasus ini : Sebut saja Tedi (red: bukan nama sebenarnya) adalah contoh khas anak yang dipacu. Di Sekolah Dasar (SD) dia berhasil karena perhatian orang tuanya yang terpusat dan penghargaan dari orang tuanya, tetapi orang tua Tedi tidak pernah mengembangkan imajinasi atau perasaan bahwa dia mampu. Motivasi untuk mencapai kesuksesan bukan dari dalam dirinya sendiri.  Pada masa-masa awal semuanya dapat berjalan lancar, namun apa yang terjadi jika anak yang dipacu mencapai masa remaja? Seperti “menabrak kipas angin!”.  Orang tua yang telah sukses merekayasa berbagai aspek kehidupan sosial, atletik, dan kependidikan anak, mereka menemukan bahwa begitu anak melewati masa pubertas, anak yang tadinya penurut tiba-tiba seperti menekan rem dan berhenti. Anak seperti Tedi yang dipacu di luar batas dengan keterbatasan kemampuannya, pada masa pubertas, masa dimana yang paling sulit untuk pertama kali dalam hidupnya  harus  melewatinya tanpa ketangguhan diri yang tidak dimilikinya. Apa yang terjadi ? Anak-anak lain, yang mungkin memang berbakat dan pandai, mulai mempertanyakan setiap aspek kehidupan, hubungan mereka dengan orang tuanya, apa yang menjadi keinginan dan cita-cita dirinya yang sebenarnya, dan memutuskan tidak lagi bersedia mengikuti cita-cita orang lain. Sedang, anak yang dipacu secara khas, mereka akan menjadi remaja pembangkang, bingung, mudah berputus asa dan akan sulit mengahadapi berbagai masalah-masalah remaja yang dilaluinya. Jika orang tua terhadap anaknya lebih filosofis, tidak hanya memacu prestasi namun juga menanamkan nilai-nilai luhur sebagai pembentukan karakter kepribadiannya misalnya menjadi anak yang jujur, disiplin, produktif, kreatif dan berinovasi. Anak-anak akan cenderung bereksperimen dan mencoba hal-hal menarik minat mereka dan pada akhirnya pelan-pelan akan memiliki cita-cita pribadi. Mereka juga akan membiasakan diri mengatasi kegagalan dan melihat dunia sebagai tempat dimana mereka masih punya kendali atas hasil dari suatu situasi. Mereka belajar untuk menerima tanggung jawab atas tindakan mereka, menikmati kesuksesan mereka dan belajar dari kesalahan mereka sendiri.

Ketiga, kehilangan kebersamaan yang bermakna dalam keluarga.
Konsekuensi “push parenting” adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam berbagai bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama pembimbing, guru les mereka dan lebih sedikit waktu bersama orang tua. Karena sebagian orang tua merasa aman jika anak belajar dengan mendapat bantuan tenaga professional, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Padahal, menjadi hal yang terpenting bagi anak saat kebersamaannya dengan orang tuanya. Bagi orang tua, membicarakan bagaimana prestasi sang anak lebih penting dan mengecam setiap kegagalannya, daripada bincang-bincang santai di meja makan, di depan televisi atau berkelakar di depan tempat tidur. Kesempatan orang tua untuk berbagi pengalaman dan hal-hal penting semakin jarang. Di dalam kebersamaan dengan orang tua melalui percakapan dari hati ke hati yang bermutu akan membawa “chemistri“ dan energi positif untuk saling membangun keintiman, menolong anak untuk menemukan siapa dirinya, dan memberikan rasa aman yang diperlukan seorang anak.

Hidup kita, seperti kebanyakan yang lain, telah diubah oleh anugrah berharga yang ditawarkan anak-anak setiap hari, andai saja kita mau melihat, mendengarkan, dan belajar dari pelajaran yang anak kita berikan. Ternyata anak-anak yang lebih banyak memberi pada kita. Seperti Rainsford dalam kutipannya : “Mencintai anak bukan berarti mempermudah hidup mereka, melainkan membantu mereka melampui rasa sakit “. Doa kita,  semoga kelak anak kita menjadi anak anak-anak yang sukses, yang bahagia bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain serta menjadi anak yang shaleh, rahmatan lil ‘alamin bagi alam semesta. Amin. {BSW}

Selasa, 22 Maret 2011

Mengkorelasikan Teori Leadership dengan Sifat Kenabian


Hampir semua teori kepemimpinan ada pada Nabi Muhammad saw. Bukannya mau berapologi. Tetapi memang demikianlah adanya. Berbagai teori-teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh para guru leadership di abad ke-20 M, dalam banyak hal ditemukan pada pribadi dan kepemimpinan Rasulullah saw.
Salah satu teori dikemukakan oleh Kets de Vries (dalam Muhammad saw., The Super Leader Super Manager, Syafii Antonio, hlm. 19) yang menyimpulkan dari penelitian klinisnya terhadap para pemimpin bahwa sebanyak persentase tertentu dari para pemimpin itu mengembangkan kepemimpinan mereka karena dipengaruhi oleh trauma pada masa kecil mereka.
Nabi saw. mengalami masa-masa sulit di waktu kecilnya. Di usia dini, beliau sudah menjadi yatim piatu. Pada kanak-kanak itu pula beliau harus menggembala ternak penduduk Makkah. Di awal usia remaja, beliau sudah mulai belajar berdagang dengan mengikuti pamannya Abu Thalib di kawasan Jazirah Arab.
Beberapa teori kepemimpinan lainnya juga dapat ditemukan pada diri Nabi saw. Misalnya, empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling).


Tabel The 4 Roles of Leadership Stephen R. Covey
No
Role/Fungsi
Sifat dasar Pemimpin
Sebagian contoh dari Rasulullah saw.
1
Perintis (pathfinding)


Memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, rumusan visi, misi, & nilai yang dianut serta strategi agar sampai pada tujuan
Merintis suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan, rule of law, dsb.
2
Penyelaras (aligning)
Menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi agar mampu bekerja dan saling sinergis
Ketika para sahabat menolak perjanjian Hudaibiyah, beliau tetap bersikukuh. Terbukti pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik menguntungkan kaum Muslim.
3
Pemberdayaan (empowering)
Memahami sifat tugas yang diemban & mendelegasikan tanggung jawab. Siapa mengerjakan apa; apa alasannya; bagaimana caranya; sumber daya apa saja yang diperlukan dan bagaimana akuntabilitasnya.

Dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri. Beliau mengangkat pejabat/hakim berdasarkan kompetensi dan good track record
4
Panutan (modeling)
Pemimpin dapat menjadi panutan dan bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya.

Beliau sangat dermawan sebelum mengatakan,”Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.”
Sumber: Muhammad saw., The Super Leader Super Manager, Syafii Antonio, hlm. 20

Di luar itu, masih banyak bukti-bukti kepemimpinan yang baik -sebagaimana yang dikemukakan oleh para guru kepemimpinan dan manajemen modern lainnya- terdapat pada diri Muhammad saw. Tentu saja kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. tidak harus menunggu pembenaran dari teori-teori kepemimpinan dan manajemen modern. Karena apa yang beliau contohkan telah terbukti berhasil.(oq)

Wikipedia

Hasil penelusuran

Pengikut